Suatu Senja Kelabu di Langit Bumi
Serambi Mekah
Pagi
tersenyum riang. Terik matahari di langit kota Banda Aceh mulai menampakkan
dirinya tanpa malu-malu dengan ronanya yang merah. Ayam yang entah darimana
asalnya berkokok bersahut-sahutan seolah sedang mengikuti kontes bernyanyi.
Pagi ini memang cukup cerah. Di sudut sana, hiruk pikuk penduduk kota mulai
memadati jalan, seolah sedang berpawai memenuhi sesaknya pundi-pundi udara yang
ikut tercemar karena keegoan si logam berjalan.
Masih di tempat yang sama, disana rumah kecil beratap rumbia berdiri
dengan kokoh disudut keramaian kota. Rumah mungil sederhana dengan dindingnya
yang mulai keropos dimakan usia. Ya, disinilah aku tinggal. Menghabiskan hari
di rumah mungil dengan sejuta kenangan didalamnya.
Di
sudut dapur, tampak ibu sedang memotong sayur bayam untuk persiapan menu makan
siang. Wajahnya begitu serius dengan bibir yang berkomat-kamit mengucap
zikir, sembari menikmati helai demi
helai daun bayam yang masih segar.
“Udah mau berangkat ya yah?” tanyaku.
“Iya nak. Hari ini ada pembagian
rapor di sekolah ayah. Jadi ayah selaku wali kelas harus datang lebih cepat ke
sekolah,” jelas seorang pria paruh baya sambil menyeruput kopi yang mulai
dingin. Beliau adalah ayahku, kepala keluarga di rumah ini. Satu-satunya orang
yang bertanggung jawab menghidupi kami berenam, aku, ibuku, dan keempat
saudaraku.
“Bunda, Tika berangkat dulu ya. Ti,
nanti kalo bang Imam udah pulang,
tolong bilangin bang Imam suruh jemput dek Mei ya. Hari ini kakak pulang terlambat karena lembur di
apotik.”
“Iya
kak,” jawabku sembari menata bekal Memei dalam tasnya.
“Bunda, Memei berangkat dulu ya. Kak
Siti, nanti kalo udah pulang kita main game lagi ya. Assalamu’alaikum,” ucap
Memei sambil mencium tanganku dengan polos.
“Wa’alaikum salam,” jawabku dan ibu
bersamaan.
Aku mencium tangan ayah dan kak Tika
dengan takzim. Mereka pun berangkat. Dengan sepeda motor yang sudah sedikit
usang, ayah berangkat melewati jalan setapak
menuju sebuah Sekolah Dasar di perkampungan kumuh di pinggir hiruk-pikuk
kota Banda Aceh. Sedangkan kak Tika mengantar Memei menuju Taman Kanak-Kanak
dengan mengendarai sepeda sebelum menuju ke apotik dimana dia bekerja.
Kegiatan
seperti ini memang telah menjadi kebiasaan bagi keluargaku. Mengarungi kerasnya
kehidupan di kota Banda Aceh tanpa sedikitpun menyurutkan langkah mereka.
Inilah kota kelahiranku. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk aktifitas
penduduknya.
***
Jam dinding berdetak memecah kesunyian pagi yang
menjelang siang. Ibu sedang berada di rumah tetangga mengantarkan baju yang telah
disetrikanya tadi malam. Adik perempuanku yang paling kecil juga ikut
dibawanya. Ibuku adalah seorang tukang cuci dan tukang setrika. Dengan upah yang
tidak seberapa itu, beliau telah turut membantu menopang nafkah keluarga selain
ayah dan kakak tertuaku.
Terik
matahari terasa semakin panas saat kurebahkan tubuhku diatas dipan panjang
didekat jendela kamar tamu. Tanpa kupinta peluh ini keluar hingga membasahi
baju kaus biru yang kukenakan. Pandanganku menerawang pada langit-langit rumah.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah lukisan kecil yang tergantung di atas
dinding. Lukisan yang telah sedikit kusam karena usianya yang tidak lagi muda.
Namun, lukisan itu adalah satu-satunya potret kebahagiaanku saat pertama kali
aku memenangkan lomba menari tingkat Nasional mewakili sekolahku di Jakarta.
Ya, aku sangat ingat saat itu.
Rekaman
lima tahun silam masih erat melekat dalam ingatanku. Pikiranku kian membuncah
sangat teringat wajah ayah dan ibu yang berbalut haru memelukku bahagia. Saat itu,
aku dan teman-temanku berhasil meraih juara pertama dalam lomba menari tari
tradisional Saman dari tanah
kelahiranku. Aku tersenyum kecil membayangkan kenangan itu. Tapi sekarang aku
harus terbangun dari kenangan indah di masa silam. Kekurangan ini membuatku
harus mengubur rapat-rapat mimpiku.
Peristiwa
naas itu masih terasa, saat aku menjadi korban tabrak lari sepeda motor lima
tahun yang lalu. Hingga meninggalkan bekas berupa pergeseran pada tulang
belakang punggungku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sampai saat ini ayah belum
mampu mengobatiku karena uang yang tidak mencukupi. Beliau hanya bisa memberiku
obat-obatan alami yang harus kuminum kala rasa sakitku kambuh kembali. Aku
mengerti bagaimana penderitaan ayah. Beliau harus menanggung biaya hidup kami
dengan gaji yang diterimanya yang hampir tidak cukup bila dibandingkan dengan
kebutuhan kami. Tak terasa, hembusan angin sepoi-sepoi membelai lembut
rambutku. Seolah ikut merasakan apa yang sedang
kurasakan di tengah terik matahari yang membakar kulit.
Selang
beberapa menit kemudian, pikiranku buyar karena
bunyi derit pintu depan yang terbuka. Bang Imam masuk sembari mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum
salam bang,”
“Mana
bunda Ti?” tanya bang Imam.
“Oh,
bunda lagi ke rumah tetangga sebelah bang nganterin
baju yang baru selesai disetrika. Gimana penelitian abang tadi malam di
kampung sebelah?” tanyaku dengan sedikit penasaran.
“Mm,
nanti malam abang harus survei lagi, Ti. Belum selesai soalnya. Tadi malam ada kasus
pencurian sapi di kampung sebelah. Untuk saja malingnya berhasil di tangkap
oleh warga yang sedang berjaga malam. Jadi karena heboh dengan kasus itu,
terpaksa penelitian yang abang rencanakan bersama teman-teman abang di sawah
dibatalkan,” jelas bang Imam panjang lebar seraya mengambil tempat diatas kursi kayu di depan TV.
Aku hanya mengangguk mengerti. Belum
sempat aku bertanya, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar. Ternyata ibu
dan dek Ina pulang. Ina adalah adik
bungsuku yang baru berumur dua tahun. Aku pun segera mencim tangan ibu dan
membantu membawa bungkusan pakaian kotor dari tetangga sebelah.
“Kamu udah pulang Mam. Gimana tadi
malam, berhasil bang?” tanya ibuku dengan sapaan sayangnya pada bang Imam.
Bang Imam kemudian menjelaskan
dengan jawaban yang sama. Tampak raut kecewa jelas terpancar di wajahnya. Bang
Imam adalah kakakku yang kedua. Beliau sedang berada di bangku kuliah menempuh
studi di bidang pertanian. Sekarang beliau sedang berjuang mendapatkan gelar
sarjana dengan melakukan penelitian di sawah kampung sebelah. Beliau melakukan
penelitian tentang hama tikus yang sedang melanda kampung tersebut. Oleh sebab
itu penelitiannya harus dilakukan pada malam hari.
“Oh iya bang, kata kak Tika abang
disuruh jemput dek Mei. Kakak pulang terlambat hari ini.” Bang Imam pun
langsung mengerti dan meminta pamit pada ibu.
***
Cakrawala
di ufuk barat telah melukis senja indahnya, pertanda malam telah datang
menjelma. Burung-burung hilir mudik kembali ke sarangnya. Hanya pohon-pohon
yang tetap berdiri dengan tegak, kokoh melawan alur angin dan lika-liku
kehidupan. Kini Sang Pemilik Malam bersinar dengan gagahnya, menyapa setiap
insan dunia dengan ronanya yang cerah dan bulat sempurna. Samar-samar terdengar
alunan kalam syahdu Illahi di sebuah balai
pengajian di seberang jalan. Alunan asma-Nya begitu merdu hingga mengalir
ke dalam urat-urat nadi dan pembuluh darah. Kalam Illahi yang merajut asa mampu
menggetarkan sanubari bagi siapa saja yang mendengarnya.
Aku
terpaku dalam kebisuan di sudut kamar. Memandang langit kelam yang begitu
terasa kehangatannya. Seolah ada sebuah lukisan indah di atas sana. Ocehan
adik-adikku yang bermain dengan riangnya menjadi tanpa arti bagiku yang larut
dalam lukisan duniaku sendiri.
Di
ruang keluarga, tampak ayah dan ibu sedang berbincang-bincang sementara kak
Tika juga duduk disamping mereka mendengarkan. Bang Imam begitu tampak serius
di depan meja belajarnya. Menyusun rencana untuk penelitian yang akan dilakukan
sebentar lagi di kampung sebelah. Sementara itu, Memei dan Ina tampak begitu
bersemangat bermain bersama. Sesekali ocehan Ina mampu membuat penghuni rumah
tertawa karena tingkahnya yang lucu.
“Gimana yah? Jadi Pak Mail beli tanah kita
yang 10 hektar itu?”
“Sebenarnya
jadi bunda. Tapi setelah ayah pikir kembali, sebaiknya kita tidak menjual tanah
itu. Tanah itu adalah satu-satunya warisan yang kita punya untuk anak-anak kita
kelak. Ayah tidak mau menjualnya sekarang. Biarkan tanah itu menjadi warisan
untuk anak-anak kita. Ayah akan memikirkan cara lain untuk membayar
hutang-hutang kita,” ujar ayah dengan nada pasrah.
Seketika
keadaan menjadi hening. Adik-adikku yang sedari tadi mengoceh ikut terdiam menatap
ayah.
“Apanya
yang dijual yah? Memei gak mau mainan Memei dan dek Ina dijual,” lontar Memei
dengan nada polos dan cemberut.
“Hehehe,
enggak kok nak,” jawab ayah sambil tersenyum.
Aku
mengerti bagaimana kondisi keluargaku. Aku hanya bisa pasrah menerima
kekuranganku. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin melanjutkan studiku
hingga jenjang perkuliahan. Namun aku harus membuang mimpiku itu karena
kondisiku yang seperti ini ditambah biaya yang tidak mendukung. Ingin rasanya
aku turut membantu meringankan beban keluargaku. Namun kondisi yang serba
terbatas ini telah menyurutkan langkahku. Tanpa sadar tetes demi tetes butiran
bening jatuh dari sepasang bola mataku. Aku pun terhanyut dalam keharuan yang
telah lama kupendam.
***
Malam telah merayap berganti pagi
yang datang menyapa. Samar-samar kumandang azan Shubuh terdengar dari sebuah
surau. Namun, suara jangkrik masih terdengar jelas di pagi buta ini, bak tak
ingin malam beranjak pergi. Aku terbangun. Lalu bergegas menuju sumur untuk
berwudhu, bersimpuh pada-Nya. Air yang begitu dingin hingga merasuk kedalam
tulang tidak mampu menghentikanku untuk bersujud pada Sang Pemilik Alam
Semesta. Di kamar sebelah, terdengar suara ibu melantunkan ayat suci Al-Quran
dengan merdunya. Pertanda ibu telah lebih dulu terbangun menghadap Illahi.
Waktu kian berlalu. Suara hiruk
pikuk kendaraan yang hilir mudik sudah semakin terdengar. Pagi kembali datang.
Namun pagi ini tidak secerah kemarin. Matahari seolah sedang malas menerangi
insan di bumi, hingga langit yang kelabu tampak jelas di atas sana.
Seperti biasa aku membantu ibu
membereskan perlengkapan adikku ke sekolah sementara beliau sedang memasak. Di
waktu yang bersamaan, Ayah dan kak Tika sedang bersiap-siap melakukan aktivitasnya
seperti biasa. Sedangkan bang Imam terlambat pulang karena penelitiannya yang
harus tertunda kemarin malam. Di sudut kamar, tampak Ina masih tertidur pulas.
Setelah
semua berangkat, keadaan rumah kembali hening. Hanya ada suara detak jam
dinding dan meongan kucing yang mengincar ikan yang sedang dibersihkan oleh
ibu. Aku sedang membantu ibu memasak kuah
lemak, masakan khas Aceh kesukaan keluargaku. Aku pun membuka pembicaraanku
pada ibu.
“Bunda,
bagaimana dengan hutang-hutang keluarga kita?” tanyaku dengan suara lirih.
Ibu
tertegun dan menjawab, “tidak apa-apa nak. Ayahmu bukanlah orang yang suka
menyerah. Pasti akan ada jalan untuk itu. Yang penting Siti tenang aja ya,” ujar ibu meyakinkanku.
“Bunda,
jangan terlalu dipikirkan masalah kekurangan Siti. Siti gak papa kok bunda,”
sahutku spontan dan berusaha tersenyum.
Siti
sayang, kan sudah beberapa kali bunda bilang.
Yang kita butuhkan tidak langsung datang begitu saja. Dia akan datang saat
Allah telah menetapkannya. Makanya kita harus bersabar menjalankan itu dan
tetap berpikir positif terhadap-Nya,” jelas ibuku dengan bijak.
Aku
terdiam seribu bahasa. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa kulontarkan. Aku
benar-benar takjub dengan jawaban ibu. Beliau begitu tegar dan mampu membawa
suasana menjadi tenang dibalik kesabaran menghadapi masalah yang sedang melanda
keluarganya.
***
Senja mulai turun menggantikan siang
yang kelabu. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru. Awan kelabu berarak
ceria mengantarkan sang Raja Merah keperaduannya. Menumpahkan butiran hujan
yang telah lama tersimpan di ujung sana. Burung-burung melintas cepat meghadang
gerimis hujan yang menghalau. Di dapur,
ibu dan kak Tika sedang membuat pisang goreng untuk keluarga. Suasananya
benar-benar mendukung dengan cuaca hujan berselimut dingin.
Di teras depan rumah, ayah dan bang
Imam sedang menyeruput teh jahe yang masih hangat. Aku duduk disamping ayah. Ikut
mendengarkan pembicaraan mereka sembari memijat pundak ayah yang terlihat
letih. Sementara Ina dan Memei sedang menonton TV sambil memakan pisang goreng
buatan ibu dan kak Tika. Tak tampak kesedihan terpancar di mata mereka. Mereka
tertawa dan bercanda dengan riang gembira.
“Ti, minggu depan kita ke rumah
sakit ya,” ajak ayah membuka pembicaraaan.
“Untuk apa yah?” tanyaku heran.
“Lho, kok untuk apa nak? Ayah kan
udah janji mau bawa kamu ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi tulang punggungmu,” jelas ayah sambil
tersenyum.
Aku terkejut. Sontak jemariku yang
sedang meremas-remas pundak ayah bergetar dan berhenti memijat. Dadaku sesak.
Seolah ada sesuatu yang menembus pembuluh darah dan urat-urat nadiku hingga aku
terdiam tak berkutik. Kerongkonganku seperti tercekat hingga tak ada sepatah
kata pun yang keluar dari mulutku. Aku pun memeluk ayah dengan seerat yang
kubisa. Keharuan menyergap dalam batinku. Tak terasa airmata ini menetes
bersamaan dengan butiran air hujan. Susana rumah menjadi haru. Ibu dan kak Tika
yang sedari tadi berdiri di depan pintu ikut menitikkan airmata. Suatu senja
kelabu yang telah menggurat sebuah kebahagiaan. Terima kasih ayah.

