Powered By Blogger

Minggu, 17 Februari 2019


PADA MANUSIA-MANUSIA BERKULIT SAWO MATANG
Oleh: Er Kha
Lagi-lagi mereka datang
Menantang desir angin, menegah hujan
Terlingkup permadani hijau terbentang..
Harmoni hari berambigu, pada manusia berkulit sawo matang

Agraris negeri tersingkap
Dibalik peluh, pada mereka manusia berkulit sawo matang
Merajut asa dalam tiap detak tempo, terasa olehnya
Langkahnya gontai, menatap tajam

Tanyakan pada mereka…
Pada manusia-manusia berkulit sawo matang
Inikah negeriku?
Benar…
Balada zamin agraris dari ranah khatulistiwa
Warisan nyata negeri seribu wajah, Indonesia

Lagi, potret lintang khatulistiwa mengangkasa
Tanah yang subur, hijau pepohonan, katanya..
Beragam adat budaya, dari mereka bumiputra
Tanyakan pada mereka…
Pada manusia-manusia berkulit sawo matang
Inikah negeriku?

Diam…
Tak usah bertanya
Cukup…
Aku adalah penghuni negeri ini
Ranah pertiwi titisan Tuhan, menurutku
Akulah yang terbuang
Dalam sendi kehidupan agraria

Aku bangga…
Aku tak malu…
Benar, ini potret lintang khatulistiwa
Jangan tanyakan lagi..
Aku, manusia berkulit sawo matang..


PEREMPUAN PENGULUM SIRIH

Jemarinya lihai, merajut asa
Tersingkap harap, sesuap nasi nanti malam
Senyum terlambai, olehku
Untuknya, perempuan pengulum sirih

Lagi, tangan-tangannya menari
Netra pudar bukanlah alasan
Senja pada sepasang bola mata, memang demikian
Tak lagi muda, katanya

Cairan merah kental dari mulutnya, aroma tajam
Lusuh, bajunya kusam tak terawat
Kilau keperakan hampir menutup kepalanya
Namun, dia tetap disana
Menyusun rapi pilah-pilah nyiur, tatapan tajam

Dari negeri ribuan budaya, aku belajar
Menginspirasi, potret Indonesia yang tak terjamah
Menyesakkan pundi nurani, dibalik retorika pemimpin negeri
Pada sosok pekerja keras, terpenjara kemiskinan

Lihatlah dia, terlingkup asa bahagia
Tak ada masa depan, pikirnya
Tuk dirinya yang hanya selangkah kaki menuju kubur
Adalah dia, penapak rezeki hingga penghujung malam
Lihatlah dia, pada perempuan pengulum sirih...







BERANI JUJUR UNTUK POLITIK CERDAS BERINTEGRITAS

Latar Belakang
“Lebih baik jadi orang gagal yang jujur, daripada orang sukses tapi pembohong.” Ungkapan peribahasa tersebut sangat cocok dijadikan sebagai nilai-nilai dalam kehidupan. Jujur adalah salah satu sifat nurani manusia untuk mengatakan dan bertindak apa adanya, tanpa ada yang ditambah maupun dikurang. Kejujuran biasanya terekspresi melalui sikap, perilaku, kebiasaan, etos, karakter, gaya hidup, etika, dan moral.
Seorang pemimpin maupun aparatur negara adalah sosok yang sangat dipercaya oleh rakyatnya. Dengan amanah yang diembannya, diharapkan mereka menjadi seseorang yang mampu membawa perubahan untuk bangsa. Namun, bagaimana realitas yang ditemui di lapangan? Apakah amanah tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya? Atau hanya sebatas retorika belaka? Tergantung kejujuran jawabannya. Sebut saja kasus Gayus Tambunan, seorang tamatan diploma jurusan STAN ini yang bertindak tak jujur dengan menggelapkan pajak untuk kepentingan dirinya sendiri. Atau kasus Lutfi Hasan, mantan presiden PKS yang dengan suksesnya mengimpor sapi untuk Indonesia demi memuaskan nafsu pribadi. Ada apa dengan hukum di negeri ini?
Korupsi adalah salah satu bentuk ketidakjujuran oknum tertentu dengan memanfaatkan, mengambil, dan dengan sengaja mencuri sesuatu yang bukan haknya. Menyalahgunakan hingga penyelewengan dengan maksud untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan suatu kelompok tertentu semata-mata merupaka tindakan nyata dari korupsi. Korupsi, penyakit negara yang seyogyanya dibasmi hingga ke akar-akarnya demi kesejahteraan dan kemajuan negara hingga saat ini masih merajalela di negeri ini.
Saat ini, terdapat anggapan umum yang menyebar secara meluas di masyarakat tentang anggapan bahwa politik itu adalah dunia yang kotor, manipulatif, dan transaksional. Inilah fakta yang sering dijumpai di lapangan, dan memang begitulah realita yang ada. Hal ini bisa saja terjadi karena hari ini integritas adalah hal yang dunia langka dalam dunia perpolitikan negeri ini. Padahal, di manapun dan di masa apa pun, integritas telah diakui sebagai salah satu keutamaan dalam politik. Politik hanyalah bagian dari alat untuk dapat menghasilkan kebijakan yang memihak pada kepentingan rakyat. . Namun, arti penting politik sepertinya telah bergeser menjadi ajang menjadi nafkah berlebihan, euforia, dan untuk mencari kekuasaan. Bias dan pemandulan fungsi politik secara terus menerus telah menjadi patologi politik yang mengancam kehidupan demokrasi dan negara. Memang tak semua oknum yang menjadi pejabat negara memiliki tujuan yang sama. Bahkan ada yang dengan tulus serta bertanggungjawab menjalankan amanah rakyat yang diembannya. Tapi, tak sedikit pula yang menodai politik dengan ketidakjujuran yang disemat dalam menjalankan amanah rakyat. Seakan citra politik dirusak oleh oknum-oknum yang haus akan kekuasaan serta tak bertanggungjawab.
Apa yang dapat kita lakukan sebagai bagian dari elemen masyarakat? Sudah selayaknya kita bergerak, mengawali dari diri sendiri. Berdasarkan isu permasalahan diatas dan kasus-kasus ketidakjujuran dalam politik yang kerap kita jumpai, maka penulis menginisiasi untuk memberanikan diri berlaku jujur serta adanya hukuman mati bagi para elit politik yang tak jujur. Selama ini hukuman mati ditujukan hanya kepada pengguna narkoba yang merusak anak bangsa. Awali sejak di masa kanak-kanak, para generasi produktif yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Upaya pembelajaran hingga penerapan karakter di sekolah hingga membiasakan di lingkungan keluarga dapat dilakukan. Adanya pembelajaran di sekolah serta hukuman mati bagi para pelaku tindak kecurangan ini semoga menjadi sebuah solusi dalam meniminimalisir efek kecurangan di ranah politik di tanah air.

Rumusan Masalah
Bagaimana membangun pribadi jujur untuk mewujudkan politik cerdas berntegritas?
Pembahasan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan definisi “integritas” sebagai sebuah kesatuan dan keselarasan akan pikiran, sikap dan perilaku terhadap nilai-nilai tertentu dalam tingkat individu yang dilakukan dengan penuh komitmen secara konsisten. Nilai-nilai yang membangun sebuah integritas adalah kejujuran, keadilan, bertanggung jawab. Kejujuran dijalankan dalam bentuk mengutarakan sikap, pendapat pribadi/organisasi yang mengandung unsur kebenaran, kebaikan dan kegunaan, kesamaan antara ucapan, tulisan, perbuatan dengan fakta. Keadilan dijalankan dalam bentuk memenuhi hak orang lain, mematuhi kewajiban yang mengikat diri sendiri, tidak berpihak pada golongan atau kelompok tertentu, namun berpihak hanya pada kebenaran. Tanggung jawab dijalankan dalam bentuk teguh hingga terlaksananya tugas, tekun melaksanakan kewajiban hingga selesai, dan bersedia menerima konsekuensi dari apa yang dilakukan.
Sejak tahun 2012 hingga 2015, KPK berusaha untuk terus mengembangkan konsep integritas yang kemudian disosialisasikan dan ditanamkan dalam berbagai program pemberantasan korupsi. KPK berkeyakinan bahwa keutuhan nilai-nilai luhur dari sikap dan perilaku seseorang merupakan modal utama bagi keberhasilan pemberantasan korupsi di Indonesia. Pembangunan perlu diwujudkan di berbagai tingkatan mulai dari tingkat individu maupun tingkat organisasi dan juga di seluruh sektor, terlebih sektor politik. Membangun integritas di sektor politik menjadi begitu penting terutama jika dilihat dari perspektif pemberantasan korupsi (Portal Pengakuan Anti Korupsi, 2014). Hal ini tentu melibatkan kejujuran didalamnya.
Dwihantoro (2013) menjelaskan bahwa kejujuran bukanlah sebuah keutamaan moral yang berhenti setelah seseorang berhasil mencapainya. Kejujuran menuntut suatu usaha keras terus-menerus sepanjang waktu. Ketika hari ini kita jujur, tidak berarti kita menjadi manusia jujur karena atribut itu harus dibuktikan sepanjang waktu. Dalam politik, kejujuran sangat memerlukan keberanian. Suatu keberanian yang dilandasi kesadaran, proses berpolitik yang tak sehat tak hanya merusak proses demokrasi yang tengah dibangun. Tetapi, juga merusak tatanan dan sistem politik yang seharusnya dijunjung tinggi dan dipatuhi bersama. Artinya, secara kasat mata publik melihat, politik saat ini masih didominasi permainan-permainan tidak sehat yang melahirkan para politisi bermental tidak sehat. Sehingga, orientasi politiknya pun tidak sehat, sebatas memperkaya dan menguntungkan diri sendiri dan atau kelompoknya meski harus menempuh cara-cara yang tidak sehat.
Saat ini, terdapat anggapan umum yang menyebar secara meluas di masyarakat tentang anggapan bahwa politik itu adalah dunia yang kotor, manipulatif, dan transaksional. Inilah fakta yang sering dijumpai di lapangan, dan memang begitulah realita yang ada. Hal ini bisa saja terjadi karena hari ini integritas adalah hal yang dunia langka dalam dunia perpolitikan negeri ini. Padahal, di manapun dan di masa apa pun, integritas telah diakui sebagai salah satu keutamaan dalam politik. Politik hanyalah bagian dari alat untuk dapat menghasilkan kebijakan yang memihak pada kepentingan rakyat. . Namun, arti penting politik sepertinya telah bergeser menjadi ajang menjadi nafkah berlebihan, euforia, dan untuk mencari kekuasaan. Bias dan pemandulan fungsi politik secara terus menerus telah menjadi patologi politik yang mengancam kehidupan demokrasi dan negara. Memang tak semua oknum yang menjadi pejabat negara memiliki tujuan yang sama. Bahkan ada yang dengan tulus serta bertanggungjawab menjalankan amanah rakyat yang diembannya. Tapi, tak sedikit pula yang menodai politik dengan ketidakjujuran yang disemat dalam menjalankan amanah rakyat. Seakan citra politik dirusak oleh oknum-oknum yang haus akan kekuasaan serta tak bertanggungjawab. Lalu, bagaimana menimalisir tindak ketidakjujuran yang kerap terjadi di ruang lingkup politik?
Sekolah adalah tempat siswa memperoleh pembelajaran. Disanalah semua pengalaman diperoleh. Sekolah adalah tempat paling efektif untuk membentuk karakter, disamping di lingkungan keluarga. Karakter jujur, sebenarnya sudah diterapkan di lingkungan sekolah, seperti misalnya ketika diadakan ujian siswa dilarang mencontek. Namun, tak hanya sebatas itu saja. Adanya pemberlakuan karakter ini secara terus menerus tak hanya sebatas saat ujian kemungkinan akan menjadi kebiasaan tersendiri bagi siswa untuk berlaku jujur. Terkadang, butuh kesadaran individu untuk menanamkan karakter ‘berani jujur’ ini sendiri. Adanya ilmu dan pengetahuan akan bahaya berbohong yang dijelaskan oleh guru dirasa cukup perlu diberikan untuk menambah pemahaman siswa akan bahaya berbohong, serta ilmu agama yang juga diberikan secara kontinu. Adanya penerapan usaha ini diharapkan agar siswa menjadi enggan untuk berbohong. Segala bentuk penanaman karakter dimulai dari anak-anak di bangku sekolah, karena merekalah yang akan memimpin bangsa nantinya.
Kejujuran dalam berpolitik sangat penting sekali dalam upaya memperbaiki keadaan bangsa ini yang penuh dengan kepalsuan. Mulai dari persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme. Kejujuran ini tidak dapat terwujud tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Bukan saja menunggu anak-anak bangsa hingga kelak menjadi pemimpin negara, namun untuk saat ini juga dapat diterapkan usaha untuk meminimalisir segala bentuk tindak kekurangan di kalangan elit politik. Adanya hukuman mati terhadap siapa saja pelaku tindak kecurangan dan ketidakjujuran terhadap uang negara merupakan salah satu gagasan yang ditawarkan agar meminimalisir tidak kecurangan di negeri ini yang telah mendarah daging.
Kesimpulan
Sungguh celaka jika ternyata pemimpin yang berintegritas itu sulit ditemukan, dan sebaliknya yang banyak justru tipe sebaliknya yakni tipe hipocricy. Jika begitu, maka Indonesia sungguh-sungguh dalam ancaman bahaya. Bahaya yang mengancam ini bukan main-main. Karena pemimpin yang tidak jujur, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan akan cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Lembaga atau negara yang mengalami krisis integritas akan mengalami kemerosotan akibat proses pembusukan dari dalam unsur-unsur organisasi atau negara itu sendiri.
Terwujudnya politik yang berintegritas merupakan modal berharga demi terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik dan bebas dari korupsi. Sebaliknya, rendahnya integritas dalam berpolitik dapat membuat kekuasaan menjadi bumerang pembunuh karena melayani nafsu pribadi dan kelompoknya.
Pengetahuan dan kesadaran mengenai politik yang berintegritas adalah variabel yang paling perlu menjadi perhatian dan terus disosialisasikan secara masif, disebabkan masyarakat masih memiliki pemahaman yang rendah terhadap definisi integritas, politik uang, dan referensi dalam memilih calon pemimpin dan partai politik yang berintegritas. Masyarakat masih percaya dan ada harapan untuk menemukan figur calon pemimpin yang berintegritas, untuk itu diperlukan pula model dan mekanisme dalam memilih calon pemimpin dengan cara yang berintegritas.
Akhirnya, kejujuran dalam berpolitik sangat penting sekali dalam upaya memperbaiki keadaan bangsa ini yang penuh dengan kepalsuan. Mulai dari persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme. Kejujuran ini tidak dapat terwujud tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat justru sangat dibutuhkan untuk mengurangi tindak ketidakjujuran di kalangan elit politik yang kerap terjadi.
Rekomendasi
Pendidikan karakter ‘berani jujur’ sangat perlu dimasukkan sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah guna menanamkan karakter jujur dan berintegritas pada siswa sebagai generasi muda bangsa yang produktif. Serta adanya hukuman mati yang diterapkan secara tegas kepada para pelaku tindak ketidakjujuran diharapkan menjadi satu solusi untuk mengurangi elit-elit politik yang tak jujur menjalankan amanah rakyat yang telah diembannya.
Rujukan
Dwihantoro, P., 2013. Etika dan Kejujuran dalam Politik. Jurnal Politika, IV(2): 13-21
Portal Pengetahuan Anti Korupsi, 2014. Politik Berintegritas: Antara Politik dan Harapan, http://acch.kpk.go.id/tema/-/blogs/politik-berintegritas-antara-persepsidanharapan?p_p_auth=k7zJmMbz&_33_redirect=%2Fweb%2Fguest%2Fheadline%3Fp_p_id%3Drecentarticle_WAR_recentarticleportlet_INSTANCE_zgrtj0KR8yYK%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3Dcolumn1%26p_p_col_count%3D2 [23 Agustus 2016]
Syahputra, D.K., tanpa tahun. Refleksi Korupsi dan Integritas Politik, http://dedikurniasp.staff.telkomuniversity.ac.id/refleksi-korupsi-dan-integritas-politik/ [23 Agustus 2016]

DAKWAH ILMI UNTUK MAHASISWA, KAUM PEMUDA BERPERADABAN
“Beri aku seribu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ungkapan Soekarno ini sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya peran pemuda. Lagi-lagi pemuda. Pemuda selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, generasi penerus bangsa adalah pemuda. Pemuda adalah garda terdepan maju mundurnya suatu negara. Kelak mereka yang akan menakhodai negara ini untuk mewujudkan cita-cita bangsa.
Dewasa ini, begitu banyak permasalahan yang melibatkan pemuda. Di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara misalnya. Sudah cukup banyak kasus kenakalan remaja yang terjadi disana. Untuk kasus pemerkosaan, dilaporkan dari Detik News (2014), seorang remaja di Deli Serdang berani menyetubuhi ibu dan adik kandungnya. Bahkan, sejak tahun 2001, hubungan seks bebas sudah merajalela. Menurut Medan Bisnis (2013), hubungan seks bebas telah mendorong peningkatan penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Deliserdang yang terus meningkat sejak tahun 2001 yakni hanya satu kasus dan 2011 mencapai 151 penderita penyakit maut itu. Untuk kasus akses video porno, hasil penelitian dari Armiyati, dkk (2014) diperoleh bahwa di daerah Kabupaten Deli Serdang, tepatnya di Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa dari 114 responden, sebanyak 52 orang (46,6%) pernah menonton video porno. Dilaporkan dari Republika Nasional (2017), di daerah Sukabumi, Jawa Barat, Seorang pemuda akhirnya meninggal setelah dibakar rekannya sendiri akibat permasalahan utang piutang. Melihat kondisi tersebut, alangkah mirisnya moral pemuda di Indonesia. degradasi moral dan agama pemuda telah meruntuhkan jiwa patriotisme.
Permasalahan yang kerap terjadi di kalangan pemuda merupakan sebuah tantangan bagi pemuda. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya arus globalisasi. Globalisasi merupakan salah satu era modern yang ditandai dengan berkembang pesatnya teknologi, sehingga semakin membantu manusia dalam segala bidang. Belum lagi adanya transformasi budaya yang sudah barang tentu tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Realitas yang tidak dapat dipungkiri adalah, apa yang akan terjadi dengan pemuda jika hanya mengikuti perubahan zaman?
Sejatinya, globalisasi dapat berdampak positif dan negatif. Akibat negatif ini dapat melahirkan berbagai ancaman, dari ancaman yang paling kecil hingga paling besar yang berkaitan dengan negara. Adanya globalisasi dapat menyebabkan jiwa patriotisme bangsa semakin kokoh, atau bahkan semakin pudar hingga akhirnya hancur seiring waktu. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan pemuda? Apakah hanya menjadi penonton atau penggerak perubahan?
Selain ancaman akibat pengaruh globalisasi, ada juga ancaman terhadap kepribadian pemuda itu sendiri, ancaman bisa datang dari dalam maupun dari luar pemuda itu sendiri, bahkan tanpa disadari keberadaannya. Adapun jenis ancaman tersebut antara lain:
1.    Kemungkinan masuknya ideologi asing yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang akan menimbulkan pandangan yang berbeda terhadap keberadaan Pancasila dan UUD 1945
2.    Pengaruh pola pemikiran liberalisme dan kapitalisme yang didasari oleh kehidupan individualisme yang akan merusak semboyan hidup bekerjasama dan bergotong royong serta jiwa kekeluargaan yang menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia
3.    Menurunnya semangat patriotisme terhadap bangsa dan negara sehingga menjadikan sikap apatis terhadap pembangunan nasional.
Mahasiswa adalah pemuda yang sedang menuntut ilmu. Namun, sangat disayangkan jika masih ada mahasiswa yang cenderung apatis dan pasif terhadap kondisi sekitarnya. Integritas mahasiswa yang semakin merosot, hingga hampir semua paradigma yang dibangun sebagian besar mahasiswa sekarang ialah mencari nilai akademik yang tinggi atau sekedar “kuliah-pulang.” Yang lebih memprihatinkan lagi adalah harapan mahasiswa sebagai “agent of change” seakan telah luntur seiring perkembangan zaman. Tidak sedikit mahasiswa yang bersikap arogan dan tidak mempunyai pola pikir yang kritis. Padahal, banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa selaku pemuda.
Semua perihal yang berhubungan dengan hukum dan ketatanegaraan sudah dijelaskan dalam Islam. Islam juga menganjurkan agar manusia menjadi orang-orang yang benar-benar menegakkan kebenaran dan keadilan. Jiwa patriotisme kebangsaan harus dimiliki oleh pemuda. Secara religius, antara Islam dan jiwa patriotisme kebangsaan berjalan beriringan. Seseorang tak bisa dikatakan berjiwa patriotisme namun masih menghalalkan berbagai cara untuk membela bangsa dan negara, tanpa dilandasi dengan ajaran agama Islam. Menurut Maftuhah (2012), dalam konsep Islam terdapat jihad sebagai bentuk patriotisme yang berfungsi membela agama Islam secara universal, tanpa sekat teritorial. Konsep ini menempatkan agama Islam, bukan bangsa, sebagai prioritas pembelaan. Begitu pula dengan sistem pengaturan harta rampasan perang yang terdapat dasar hukumnya dalam fikih meniscayakan ketidakseimbangan antara patriotisme bangsa dengan patriotisme Islam (jihad). Kondisi ini membutuhkan pengajaran konsep jihad dalam sudut pandang fikih kontemporer. Keseimbangan terjadi tatkala konsep jihad ini dilihat dalam kerangka perlawanan terhadap kolonialisme sebagai bentuk ketidakadilan, perampasan tanah air, dan ancaman terhadap eksistensi keberagamaan (Islam). Dalam hal ini apabila patriotisme kebangsaan dinilai dari sudut pandang jihad, bukan sebaliknya, maka pembelaan terhadap nation-state Indonesia merupakan bagian dari jihad Islam.
Patriotisme pada dasarnya adalah sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan, atau “heroism” dan “patriotism” dalam bahasa Inggris (Salim, 2016). Patriotisme adalah semangat cinta tanah air atau sikap seseorang yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Menurut Bung Karno, patriot bangsa diidentikkan dengan pendekar/kampiun bangsa yang didalamnya terdapat Tri Sakti, yaitu: (1) berdaulat di bidang politik; (2) berdikari di bidang ekonomi; dan (3) berkepribadian budaya Indonesia. Jiwa patriotisme tidak cukup hanya diucapkan dan diketahui saja, namun perlu dilaksanakan.
Pada abad ke-20 (1990-1939 M), organisasi dengan semangat patriotisme kebangsaan telah hadir, diantaranya Djamiatoel Choir, Al Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjerikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdhatoel Oelama, Nahdhatoel Wathan, Persatoean Moeslimin Indonesia dan Persatoean Islam. Perjuangan rakyat Bali yang dipimpin oleh Patih Jelantik, Yogyakarta dan Jawa Tengah yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, Sumatera Barat yang dipimpin oleh Imam Bonjol, dan Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar merupakan salah satu contoh perjuangan rakyat Indonesia. Walau hanya dengan senjata yang sangat sederhana, karena perjuangan mereka dilandasi api semangat patriotisme dan nasionalisme yang menyala-nyal, mereka mampu berulangkali menghancurkan serdadu Belanda yang dilengkapi dengan senjata modern. Lalu, bagaimana membuktikan patriotisme kepada bangsa dan negara di ranah di kalangan mahasiswa sekarang ini?
Semangat patriotisme pemuda ini masih diperlukan kendati kemerdekaan Republik Indonesia telah memasuki usia yang ke 71 tahun. Namun, semangat patriotisme pemuda kini bukanlah harus bertempur di medan perang seperti pahlawan zaman dulu, Namun, banyak cara yang bisa dilakukan para mahasiswa untuk menunjukkan rasa patriotismenya, misalnya dengan mengisi kegiatan sehari-harinya dengan hal-hal yang positif dan berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat dan bangsa. Dakwah ilmi adalah saran yang ditawarkan untuk membuktikan jiwa patriotisme kebangsaan.
Dalam Surah Al-Ashr ayat 1-3 Allah swt. bersabda: “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” Dakwah berasal dari Bahasa Arab yang berarti menyampaikan atau menyiarkan, sedangkan ilmi berarti ilmu. Dakwah ilmi berarti menyampaikan ilmu. Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa Allah telah memerintahkan umatnya untuk saling menyampaikan ilmu (dakwah ilmi) dalam hal kebajikan.
Adanya dakwah ilmi atau organisasi keilmuan dalam ruang lingkup kampus ini merupakan salah satu cara untuk memantikkan semangat patriotisme kebangsaan di kalangan mahasiswa sebagai pemuda. Mahasiswa melakukan belajar, menulis, meneliti, maupun membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan keilmuan. Tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan kapasitas diri mereka, mengisi kegiatan pemuda dengan hal-hal positif,  serta memajukan bangsa dengan pengetahuan yang mereka punya. Dakwah ilmi inilah wadah untuk mencetak kaum pemuda intelektual, dengan menyelaraskan antara nilai-nilai Islam dan semangat patriotisme. Pemuda harus terus belajar meningkatkan kualitas dirinya, sehingga kelak dapat menjadi pemimpin yang baik, karena pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk jiwa patriotisme pemuda.
Pemuda yang anti patriotisme adalah mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, norma sosial dan agama serta yang dapat merugikan dirinya sendiri. Seperti mengkonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang, gemar minum minuman keras, pergaulan bebas dan sejenisnya adalah bentuk dari sikap anti patriotisme.
Secara tak langsung dakwah ilmi merupakan sarana untuk membela negara di bidang intelektual, ditengah-tengah persoalan pemuda. Sudah barang tentu globalisasi menjadi sebuah tantangan bagi pemuda untuk berjiwa patriotisme yang diiringi dengan nilai-nilai Islam. Alhasil, perspektif mahasiswa sebagai generasi muda bangsa harus dirubah. Bukan dengan hanya mengejar IPK tinggi atau sekedar “kuliah pulang”, namun mampu menjadi mahasiswa yang pro aktif dalam dakwah ilmi di lembaga keilmuan, menjadi mahasiswa sebagai kaum berperadaban. Apapun alasannya, dakwah ilmu merupakan sebuah bentuk penyampaiaan ilmu sesuai dengan anjuran Islam, sekaligus wadah untuk mencetak para mahasiswa berperadaban yang siap membela bangsa dengan kecerdasan intelektual. Semoga.

Referensi:
Aini, Nur. 2017. Pemuda Sukabumi Tewas Dibakar Temannya karena Masalah Utang. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/01/15/ojtfhn382-pemuda-sukabumi-tewas-dibakar-temannya-karena-masalah-utang. Diakses pada 28 Februari 2017  
Armiyati, D.W., Asfriyati, dan Arma, A., J.A. 2014. Pengaruh pola asuh orang tua dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja di desa bangun rejo kecamatan tanjung morawa kabupaten deli serdang tahun 2014. Jurnal Gizi, Kesehatan, Reproduksi, dan Epidemiologi, 1(3): 1-8
Detik News.com. 2014. Remaja di Deli Serdang Setubuhi Ibu dan Adik Kandung. http://news.detik.com/berita/2611585/remaja-di-deli-. Diakses pada 25 November 2016.
Maftuhah. 2012. Pendidikan politik kebangsaan dan politik Islam dalam kurikulum madrasah aliyah masa orde baru. Jurnal Miqot, XXXVI(2): 364-387
Medan Bisnis Daily,com. KPA: 99% Akibat Seks Bebas, HIV/AIDS Meningkat di Deli Serdang. http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/03/16/18170/kpa-99persen-akibat-seks-bebas/#.WA8dH_SpXIU. Diakses pada 25 Oktober 2016
Salim, A. 2016. Islam dan Patriotisme Kebangsaan. http://www.pelajarhariini.com/2016/12/islam-dan-patriotisme kebangsaan.html. Diakses pada 28 Februari 2017.


SENJA DI BROOKLYN BRIDGE
            Langit senja di kota New York tak pernah sepi. Walau cakrawala sudah mulai turun, hilir mudik kendaraan tetap saja ramai memadati sepanjang jalan kota. Sebagian penduduk kota lebih memilih berjalan kaki sepulang beraktifitas seharian sembari menikmati pemandangan salju. Ya, salah satu kota metropolitan di Amerika ini sedang berada di musim salju. Ruas jalan raya dan bangunan-bangunan tampak berselimut salju. Kelap-kelip cahaya lampu yang menerangi kota New York tersusun bak paduan gradasi warna yang semakin memarakkan sepasang mata yang memandang.
Aku merebahkan tubuhku di atas sofa. Mantel berbahan dasar kulit harimau yang baru saja kukenakan kulepas begitu saja diatas sofa yang berwarna keemasan itu. Aku berusaha memejamkan mata. Dingin yang mendera membuatku tak bisa menutup pelupuk mataku. Aku pun bangkit dan melangkah ke dapur. Secangkir kopi susu sudah siap. Aku bukanlah seorang pecinta kopi high class. Namun suasana dingin sore ini telah merangsang otot-otot indera perasaku untuk menikmati secangkir minuman panas. Kepulan asapnya mampu memanjakan penciuman sekaligus menghangatkan tubuh. Bukankah begitu?
Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah percakapan antara aku dan seorang sahabatku.
“Bagaimana bisa kita memiliki banyak kesamaan tanpa terduga?” ucapnya suatu pagi sambil memainkan jari-jarinya pada laptop hitam bermerek Apple miliknya.
“Bukankah memiliki banyak kesamaan itu bagus? Kita semakin dekat dan kompak,” jawabku santai.
Really?”
Yeah, alright. karena itu kita bersahabat kan,” jawabku tersenyum. Aku masih tetap serius menyalin catatan Biologi tanpa memerhatikan wajahnya. Farrel terlihat memandangku dan tertawa lepas. Memang benar kan. Kami punya banyak kesamaan. Sama-sama menyukai hujan. Sama-sama tidak menyukai rasa asam. Sama-sama menyukai hal-hal yang simpel. Sama-sama menyukai warna merah. Sama-sama keturunan indo. Aku mempunyai darah campuran Thailand dan Arab dari ayahku.  Sedangkan Farrel keturunan Perancis kendati darah Indonesia dari neneknya masih tetap melekat dalam dirinya.  Selain itu, kami juga sama-sama berprestasi di sekolah. Farrel termasuk siswa yang berprestasi. Juara satu selalu disabetnya dengan mudah. Sedangkan aku selalu meraih juara dua, di kelas yang sama dengannya. Maklum saja, sangat susah bersaing dengannya, si otak jenius penggila fisika dan matematika itu. Walaupun begitu, dia bukanlah seorang kutu buku dan pemakai kacamata hitam tebal seperti yang diyakini kebanyakan orang. Dia adalah sosok siswa yang selalu tampak cool dan keren. Meski demikian, aku tak pernah melihat aura keangkuhan disana. Perhatian dan keramahannya padaku, mungkin karena kesempurnaan itulah alasan awal tumbuh rasaku padanya.
***
 Aku melirik jam tanganku. Pukul 17.00. Namun Farrel tak kunjung datang. Aku mulai tak sabar. Kuaduk hot choco milk yang masih mengepul sambil menikmati pemandangan kota Jakarta lewat jendela restoran seafood khas Japanese ini. Seorang lelaki berjaket biru tampak berlari kearahku dengan terengah-engah. Kaos yang dikenakannya tampak basah oleh keringat yang bercucuran. Aku mendongak. Dengan ekspresi kesal, kulempar pandanganku ke luar jendela. Pura-pura tak mendengarkan. “I’m sorry Mey. Aku terlambat karena tadi harus ngantar mama ke rumah temannya,” jelasnya sambil merapat ke kursi di depanku. Aku masih bergeming. “Ayolah Mey. Come on. Jangan marah ya,” Farrel mencubit pipiku dan menebarkan senyum manisnya. Farrel berhasil meluluhkan hatiku.
“Mey, tahun ini kan tahun kelulusan, udah ada rencana belum masuk perguruan tinggi mana?”
“Belum. Masih bingung nih,” jawabku santai sambil memainkan garpu pada sepiring mie goreng seafood di depanku. “How about you?        
“Kalo aku sih….” Farrel menahan ucapannya.
“Apaan sih Rel??” tanyaku penasaran. Memandang wajah Farrel yang sedang serius.
“Aku dapat beasiswa di salah satu universitas terkenal di Perancis….,” ucapnya tersenyum sambil beranjak dari kursinya dan memelukku erat-erat.
What..??”
“Iya Mey. I’m serious. Akhirnya aku bisa tinggal bersama orangtuaku disana. Do you know Mey? I am very happy,” ucap Farrel bersemangat. Aku masih menatap Farrel. Melihat ekspresi bahagianya. Aku terdiam. Setengah tak percaya. Bukankah seharusnya aku senang melihat sahabatku yang telah sembilan tahun mengarungi suka duka bersama kini berbahagia karena cita-citanya untuk melanjutkan studi di Perancis menjadi kenyataan? Ah benar. Bagaimana bisa rasa itu kembali menganga setelah kusimpan rapat-rapat? Entahlah. Apakah mungkin aku takut kehilangan dia?
***
            Enam tahun yang lalu. Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Setelah itu, kami hanya berhubungan jarak jauh melalui e-mail dan telepon. Namun hal itu berlangsung hanya beberapa bulan di awal kami berpisah. Untuk selanjutnya, kami terlihat semakin jauh. Dia semakin jarang mengirimiku e-mail, SMS, atau sekedar menelepon. Begitu pula denganku.
Aku memutuskan untuk melanjutkan studi di New York dan memulai sebuah bisnis restoran disana. Ya, setelah lulus dengan predikat memuaskan di jurusan tata boga, aku yang hobi memasak tertarik untuk berbisnis kuliner sembari melanjutkan program magister disana. Kesibukanku berbisnis dan menempuh pendidikan S2 sepertinya membuat hubungan kami semakin renggang. Aku sadar ternyata memendam rasa suka pada seseorang yang amat dekat dengan kita selama bertahun-tahun tak membuat kita terbiasa. Justru rasa itu semakin dalam dan kian menyiksa. Semenjak saat itulah aku sengaja menyibukkan diri agar perlahan-lahan, waktu demi waktu, rasa cinta itu hilang dengan sendirinya. 
            Bagaimana dengan Farrel? Aku tak tahu bagaimana kondisinya saat ini. Terakhir kali dia mengirimiku e-mail dan mengatakan bahwa dia telah lulus program magisternya dengan nilai cumlaude di sebuah universitas ternama di Perancis.
***
            Perapian di ruang tengah apartemen ini masih tetap bersahaja dengan pancaran api berwarna jingga kemerahan yang menghangatkan ruangan. Gorden biru berenda abu-abu mewah yang kemarin baru saja kupasang terlihat diterpa angin walau daun jendela sudah kututup rapat-rapat. Koran yang kubaca tadi pagi ternyata benar tentang prediksi akan adanya badai salju hari ini. Untung saja aku cepat pulang.
Hari semakin gelap. Aku masih menyeruput kopi susu yang mulai dingin. Aku segera menjamah sebuah tablet putih yang tergeletak dalam tas yang sejak tadi kubawa.  Ini dia. Inbox e-mail ku hari ini. Degg! Tiga pesan masuk. “Ah, pasti client restoranku,” pikirku. Pesan dengan nama pengirim yang sama. SANG PENAKLUK AWAN.
From: Sang Penakluk Awan@xxxxxx
To: MemeySilviaLin@xxxxx
Hello my soulmate, IBU EMBER.
Masih ingat kan? Sorry Mey. Aku terlalu sibuk, so I don’t have time to send you  messages.  Oya Mey, aku punya berita kejutan nih. Do you know, aku akan segera menikah dengan seorang gadis asal Indonesia. Hanya saja dia meneruskan kuliah di perguruan tinggi yang sama denganku di Perancis. Aku telah lama mengenalnya. Dia sangat cantik Mey. J
 Mey, aku bermaksud mengundangmu ke pesta pernikahanku dua minggu lagi.  Nanti kukabari lagi ya. See you..
Aku terkejut. Deg..!! Jantungku berdegup keras. Ibu ember adalah panggilan akrabnya padaku karena aku yang terkenal cerewet.  “Bukankah ini Farrel?”
***
            Liburan musim semi membuat ruas jalan dan taman kota tampak begitu ramai. Anak-anak berkejaran kesana kemari. Teriakan mereka timbul tenggelam. Sementara di tepi jalan taman kota terlihat para pemilik anjing dan kucing yang sedang berjalan-jalan santai dengan celana pendek mereka yang hanya sebatas lutut. Barangkali mereka adalah pet walkers yang sedang menghabiskan musim panasnya dengan hewan peliharaan mereka. Sesekali tampak olehku para remaja yang sedang berolahraga jogging. Lengkap dengan kostum olahraga mereka. Ros-ros yang bermekaran tampak cantik di tengah-tengah taman kota. Panorama alamnya sangat indah walau dibatasi oleh gedung-gedung pencakar langit. Semua tampak jelas dari atas jembatan tersohor di kota ini, jembatan Brooklyn.
            Sudah sepuluh menit aku menunggu di tepi jembatan ini. Dia, Farrel, sosok yang sangat kurindukan selama bertahun-tahun tak juga datang. Aku hanya berharap ini adalah mimpi. Namun ternyata tidak. Menurutku tujuan Farrel menemuiku karena ingin memberiku surat undangan pernikahannya dan mengucapkan salam perpisahan sebelum dia menikah. Mungkin.
            “Sombong banget Mey, kemana aja gak ada kabar?” Suara yang tak asing dari balik handphone langsung merambat ke saraf pendengaranku.
            “Fa.. Farrel..??”
            “Iya ini aku Farrel. Ibu Ember ini sombong banget. Udah lupa sama sahabatnya sendiri. E-mail ku juga tidak dibalas,” cerocos Farrel.
            “He…he...he…, sorry Farrel, aku terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahku. Really, please believe me.” Aku tertawa kecil dan berusaha meyakinkan. Aku merasa bersalah karena telah berbohong padanya. Namun, itulah salah satu caraku agar bisa dengan cepat mengubur cintaku padanya. Dia yang telah kucintai bertahun-tahun.
            I’m so sorry Mey, aku juga terkadang sama sibuknya denganmu,” Farrel mulai berbicara pelan. Aku mengerti. “Dan oh ya, aku ingin bertemu denganmu di New York. Kebetulan aku juga hendak magang di sana selama tiga hari,”
            Itulah terakhir kali dia meneleponku. Dua hari yang lalu. Lima hari setelah aku membaca e-mail yang dikirimkannya padaku. Dan tepat disini, di atas Brooklyn Bridge seperti yang dia janjikan. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya hari ini.
            Tiga puluh menit telah berlalu. Sore perlahan turun berganti senja. Namun, tak kutemukan sosok dirinya disana. Aku mulai pasrah. “Ah, mungkin dia tak akan datang,” pikirku. Aku pun berniat pulang. Saat kubalikkan badanku, ternyata seorang laki-laki telah berdiri disitu. Ya, itu Farrel. Dengan bersetelan jas hitam, dia tampak gagah berdiri di hadapanku. Jantungku berdegup keras. Tanganku gemetar. Aku berusaha menguasai diri.
            “Lama tak bertemu Mey. Aku merindukanmu,” Farrel tersenyum manis menatapku. Tatapan matanya masih sama seperti dulu. Tatapan yang selalu membuatku merasa gugup. Aku membalas senyumannya. Tanganku semakin gemetar.
            “Bagaimana dengan rencana pernikahanmu minggu depan? Kamu benar-benar mengundangku kan? By the way, mana surat undangannya, aku sudah menunggumu dari tadi demi sebuah surat undangan pernikahan darimu,” celotehku sambil menyodorkan tanganku padanya. Berusaha menyembunyikan kegugupanku padanya. Farrel kembali tersenyum. Sama sekali tak menolak permintaanku. Ia lalu memberikanku sebuah surat undangan berwarna merah, sama seperti warna kesukaan kami. Kami pun berbincang cukup lama. Sambil menikmati Sang Raja Siang masuk ke peraduannya. Langit-langit merah sungguh terlihat indah jika dilihat dari atas jembatan besar ini.
            Sejenak kami mematung. “Mey,” Farrel memanggilku. Deg! Aku tertegun. Kedua tangannya berhasil mendekapku dari belakang. “Tolong jangan siksa dirimu. Please, jangan berkorban lebih banyak lagi untukku,” desahnya. Mendadak hatiku menjadi tak karuan. Kepalaku terasa pusing. Kerongkonganku serasa tercekik. Tak sepatah kata pun keluar dari sana. Kukira aku telah berhasil menghapus bayangannya dari benakku. Ternyata aku salah. Sekuat apapun aku menyangkalnya namun ternyata aku sadar bahwa aku belum benar-benar menguburnya dalam hatiku. Farrel mendekapku makin erat. “Maafkan aku Mey. Aku mencintaimu.”

The end