SENJA DI BROOKLYN BRIDGE
Langit senja di kota
New York tak pernah sepi. Walau cakrawala sudah mulai turun, hilir mudik kendaraan
tetap saja ramai memadati sepanjang jalan kota. Sebagian penduduk kota lebih
memilih berjalan kaki sepulang beraktifitas seharian sembari menikmati
pemandangan salju. Ya, salah satu kota metropolitan di Amerika ini sedang
berada di musim salju. Ruas jalan raya dan bangunan-bangunan tampak berselimut
salju. Kelap-kelip cahaya lampu yang menerangi kota New York tersusun bak paduan
gradasi warna yang semakin memarakkan sepasang mata yang memandang.
Aku merebahkan tubuhku di atas sofa. Mantel berbahan dasar kulit
harimau yang baru saja kukenakan kulepas begitu saja diatas sofa yang berwarna
keemasan itu. Aku berusaha memejamkan mata. Dingin yang mendera membuatku tak
bisa menutup pelupuk mataku. Aku pun bangkit dan melangkah ke dapur. Secangkir kopi
susu sudah siap. Aku bukanlah seorang pecinta kopi high class. Namun
suasana dingin sore ini telah merangsang otot-otot indera perasaku untuk menikmati
secangkir minuman panas. Kepulan asapnya mampu memanjakan penciuman sekaligus
menghangatkan tubuh. Bukankah begitu?
Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah percakapan antara aku dan seorang
sahabatku.
“Bagaimana bisa kita memiliki banyak kesamaan tanpa terduga?”
ucapnya suatu pagi sambil memainkan jari-jarinya pada laptop hitam bermerek Apple
miliknya.
“Bukankah memiliki banyak kesamaan itu bagus? Kita semakin dekat
dan kompak,” jawabku santai.
“Really?”
“Yeah, alright. karena itu kita bersahabat kan,”
jawabku tersenyum. Aku masih tetap serius menyalin catatan Biologi tanpa
memerhatikan wajahnya. Farrel terlihat memandangku dan tertawa lepas. Memang
benar kan. Kami punya banyak kesamaan. Sama-sama menyukai hujan. Sama-sama
tidak menyukai rasa asam. Sama-sama menyukai hal-hal yang simpel. Sama-sama
menyukai warna merah. Sama-sama keturunan indo. Aku mempunyai darah campuran
Thailand dan Arab dari ayahku. Sedangkan
Farrel keturunan Perancis kendati darah Indonesia dari neneknya masih tetap melekat
dalam dirinya. Selain itu, kami juga sama-sama
berprestasi di sekolah. Farrel termasuk siswa yang berprestasi. Juara satu
selalu disabetnya dengan mudah. Sedangkan aku selalu meraih juara dua, di kelas
yang sama dengannya. Maklum saja, sangat susah bersaing dengannya, si otak
jenius penggila fisika dan matematika itu. Walaupun begitu, dia bukanlah
seorang kutu buku dan pemakai kacamata hitam tebal seperti yang diyakini kebanyakan
orang. Dia adalah sosok siswa yang selalu tampak cool dan keren. Meski
demikian, aku tak pernah melihat aura keangkuhan disana. Perhatian dan
keramahannya padaku, mungkin karena kesempurnaan itulah alasan awal tumbuh
rasaku padanya.
***
Aku melirik jam tanganku.
Pukul 17.00. Namun Farrel tak kunjung datang. Aku mulai tak sabar. Kuaduk hot
choco milk yang masih mengepul sambil menikmati pemandangan kota Jakarta lewat
jendela restoran seafood khas Japanese ini. Seorang lelaki berjaket biru tampak
berlari kearahku dengan terengah-engah. Kaos yang dikenakannya tampak basah
oleh keringat yang bercucuran. Aku mendongak. Dengan ekspresi kesal, kulempar
pandanganku ke luar jendela. Pura-pura tak mendengarkan. “I’m sorry Mey.
Aku terlambat karena tadi harus ngantar mama ke rumah temannya,” jelasnya
sambil merapat ke kursi di depanku. Aku masih bergeming. “Ayolah Mey. Come
on. Jangan marah ya,” Farrel mencubit pipiku dan menebarkan senyum manisnya.
Farrel berhasil meluluhkan hatiku.
“Mey, tahun ini kan tahun kelulusan, udah ada rencana belum masuk
perguruan tinggi mana?”
“Belum. Masih bingung nih,” jawabku santai sambil memainkan garpu
pada sepiring mie goreng seafood di depanku. “How about you?”
“Kalo aku sih….” Farrel menahan ucapannya.
“Apaan sih Rel??” tanyaku penasaran. Memandang wajah Farrel yang
sedang serius.
“Aku dapat beasiswa di salah satu universitas terkenal di
Perancis….,” ucapnya tersenyum sambil beranjak dari kursinya dan memelukku
erat-erat.
“What..??”
“Iya Mey. I’m serious. Akhirnya aku bisa tinggal bersama
orangtuaku disana. Do you know Mey? I am very happy,” ucap Farrel
bersemangat. Aku masih menatap Farrel. Melihat ekspresi bahagianya. Aku
terdiam. Setengah tak percaya. Bukankah seharusnya aku senang melihat sahabatku
yang telah sembilan tahun mengarungi suka duka bersama kini berbahagia karena
cita-citanya untuk melanjutkan studi di Perancis menjadi kenyataan? Ah benar. Bagaimana
bisa rasa itu kembali menganga setelah kusimpan rapat-rapat? Entahlah. Apakah
mungkin aku takut kehilangan dia?
***
Enam tahun yang
lalu. Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Setelah itu, kami hanya berhubungan
jarak jauh melalui e-mail dan telepon. Namun hal itu berlangsung hanya
beberapa bulan di awal kami berpisah. Untuk selanjutnya, kami terlihat semakin
jauh. Dia semakin jarang mengirimiku e-mail, SMS, atau sekedar menelepon.
Begitu pula denganku.
Aku memutuskan untuk melanjutkan studi di New York dan memulai sebuah
bisnis restoran disana. Ya, setelah lulus dengan predikat memuaskan di jurusan
tata boga, aku yang hobi memasak tertarik untuk berbisnis kuliner sembari
melanjutkan program magister disana. Kesibukanku berbisnis dan menempuh
pendidikan S2 sepertinya membuat hubungan kami semakin renggang. Aku sadar
ternyata memendam rasa suka pada seseorang yang amat dekat dengan kita selama
bertahun-tahun tak membuat kita terbiasa. Justru rasa itu semakin dalam dan
kian menyiksa. Semenjak saat itulah aku sengaja menyibukkan diri agar
perlahan-lahan, waktu demi waktu, rasa cinta itu hilang dengan sendirinya.
Bagaimana dengan
Farrel? Aku tak tahu bagaimana kondisinya saat ini. Terakhir kali dia
mengirimiku e-mail dan mengatakan bahwa dia telah lulus program magisternya
dengan nilai cumlaude di sebuah universitas ternama di Perancis.
***
Perapian di ruang
tengah apartemen ini masih tetap bersahaja dengan pancaran api berwarna jingga
kemerahan yang menghangatkan ruangan. Gorden biru berenda abu-abu mewah yang
kemarin baru saja kupasang terlihat diterpa angin walau daun jendela sudah
kututup rapat-rapat. Koran yang kubaca tadi pagi ternyata benar tentang
prediksi akan adanya badai salju hari ini. Untung saja aku cepat pulang.
Hari semakin gelap. Aku masih menyeruput kopi susu yang mulai
dingin. Aku segera menjamah sebuah tablet putih yang tergeletak dalam tas yang
sejak tadi kubawa. Ini dia. Inbox
e-mail ku hari ini. Degg! Tiga pesan masuk. “Ah, pasti client
restoranku,” pikirku. Pesan dengan nama pengirim yang sama. SANG PENAKLUK AWAN.
From: Sang Penakluk Awan@xxxxxx
To: MemeySilviaLin@xxxxx
Hello my soulmate, IBU EMBER.
Masih ingat kan? Sorry Mey. Aku terlalu sibuk, so I don’t have time
to send you messages. Oya Mey, aku punya berita kejutan nih. Do you
know, aku akan segera menikah dengan seorang gadis asal Indonesia. Hanya saja
dia meneruskan kuliah di perguruan tinggi yang sama denganku di Perancis. Aku
telah lama mengenalnya. Dia sangat cantik Mey. J
Mey, aku bermaksud
mengundangmu ke pesta pernikahanku dua minggu lagi. Nanti kukabari lagi ya. See you..
Aku terkejut. Deg..!! Jantungku berdegup keras. Ibu ember adalah
panggilan akrabnya padaku karena aku yang terkenal cerewet. “Bukankah ini Farrel?”
***
Liburan musim semi
membuat ruas jalan dan taman kota tampak begitu ramai. Anak-anak berkejaran
kesana kemari. Teriakan mereka timbul tenggelam. Sementara di tepi jalan taman
kota terlihat para pemilik anjing dan kucing yang sedang berjalan-jalan santai
dengan celana pendek mereka yang hanya sebatas lutut. Barangkali mereka adalah pet
walkers yang sedang menghabiskan musim panasnya dengan hewan peliharaan
mereka. Sesekali tampak olehku para remaja yang sedang berolahraga jogging.
Lengkap dengan kostum olahraga mereka. Ros-ros yang bermekaran tampak cantik di
tengah-tengah taman kota. Panorama alamnya sangat indah walau dibatasi oleh
gedung-gedung pencakar langit. Semua tampak jelas dari atas jembatan tersohor
di kota ini, jembatan Brooklyn.
Sudah sepuluh
menit aku menunggu di tepi jembatan ini. Dia, Farrel, sosok yang sangat
kurindukan selama bertahun-tahun tak juga datang. Aku hanya berharap ini adalah
mimpi. Namun ternyata tidak. Menurutku tujuan Farrel menemuiku karena ingin
memberiku surat undangan pernikahannya dan mengucapkan salam perpisahan sebelum
dia menikah. Mungkin.
“Sombong banget
Mey, kemana aja gak ada kabar?” Suara yang tak asing dari balik handphone langsung
merambat ke saraf pendengaranku.
“Fa.. Farrel..??”
“Iya ini aku
Farrel. Ibu Ember ini sombong banget. Udah lupa sama sahabatnya sendiri. E-mail
ku juga tidak dibalas,” cerocos Farrel.
“He…he...he…, sorry
Farrel, aku terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahku. Really,
please believe me.” Aku tertawa kecil dan berusaha meyakinkan. Aku
merasa bersalah karena telah berbohong padanya. Namun, itulah salah satu caraku
agar bisa dengan cepat mengubur cintaku padanya. Dia yang telah kucintai
bertahun-tahun.
“I’m so sorry
Mey, aku juga terkadang sama sibuknya denganmu,” Farrel mulai berbicara pelan.
Aku mengerti. “Dan oh ya, aku ingin bertemu denganmu di New York. Kebetulan aku
juga hendak magang di sana selama tiga hari,”
Itulah terakhir
kali dia meneleponku. Dua hari yang lalu. Lima hari setelah aku membaca e-mail
yang dikirimkannya padaku. Dan tepat disini, di atas Brooklyn Bridge seperti
yang dia janjikan. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya hari ini.
Tiga puluh menit
telah berlalu. Sore perlahan turun berganti senja. Namun, tak kutemukan sosok
dirinya disana. Aku mulai pasrah. “Ah, mungkin dia tak akan datang,” pikirku.
Aku pun berniat pulang. Saat kubalikkan badanku, ternyata seorang laki-laki
telah berdiri disitu. Ya, itu Farrel. Dengan bersetelan jas hitam, dia tampak
gagah berdiri di hadapanku. Jantungku berdegup keras. Tanganku gemetar. Aku
berusaha menguasai diri.
“Lama tak bertemu
Mey. Aku merindukanmu,” Farrel tersenyum manis menatapku. Tatapan matanya masih
sama seperti dulu. Tatapan yang selalu membuatku merasa gugup. Aku membalas
senyumannya. Tanganku semakin gemetar.
“Bagaimana dengan
rencana pernikahanmu minggu depan? Kamu benar-benar mengundangku kan? By the
way, mana surat undangannya, aku sudah menunggumu dari tadi demi sebuah
surat undangan pernikahan darimu,” celotehku sambil menyodorkan tanganku
padanya. Berusaha menyembunyikan kegugupanku padanya. Farrel kembali tersenyum.
Sama sekali tak menolak permintaanku. Ia lalu memberikanku sebuah surat
undangan berwarna merah, sama seperti warna kesukaan kami. Kami pun berbincang
cukup lama. Sambil menikmati Sang Raja Siang masuk ke peraduannya.
Langit-langit merah sungguh terlihat indah jika dilihat dari atas jembatan
besar ini.
Sejenak kami
mematung. “Mey,” Farrel memanggilku. Deg! Aku tertegun. Kedua tangannya
berhasil mendekapku dari belakang. “Tolong jangan siksa dirimu. Please,
jangan berkorban lebih banyak lagi untukku,” desahnya. Mendadak hatiku menjadi
tak karuan. Kepalaku terasa pusing. Kerongkonganku serasa tercekik. Tak sepatah
kata pun keluar dari sana. Kukira aku telah berhasil menghapus bayangannya dari
benakku. Ternyata aku salah. Sekuat apapun aku menyangkalnya namun ternyata aku
sadar bahwa aku belum benar-benar menguburnya dalam hatiku. Farrel mendekapku
makin erat. “Maafkan aku Mey. Aku mencintaimu.”
The end