Powered By Blogger

Kamis, 31 Juli 2014

TAK PUDAR PESONA SENJA




            Aku menatap senja sore ini. Sama seperti kemarin. Cakrawala masih setia melukis senja berwarna jingga di ufuk barat. Dengan paduan gradasi warna yang begitu indah, menenteramkan sepasang mata setiap insan yang memandangnya. Awan berarak ceria mengantarkan sang mentari ke peraduan dan menjemput sang dewi malam. Burung-burung hilir mudik kembali ke sarang. Hanya pohon-pohon yang tetap berdiri dengan tegak. Kokoh melawan alur angin dan lika-liku kehidupan.  
            Kuseruput secangkir kopi yang nyaris dingin. Menikmati pemandangan senja di sebuah balai-balai beratap rumbia kecil depan rumah. Kuselonjorkan kaki dengan badan bersandar pada dinding balai-balai. Mataku terasa berat. Pemesanan yang cukup banyak hari ini membuatku kelelahan karena harus segera menyelesaikan semua kerajinan berupa anyaman tikar pesanan mereka.

***
            Seseorang membangunkanku. “Mas, ayo bangun. Tidak bagus tidur sore-sore. Pamalik lho mas.” Sayup-sayup  sebuah suara merasuk hingga ke saraf pendengaranku. Aku membuka mata perlahan. Seseorang wanita tepat duduk disampingku seraya menepuk lembut pundakku. Samar-samar wajahnya semakin jelas.
            “Iya Fat. Maaf mas ketiduran tadi. Hufft, sungguh melelahkan hari ini,”ujarku segera bangkit sembari meremas bahuku. Wanita itu tersenyum menatapku. Dia berkata, “Tidak baik mas mengeluh. Semua rezeki sudah diatur sama Allah. Tetap semangat ya mas,” ujar wanita itu seraya memapahku untuk berdiri. Sayup suara azan berkumandang. Kubuka kedua mataku. Ternyata hanya mimpi.
Malam kembali merayap. Samar-samar terdengar alunan kalam syahdu Illahi di sebuah pondok pengajian di seberang jalan. Alunan asma-Nya begitu merdu hingga mengalir ke dalam urat-urat nadi dan pembuluh darah. Mampu menggetarkan sanubari bagi siapa saja yang mendengarnya. Setelah selesai mengadu pada Zat Pemilik Semesta, aku  menenangkan diri lewat lantunan ayat penyejuk jiwa. Ya, kebiasaan ini selalu kulakukan setiap senja menjelang malam. Bersyukur atas semua nikmat dan karunia-Nya, setelah menyelesaikan kewajibanku sebagai hamba yakni menunaikan shalat Maghrib.
            Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Rumah yang terletak di pedesaan dan di pinggir sawah ini tampak semakin hening kala malam tiba. Rumah sederhana berdinding papan dan beratap rumbia ini adalah saksi bisu kisah perjalanan hidupku bersama orang yang kucintai. Rumah ini menyimpan berjuta kenangan yang takkan pudar dimakan waktu.
            “Pak, saya izin pulang. Makan malamnya sudah saya siapkan di meja makan,” suara Arsih mengagetkanku dari lamunan. Aku segera mengiyakan dan mengucapkan terimakasih padanya. Gadis itu telah lama membantuku mengurusi rumah tangga, semenjak wanita yang kucintai pergi ke dunia yang berbeda. Bagaimanapun, dia telah kuanggap seperti anakku sendiri.
            Langkahku tertatih. Penyakit diabetes ini semakin merajalela hingga menggerogoti sebelah kakiku. Kurogoh sebuah botol berisi obat dalam kantong plastik. Rumah tampak semakin sepi. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian malam. Malam semakin larut.

***
“Fat, maukah kau menikah denganku?” ucapku gugup. Kutunjukkan sebuah cincin emas padanya. Matanya berbinar. Tersenyum amat lebarnya. Tanpa ragu gadis itu mengangguk. Sumringah menatapku. Kami pun menikah. Menjalin hubungan sebagai sepasang suami istri. Akhirnya perjalanan kisah cintaku berlabuh pada seorang wanita yang sekarang menjadi pendamping hidupku, Fatma. Aku merasa bahagia saat itu. Kami telah berjanji akan selalu bersama hingga ajal menjemput. Kami membesarkan anak-anak kami dengan penuh kehangatan.
            Keluarga kami tergolong sederhana. Profesiku yang hanya sebagai tukang penganyam tikar memang tidak terlalu menguntungkan bagi keluargaku. Walaupun demikian, kami tetap tidak merasa kekurangan. Aku tetap bersyukur. Istriku, wanita yang telah menganugerahkanku tiga orang anak adalah hadiah paling membahagiakan dalam hidupku. Wanita yang selalu kucintai, memdampingiku dalam mengarungi bahtera rumah tangga baik suka dan duka.
            Waktu kian berlalu. Pendapatanku yang tidak terlalu mencukupi memaksaku untuk tetap bekerja keras menghidupi anak-anak kami tercinta. Aku memulai usaha menganyam tikar sudah cukup lama. Aku berdagang berkeliling, menitipkan pada toko-toko, agar dapat memperkenalkan buah tanganku demi menggapai sedikit penghasilan. Usahaku membuahkan hasil. Banyak orang-orang yang berdatangan ke rumah kami untuk memesan tikar anyamanku. Istriku juga turut membantu. Tiap malam dia selalu menemaniku membuat anyaman tikar, walau kutahu penat yang sangat jelas terpancar disana. “Kau benar-benar istri terbaik Fatma.”
Suatu malam di ruang keluarga. Jam menunujukkan pukul 21.00 WIB.       
“Fat, kau baik-baik saja?” tanyaku ketika melihat Fatma terbaring lemas dan pucat.
            “Tidak apa-apa mas, mungkin hanya sedikit kelelahan,” ujar Fatma berusaha tersenyum sembari menghidangkan secangkir kopi.
            “Bagaimana dengan usaha kita mas? Apakah banyak pesanan dalam bulan ini?” sambungnya.
            “Alhamdulillah Fat, akhir-akhir ini banyak yang memesan anyaman tikar kita,” ujarku semangat. Fatma tersenyum. Senang mendengar ucapanku. “Mas, tetap lakukan yang terbaik ya untuk putra-putri kita kelak. Aku selalu mendukungmu.” Aku memandang Fatma lekat-lekat. Tak percaya bahwa aku telah mendapatkan seorang istri yang begitu sempurna di mataku. Suara jangkrik bersahut-sahutan terdengar memekakkan telinga. Malam semakin larut. Hening. Aku mengangguk mengiyakan, mengecup kening istriku.
            Tiga puluh lima tahun telah berlalu. Kini aku telah mampu membangun sebuah rumah yang lebih besar untuk keluargaku. Kami tidak lagi kekurangan. Usaha kerajinan anyaman tikar yang telah lama kutekuni terbilang sukses hingga telah memiliki beberapa cabang di kota-kota besar. Namun, aku tidak terlalu banyak mengandalkan orang lain untuk membantu usahaku. Hanya sanak famili yang turut membantu dan tak lepas dari tanganku sendiri.
Disisi lain, kami semakin menua dimakan usia. Anak-anak kami pun telah tumbuh besar dan sudah menikah. Kini tinggal aku dan istri tercinta yang setia menemani kala usia renta datang menyapa. Fatma, wanita pendamping hidupku kini tak lagi sama. Guratan-guratan pembentuk kerutan telah menghiasi paras cantiknya. Badannya semakin kurus dan rambut beruban. Namun, bagiku dia tetap cantik seperti tiga puluh lima tahun yang lalu. Wanita itu tetap bugar merawatku, hingga penyakit Diabetes Mellitus bersarang dalam tubuh rentaku.

***
            “Mas,” panggil Fatma. Wanita itu tersenyum, datang mendekatiku. Suara debur ombak menghantam cadas terdengar jelas dan berirama. Fatma terlihat cantik dengan kebaya putih yang dikenakannya. Tak ada garis-garis kerutan di wajahnya. Badannya ramping, sungguh menawan dengan sanggul yang dipakainya. Aku masih menatapnya. Kaku. Aku yang pincang dan semakin renta kini berhadapan dengan seorang wanita muda. Ya, dia Fatma.
            “Kaukah itu Fatma?” aku terpaku menatapnya. Suara hantaman debur ombak semakin keras. Malam terasa dingin. Merasuk hingga tulang-tulang persendian. Fatma mengangguk. Kembali tersenyum.
            “Kau sangat muda Fat. Sungguh berbeda saat terakhir sebelum kita berpisah. Lihatlah aku. Aku malu padamu karena diriku yang sudah semakin renta.”
Fatma hanya tersenyum. Jemari lentiknya menggenggam erat tanganku, lalu berkata, “Jaga kesehatannya ya mas. Aku tak bisa menjagamu lagi. Aku harus pergi mas.”
            “Ta.., tapi…”
Aku terdiam. Berusaha menahan kepergian Fatma. Aku terus mencarinya. “Mengapa kau meninggalkanku?”
Tak ada jawaban.       
            “Ayah… ayah….”
Aku menangkap sebuah suara yang tak asing. Kubuka mataku perlahan. Samar-samar kulihat beberapa orang sedang mengerumuniku. Mereka menatapku cemas. Suara menggemaskan terdengar dari bocah-bocah kecil yang berdiri disampingku. Wajahnya begitu lugu dan ceria. Kuperhatikan mereka satu persatu. Ya, mereka anak-anak dan cucu-cucuku.
            “Ayah sudah sadar? Tadi malam ayah terjatuh saat sedang berusaha menyimpan kembali obat diabetes milik ayah,”
“Iya yah. Kepala ayah terluka karena terkena pecahan lantai semen yang retak. Untungnya Arsih yang belum sempat pulang menemukan ayah pingsan,”
Aku tersenyum mendengar penjelasan anak-anakku. Mereka sungguh khawatir terhadapku. “Ayah tidak apa-apa kok nak. Sekarang ayah sudah sehat. Iya kan cucu-cucu kakek?” ujarku sembari tersenyum. Berusaha menghibur mereka.
            Disisi lain, aku kembali memutar kaset rekaman masa silam. Tak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Fatma, wanita yang kucintai kini telah berada di dunia berbeda. Tiga bulan yang lalu Malaikat maut telah menjemputnya karena penyakit mag yang dideritanya. Penyakit yang telah lama dideritanya semenjak masih muda akhirnya kambuh kembali. Ya, semua mungkin disebabkan karena dirinya yang selalu membantuku, menemaniku, dan melayaniku. saat penyakit diabetes mulai menyerangku, hingga tak memikirkan kesehatannya. Aku menghela napas.
            Fatma, wanita yang paling kusayangi. Aku akan bertahan disini. Walau sekarang aku mampu membeli rumah yang lebih besar, namun aku takkan melakukan itu. Aku tidak akan menjual kenangan indah kita begitu saja. Biarlah rumah ini menjadi saksi kisah perjalanan lika-liku kehidupan kita. Aku takkan melupakanmu Fatma. Pesonamu tak akan pudar dalam memoriku. Guratan kerutan di wajahmu karena menua tak akan membuatku menjauh. Kau tetap ayu dan hatimu tetap bersinar bak mutiara di lautan. Pesonamu tak akan pudar walau senja menyapamu. Bagiku, kau akan tetap sama seperti tiga puluh lima tahun yang lalu. Aku tetap mencintaimu Fatma.
Aku memejamkan mata. Suasana mendadak berubah. Kini aku berada di suatu tempat yang asing. Di ujung sana, Fatma tersenyum menatapku. Menjemputku bersamanya.

Minggu, 01 Juni 2014

ijtihad cinta

Wahai diri…
Jika memang kaumencintainya karena Allah
Cintailah ia dengancara yang benar
Cintailah ia pada saatyang tepat
Cintailah ia dengansebenar-benarnya cinta…

Wahai diri…
Jika benar kau agungkancinta suci
Mampukah dirimu menjadipemuda Kahfi
Terasing demi ridhaIllahi
Mampukah dirimu menjadiprajurit Badar
Jadikan kekuranganmusebagai kekuatan terbesar

Ya Rabb…
Aku tak akan lagimemaksakan diri
Hanya untuk sebuahperasaan
Jika memang dia jiwayang Kau pilihkan
Berikanlah kami jalan
Jika memang dia takdiryang Kau tetapkan
Sampaikan rindukudengan cara-Mu
Jika memang dia yangKau siapkan untukku
Pantaskan Aku untukkudan pantaskan ia untukku
Ya Rabb…
Aku titipkan hati inipada-Mu
Berikanlah pada orangyang namanya tertulis di Lauh Mahfudz
Berikanlah pada orangyang melabuhkan cintanya pada-Mu
Berikanlah padanya,seseorang yang kupilih…

Ya Rabb…
Jika memang dia baikuntukku
Baik untuk agamaku
Satukanlah kami denganpita cinta-Mu
Jika dia memangpenyempurna agamaku
Pengisi sela-sela jariku
Hadiahkan hatikuuntuknya dan buatlah dia mencintaiku

Ya Rabb…
Jika ada pilihan dandiantaranya adalah dia
Pilihkan dia untukku
Jika ada sepuluhpilihan dan diantaranya adalah dia
Pilihkan dia untukku
Jika ada seratuspilihan dan diantaranya adalah dia
Pilihkan dia untukku
Dan jika hanya ada satupilihan namun tidak ada dia dalam pilihan itu
Maka aku akan lapangmenerima
Sebagai bentukpemberian terbesar-Mu

Karena Engkaulah YangMaha Tahu
Karena Engkaulah yangmenciptakanku
Karena Engkaulahpemilik takdirku
Karena Engkaulah yangmemelihara diriku
Aku tak akan memaksakanhatiku pada yang bukan takdirku
Karena yang benar-benarkucintai hanyalah Engkau, Ya Rabb…

Ya Rabb…
Aku yakin takdir-Mupasti
Aku yakin rencana-Musangat terukur
Aku yakin kehendak-Muyang terbaik
Aku yakin setiapketetapan-Mu tidak ada yang salah
Jika dia bukan jiwayang Kau pilihkan untukku
Akan ada jiwa lain yanglebih pantas untukku
Untuk bertahta dihatiku…

Wahai diri…
Tak usah khawatir jikadia bukan jiwa yang dipilihkan-Nya untukmu
Karena yang terbaikpasti akan terwujud
Hanya waktu yang akanmenjadi saksi kekuasaan-Nya
Tak usah memaksakanjika kau memang bukan untuk dirinya
Karena pasti dia bukanyang terbaik untukmu…

Wahai diri…
Biarkan pahat-Nya yangmengukir takdir
Biarkan kuas-Nya yangmelukis kisah manis
Biarkan tangan-Nya yangmeramu
Semoga dia memang benaruntukmu…

Sabtu, 31 Mei 2014

goresan pena inspirasi

Suatu Senja Kelabu di Langit Bumi Serambi Mekah


            Pagi tersenyum riang. Terik matahari di langit kota Banda Aceh mulai menampakkan dirinya tanpa malu-malu dengan ronanya yang merah. Ayam yang entah darimana asalnya berkokok bersahut-sahutan seolah sedang mengikuti kontes bernyanyi. Pagi ini memang cukup cerah. Di sudut sana, hiruk pikuk penduduk kota mulai memadati jalan, seolah sedang berpawai memenuhi sesaknya pundi-pundi udara yang ikut tercemar karena keegoan si logam berjalan.
              Masih di tempat yang sama, disana rumah kecil beratap rumbia berdiri dengan kokoh disudut keramaian kota. Rumah mungil sederhana dengan dindingnya yang mulai keropos dimakan usia. Ya, disinilah aku tinggal. Menghabiskan hari di rumah mungil dengan sejuta kenangan didalamnya.
Di sudut dapur, tampak ibu sedang memotong sayur bayam untuk persiapan menu makan siang. Wajahnya begitu serius dengan bibir yang berkomat-kamit mengucap zikir,  sembari menikmati helai demi helai daun bayam yang masih segar.
            “Udah mau berangkat ya yah?” tanyaku.
            “Iya nak. Hari ini ada pembagian rapor di sekolah ayah. Jadi ayah selaku wali kelas harus datang lebih cepat ke sekolah,” jelas seorang pria paruh baya sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Beliau adalah ayahku, kepala keluarga di rumah ini. Satu-satunya orang yang bertanggung jawab menghidupi kami berenam, aku, ibuku, dan keempat saudaraku.
            “Bunda, Tika berangkat dulu ya. Ti, nanti kalo bang Imam udah pulang, tolong bilangin bang Imam suruh jemput dek Mei ya. Hari ini kakak pulang terlambat karena lembur di apotik.”
“Iya kak,” jawabku sembari menata bekal Memei dalam tasnya.
            “Bunda, Memei berangkat dulu ya. Kak Siti, nanti kalo udah pulang kita main game lagi ya. Assalamu’alaikum,” ucap Memei sambil mencium tanganku dengan polos.
            “Wa’alaikum salam,” jawabku dan ibu bersamaan.
            Aku mencium tangan ayah dan kak Tika dengan takzim. Mereka pun berangkat. Dengan sepeda motor yang sudah sedikit usang, ayah berangkat melewati jalan setapak  menuju sebuah Sekolah Dasar di perkampungan kumuh di pinggir hiruk-pikuk kota Banda Aceh. Sedangkan kak Tika mengantar Memei menuju Taman Kanak-Kanak dengan mengendarai sepeda sebelum menuju ke apotik dimana dia bekerja.
Kegiatan seperti ini memang telah menjadi kebiasaan bagi keluargaku. Mengarungi kerasnya kehidupan di kota Banda Aceh tanpa sedikitpun menyurutkan langkah mereka. Inilah kota kelahiranku. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk aktifitas penduduknya.

***
 Jam dinding berdetak memecah kesunyian pagi yang menjelang siang. Ibu sedang berada di rumah tetangga mengantarkan baju yang telah disetrikanya tadi malam. Adik perempuanku yang paling kecil juga ikut dibawanya. Ibuku adalah seorang tukang cuci dan tukang setrika. Dengan upah yang tidak seberapa itu, beliau telah turut membantu menopang nafkah keluarga selain ayah dan kakak tertuaku.
Terik matahari terasa semakin panas saat kurebahkan tubuhku diatas dipan panjang didekat jendela kamar tamu. Tanpa kupinta peluh ini keluar hingga membasahi baju kaus biru yang kukenakan. Pandanganku menerawang pada langit-langit rumah. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah lukisan kecil yang tergantung di atas dinding. Lukisan yang telah sedikit kusam karena usianya yang tidak lagi muda. Namun, lukisan itu adalah satu-satunya potret kebahagiaanku saat pertama kali aku memenangkan lomba menari tingkat Nasional mewakili sekolahku di Jakarta. Ya, aku sangat ingat saat itu.
Rekaman lima tahun silam masih erat melekat dalam ingatanku. Pikiranku kian membuncah sangat teringat wajah ayah dan ibu yang berbalut haru memelukku bahagia. Saat itu, aku dan teman-temanku berhasil meraih juara pertama dalam lomba menari tari tradisional Saman dari tanah kelahiranku. Aku tersenyum kecil membayangkan kenangan itu. Tapi sekarang aku harus terbangun dari kenangan indah di masa silam. Kekurangan ini membuatku harus mengubur rapat-rapat mimpiku.
Peristiwa naas itu masih terasa, saat aku menjadi korban tabrak lari sepeda motor lima tahun yang lalu. Hingga meninggalkan bekas berupa pergeseran pada tulang belakang punggungku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sampai saat ini ayah belum mampu mengobatiku karena uang yang tidak mencukupi. Beliau hanya bisa memberiku obat-obatan alami yang harus kuminum kala rasa sakitku kambuh kembali. Aku mengerti bagaimana penderitaan ayah. Beliau harus menanggung biaya hidup kami dengan gaji yang diterimanya yang hampir tidak cukup bila dibandingkan dengan kebutuhan kami. Tak terasa, hembusan angin sepoi-sepoi membelai lembut rambutku. Seolah ikut merasakan apa yang sedang  kurasakan di tengah terik matahari yang membakar kulit.
Selang beberapa menit kemudian, pikiranku buyar karena  bunyi derit pintu depan yang terbuka. Bang Imam masuk sembari mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam bang,”
“Mana bunda Ti?” tanya bang Imam.
“Oh, bunda lagi ke rumah tetangga sebelah bang nganterin baju yang baru selesai disetrika. Gimana penelitian abang tadi malam di kampung sebelah?” tanyaku dengan sedikit penasaran.
“Mm, nanti malam abang harus survei lagi, Ti. Belum selesai soalnya. Tadi malam ada kasus pencurian sapi di kampung sebelah. Untuk saja malingnya berhasil di tangkap oleh warga yang sedang berjaga malam. Jadi karena heboh dengan kasus itu, terpaksa penelitian yang abang rencanakan bersama teman-teman abang di sawah dibatalkan,” jelas bang Imam panjang lebar seraya mengambil tempat  diatas kursi kayu di depan TV.
            Aku hanya mengangguk mengerti. Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar. Ternyata ibu dan dek Ina pulang. Ina adalah adik bungsuku yang baru berumur dua tahun. Aku pun segera mencim tangan ibu dan membantu membawa bungkusan pakaian kotor dari tetangga sebelah.
            “Kamu udah pulang Mam. Gimana tadi malam, berhasil bang?” tanya ibuku dengan sapaan sayangnya pada bang Imam.
            Bang Imam kemudian menjelaskan dengan jawaban yang sama. Tampak raut kecewa jelas terpancar di wajahnya. Bang Imam adalah kakakku yang kedua. Beliau sedang berada di bangku kuliah menempuh studi di bidang pertanian. Sekarang beliau sedang berjuang mendapatkan gelar sarjana dengan melakukan penelitian di sawah kampung sebelah. Beliau melakukan penelitian tentang hama tikus yang sedang melanda kampung tersebut. Oleh sebab itu penelitiannya harus dilakukan pada malam hari.
            “Oh iya bang, kata kak Tika abang disuruh jemput dek Mei. Kakak pulang terlambat hari ini.” Bang Imam pun langsung mengerti dan meminta pamit pada ibu.

***
Cakrawala di ufuk barat telah melukis senja indahnya, pertanda malam telah datang menjelma. Burung-burung hilir mudik kembali ke sarangnya. Hanya pohon-pohon yang tetap berdiri dengan tegak, kokoh melawan alur angin dan lika-liku kehidupan. Kini Sang Pemilik Malam bersinar dengan gagahnya, menyapa setiap insan dunia dengan ronanya yang cerah dan bulat sempurna. Samar-samar terdengar alunan kalam syahdu Illahi di sebuah balai pengajian di seberang jalan. Alunan asma-Nya begitu merdu hingga mengalir ke dalam urat-urat nadi dan pembuluh darah. Kalam Illahi yang merajut asa mampu menggetarkan sanubari bagi siapa saja yang mendengarnya.
Aku terpaku dalam kebisuan di sudut kamar. Memandang langit kelam yang begitu terasa kehangatannya. Seolah ada sebuah lukisan indah di atas sana. Ocehan adik-adikku yang bermain dengan riangnya menjadi tanpa arti bagiku yang larut dalam lukisan duniaku sendiri.
Di ruang keluarga, tampak ayah dan ibu sedang berbincang-bincang sementara kak Tika juga duduk disamping mereka mendengarkan. Bang Imam begitu tampak serius di depan meja belajarnya. Menyusun rencana untuk penelitian yang akan dilakukan sebentar lagi di kampung sebelah. Sementara itu, Memei dan Ina tampak begitu bersemangat bermain bersama. Sesekali ocehan Ina mampu membuat penghuni rumah tertawa karena tingkahnya yang lucu.
 “Gimana yah? Jadi Pak Mail beli tanah kita yang 10 hektar itu?”
“Sebenarnya jadi bunda. Tapi setelah ayah pikir kembali, sebaiknya kita tidak menjual tanah itu. Tanah itu adalah satu-satunya warisan yang kita punya untuk anak-anak kita kelak. Ayah tidak mau menjualnya sekarang. Biarkan tanah itu menjadi warisan untuk anak-anak kita. Ayah akan memikirkan cara lain untuk membayar hutang-hutang kita,” ujar ayah dengan nada pasrah.
Seketika keadaan menjadi hening. Adik-adikku yang sedari tadi mengoceh ikut terdiam menatap ayah.
“Apanya yang dijual yah? Memei gak mau mainan Memei dan dek Ina dijual,” lontar Memei dengan nada polos dan cemberut.
“Hehehe, enggak kok nak,” jawab ayah sambil tersenyum.
Aku mengerti bagaimana kondisi keluargaku. Aku hanya bisa pasrah menerima kekuranganku. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin melanjutkan studiku hingga jenjang perkuliahan. Namun aku harus membuang mimpiku itu karena kondisiku yang seperti ini ditambah biaya yang tidak mendukung. Ingin rasanya aku turut membantu meringankan beban keluargaku. Namun kondisi yang serba terbatas ini telah menyurutkan langkahku. Tanpa sadar tetes demi tetes butiran bening jatuh dari sepasang bola mataku. Aku pun terhanyut dalam keharuan yang telah lama kupendam.

***
            Malam telah merayap berganti pagi yang datang menyapa. Samar-samar kumandang azan Shubuh terdengar dari sebuah surau. Namun, suara jangkrik masih terdengar jelas di pagi buta ini, bak tak ingin malam beranjak pergi. Aku terbangun. Lalu bergegas menuju sumur untuk berwudhu, bersimpuh pada-Nya. Air yang begitu dingin hingga merasuk kedalam tulang tidak mampu menghentikanku untuk bersujud pada Sang Pemilik Alam Semesta. Di kamar sebelah, terdengar suara ibu melantunkan ayat suci Al-Quran dengan merdunya. Pertanda ibu telah lebih dulu terbangun menghadap Illahi.
            Waktu kian berlalu. Suara hiruk pikuk kendaraan yang hilir mudik sudah semakin terdengar. Pagi kembali datang. Namun pagi ini tidak secerah kemarin. Matahari seolah sedang malas menerangi insan di bumi, hingga langit yang kelabu tampak jelas di atas sana.
            Seperti biasa aku membantu ibu membereskan perlengkapan adikku ke sekolah sementara beliau sedang memasak. Di waktu yang bersamaan, Ayah dan kak Tika sedang bersiap-siap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Sedangkan bang Imam terlambat pulang karena penelitiannya yang harus tertunda kemarin malam. Di sudut kamar, tampak Ina masih tertidur pulas.
Setelah semua berangkat, keadaan rumah kembali hening. Hanya ada suara detak jam dinding dan meongan kucing yang mengincar ikan yang sedang dibersihkan oleh ibu. Aku sedang membantu ibu memasak kuah lemak, masakan khas Aceh kesukaan keluargaku. Aku pun membuka pembicaraanku pada ibu.
“Bunda, bagaimana dengan hutang-hutang keluarga kita?” tanyaku dengan suara lirih.
Ibu tertegun dan menjawab, “tidak apa-apa nak. Ayahmu bukanlah orang yang suka menyerah. Pasti akan ada jalan untuk itu. Yang penting Siti tenang aja ya,” ujar ibu meyakinkanku.
“Bunda, jangan terlalu dipikirkan masalah kekurangan Siti. Siti gak papa kok bunda,” sahutku spontan dan berusaha tersenyum.
Siti sayang, kan sudah beberapa kali bunda bilang. Yang kita butuhkan tidak langsung datang begitu saja. Dia akan datang saat Allah telah menetapkannya. Makanya kita harus bersabar menjalankan itu dan tetap berpikir positif terhadap-Nya,” jelas ibuku dengan bijak.
Aku terdiam seribu bahasa. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa kulontarkan. Aku benar-benar takjub dengan jawaban ibu. Beliau begitu tegar dan mampu membawa suasana menjadi tenang dibalik kesabaran menghadapi masalah yang sedang melanda keluarganya.

***
            Senja mulai turun menggantikan siang yang kelabu. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru. Awan kelabu berarak ceria mengantarkan sang Raja Merah keperaduannya. Menumpahkan butiran hujan yang telah lama tersimpan di ujung sana. Burung-burung melintas cepat meghadang gerimis hujan yang menghalau.  Di dapur, ibu dan kak Tika sedang membuat pisang goreng untuk keluarga. Suasananya benar-benar mendukung dengan cuaca hujan berselimut dingin.
            Di teras depan rumah, ayah dan bang Imam sedang menyeruput teh jahe yang masih hangat. Aku duduk disamping ayah. Ikut mendengarkan pembicaraan mereka sembari memijat pundak ayah yang terlihat letih. Sementara Ina dan Memei sedang menonton TV sambil memakan pisang goreng buatan ibu dan kak Tika. Tak tampak kesedihan terpancar di mata mereka. Mereka tertawa dan bercanda dengan riang gembira.
            “Ti, minggu depan kita ke rumah sakit ya,” ajak ayah membuka pembicaraaan.
            “Untuk apa yah?” tanyaku heran.
            “Lho, kok untuk apa nak? Ayah kan udah janji mau bawa kamu ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi  tulang punggungmu,” jelas ayah sambil tersenyum.
            Aku terkejut. Sontak jemariku yang sedang meremas-remas pundak ayah bergetar dan berhenti memijat. Dadaku sesak. Seolah ada sesuatu yang menembus pembuluh darah dan urat-urat nadiku hingga aku terdiam tak berkutik. Kerongkonganku seperti tercekat hingga tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Aku pun memeluk ayah dengan seerat yang kubisa. Keharuan menyergap dalam batinku. Tak terasa airmata ini menetes bersamaan dengan butiran air hujan. Susana rumah menjadi haru. Ibu dan kak Tika yang sedari tadi berdiri di depan pintu ikut menitikkan airmata. Suatu senja kelabu yang telah menggurat sebuah kebahagiaan. Terima kasih ayah.