Powered By Blogger

Minggu, 17 Februari 2019


DAKWAH ILMI UNTUK MAHASISWA, KAUM PEMUDA BERPERADABAN
“Beri aku seribu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ungkapan Soekarno ini sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya peran pemuda. Lagi-lagi pemuda. Pemuda selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, generasi penerus bangsa adalah pemuda. Pemuda adalah garda terdepan maju mundurnya suatu negara. Kelak mereka yang akan menakhodai negara ini untuk mewujudkan cita-cita bangsa.
Dewasa ini, begitu banyak permasalahan yang melibatkan pemuda. Di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara misalnya. Sudah cukup banyak kasus kenakalan remaja yang terjadi disana. Untuk kasus pemerkosaan, dilaporkan dari Detik News (2014), seorang remaja di Deli Serdang berani menyetubuhi ibu dan adik kandungnya. Bahkan, sejak tahun 2001, hubungan seks bebas sudah merajalela. Menurut Medan Bisnis (2013), hubungan seks bebas telah mendorong peningkatan penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Deliserdang yang terus meningkat sejak tahun 2001 yakni hanya satu kasus dan 2011 mencapai 151 penderita penyakit maut itu. Untuk kasus akses video porno, hasil penelitian dari Armiyati, dkk (2014) diperoleh bahwa di daerah Kabupaten Deli Serdang, tepatnya di Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa dari 114 responden, sebanyak 52 orang (46,6%) pernah menonton video porno. Dilaporkan dari Republika Nasional (2017), di daerah Sukabumi, Jawa Barat, Seorang pemuda akhirnya meninggal setelah dibakar rekannya sendiri akibat permasalahan utang piutang. Melihat kondisi tersebut, alangkah mirisnya moral pemuda di Indonesia. degradasi moral dan agama pemuda telah meruntuhkan jiwa patriotisme.
Permasalahan yang kerap terjadi di kalangan pemuda merupakan sebuah tantangan bagi pemuda. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya arus globalisasi. Globalisasi merupakan salah satu era modern yang ditandai dengan berkembang pesatnya teknologi, sehingga semakin membantu manusia dalam segala bidang. Belum lagi adanya transformasi budaya yang sudah barang tentu tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Realitas yang tidak dapat dipungkiri adalah, apa yang akan terjadi dengan pemuda jika hanya mengikuti perubahan zaman?
Sejatinya, globalisasi dapat berdampak positif dan negatif. Akibat negatif ini dapat melahirkan berbagai ancaman, dari ancaman yang paling kecil hingga paling besar yang berkaitan dengan negara. Adanya globalisasi dapat menyebabkan jiwa patriotisme bangsa semakin kokoh, atau bahkan semakin pudar hingga akhirnya hancur seiring waktu. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan pemuda? Apakah hanya menjadi penonton atau penggerak perubahan?
Selain ancaman akibat pengaruh globalisasi, ada juga ancaman terhadap kepribadian pemuda itu sendiri, ancaman bisa datang dari dalam maupun dari luar pemuda itu sendiri, bahkan tanpa disadari keberadaannya. Adapun jenis ancaman tersebut antara lain:
1.    Kemungkinan masuknya ideologi asing yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang akan menimbulkan pandangan yang berbeda terhadap keberadaan Pancasila dan UUD 1945
2.    Pengaruh pola pemikiran liberalisme dan kapitalisme yang didasari oleh kehidupan individualisme yang akan merusak semboyan hidup bekerjasama dan bergotong royong serta jiwa kekeluargaan yang menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia
3.    Menurunnya semangat patriotisme terhadap bangsa dan negara sehingga menjadikan sikap apatis terhadap pembangunan nasional.
Mahasiswa adalah pemuda yang sedang menuntut ilmu. Namun, sangat disayangkan jika masih ada mahasiswa yang cenderung apatis dan pasif terhadap kondisi sekitarnya. Integritas mahasiswa yang semakin merosot, hingga hampir semua paradigma yang dibangun sebagian besar mahasiswa sekarang ialah mencari nilai akademik yang tinggi atau sekedar “kuliah-pulang.” Yang lebih memprihatinkan lagi adalah harapan mahasiswa sebagai “agent of change” seakan telah luntur seiring perkembangan zaman. Tidak sedikit mahasiswa yang bersikap arogan dan tidak mempunyai pola pikir yang kritis. Padahal, banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa selaku pemuda.
Semua perihal yang berhubungan dengan hukum dan ketatanegaraan sudah dijelaskan dalam Islam. Islam juga menganjurkan agar manusia menjadi orang-orang yang benar-benar menegakkan kebenaran dan keadilan. Jiwa patriotisme kebangsaan harus dimiliki oleh pemuda. Secara religius, antara Islam dan jiwa patriotisme kebangsaan berjalan beriringan. Seseorang tak bisa dikatakan berjiwa patriotisme namun masih menghalalkan berbagai cara untuk membela bangsa dan negara, tanpa dilandasi dengan ajaran agama Islam. Menurut Maftuhah (2012), dalam konsep Islam terdapat jihad sebagai bentuk patriotisme yang berfungsi membela agama Islam secara universal, tanpa sekat teritorial. Konsep ini menempatkan agama Islam, bukan bangsa, sebagai prioritas pembelaan. Begitu pula dengan sistem pengaturan harta rampasan perang yang terdapat dasar hukumnya dalam fikih meniscayakan ketidakseimbangan antara patriotisme bangsa dengan patriotisme Islam (jihad). Kondisi ini membutuhkan pengajaran konsep jihad dalam sudut pandang fikih kontemporer. Keseimbangan terjadi tatkala konsep jihad ini dilihat dalam kerangka perlawanan terhadap kolonialisme sebagai bentuk ketidakadilan, perampasan tanah air, dan ancaman terhadap eksistensi keberagamaan (Islam). Dalam hal ini apabila patriotisme kebangsaan dinilai dari sudut pandang jihad, bukan sebaliknya, maka pembelaan terhadap nation-state Indonesia merupakan bagian dari jihad Islam.
Patriotisme pada dasarnya adalah sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan, atau “heroism” dan “patriotism” dalam bahasa Inggris (Salim, 2016). Patriotisme adalah semangat cinta tanah air atau sikap seseorang yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Menurut Bung Karno, patriot bangsa diidentikkan dengan pendekar/kampiun bangsa yang didalamnya terdapat Tri Sakti, yaitu: (1) berdaulat di bidang politik; (2) berdikari di bidang ekonomi; dan (3) berkepribadian budaya Indonesia. Jiwa patriotisme tidak cukup hanya diucapkan dan diketahui saja, namun perlu dilaksanakan.
Pada abad ke-20 (1990-1939 M), organisasi dengan semangat patriotisme kebangsaan telah hadir, diantaranya Djamiatoel Choir, Al Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjerikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdhatoel Oelama, Nahdhatoel Wathan, Persatoean Moeslimin Indonesia dan Persatoean Islam. Perjuangan rakyat Bali yang dipimpin oleh Patih Jelantik, Yogyakarta dan Jawa Tengah yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, Sumatera Barat yang dipimpin oleh Imam Bonjol, dan Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar merupakan salah satu contoh perjuangan rakyat Indonesia. Walau hanya dengan senjata yang sangat sederhana, karena perjuangan mereka dilandasi api semangat patriotisme dan nasionalisme yang menyala-nyal, mereka mampu berulangkali menghancurkan serdadu Belanda yang dilengkapi dengan senjata modern. Lalu, bagaimana membuktikan patriotisme kepada bangsa dan negara di ranah di kalangan mahasiswa sekarang ini?
Semangat patriotisme pemuda ini masih diperlukan kendati kemerdekaan Republik Indonesia telah memasuki usia yang ke 71 tahun. Namun, semangat patriotisme pemuda kini bukanlah harus bertempur di medan perang seperti pahlawan zaman dulu, Namun, banyak cara yang bisa dilakukan para mahasiswa untuk menunjukkan rasa patriotismenya, misalnya dengan mengisi kegiatan sehari-harinya dengan hal-hal yang positif dan berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat dan bangsa. Dakwah ilmi adalah saran yang ditawarkan untuk membuktikan jiwa patriotisme kebangsaan.
Dalam Surah Al-Ashr ayat 1-3 Allah swt. bersabda: “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” Dakwah berasal dari Bahasa Arab yang berarti menyampaikan atau menyiarkan, sedangkan ilmi berarti ilmu. Dakwah ilmi berarti menyampaikan ilmu. Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa Allah telah memerintahkan umatnya untuk saling menyampaikan ilmu (dakwah ilmi) dalam hal kebajikan.
Adanya dakwah ilmi atau organisasi keilmuan dalam ruang lingkup kampus ini merupakan salah satu cara untuk memantikkan semangat patriotisme kebangsaan di kalangan mahasiswa sebagai pemuda. Mahasiswa melakukan belajar, menulis, meneliti, maupun membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan keilmuan. Tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan kapasitas diri mereka, mengisi kegiatan pemuda dengan hal-hal positif,  serta memajukan bangsa dengan pengetahuan yang mereka punya. Dakwah ilmi inilah wadah untuk mencetak kaum pemuda intelektual, dengan menyelaraskan antara nilai-nilai Islam dan semangat patriotisme. Pemuda harus terus belajar meningkatkan kualitas dirinya, sehingga kelak dapat menjadi pemimpin yang baik, karena pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk jiwa patriotisme pemuda.
Pemuda yang anti patriotisme adalah mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, norma sosial dan agama serta yang dapat merugikan dirinya sendiri. Seperti mengkonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang, gemar minum minuman keras, pergaulan bebas dan sejenisnya adalah bentuk dari sikap anti patriotisme.
Secara tak langsung dakwah ilmi merupakan sarana untuk membela negara di bidang intelektual, ditengah-tengah persoalan pemuda. Sudah barang tentu globalisasi menjadi sebuah tantangan bagi pemuda untuk berjiwa patriotisme yang diiringi dengan nilai-nilai Islam. Alhasil, perspektif mahasiswa sebagai generasi muda bangsa harus dirubah. Bukan dengan hanya mengejar IPK tinggi atau sekedar “kuliah pulang”, namun mampu menjadi mahasiswa yang pro aktif dalam dakwah ilmi di lembaga keilmuan, menjadi mahasiswa sebagai kaum berperadaban. Apapun alasannya, dakwah ilmu merupakan sebuah bentuk penyampaiaan ilmu sesuai dengan anjuran Islam, sekaligus wadah untuk mencetak para mahasiswa berperadaban yang siap membela bangsa dengan kecerdasan intelektual. Semoga.

Referensi:
Aini, Nur. 2017. Pemuda Sukabumi Tewas Dibakar Temannya karena Masalah Utang. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/01/15/ojtfhn382-pemuda-sukabumi-tewas-dibakar-temannya-karena-masalah-utang. Diakses pada 28 Februari 2017  
Armiyati, D.W., Asfriyati, dan Arma, A., J.A. 2014. Pengaruh pola asuh orang tua dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja di desa bangun rejo kecamatan tanjung morawa kabupaten deli serdang tahun 2014. Jurnal Gizi, Kesehatan, Reproduksi, dan Epidemiologi, 1(3): 1-8
Detik News.com. 2014. Remaja di Deli Serdang Setubuhi Ibu dan Adik Kandung. http://news.detik.com/berita/2611585/remaja-di-deli-. Diakses pada 25 November 2016.
Maftuhah. 2012. Pendidikan politik kebangsaan dan politik Islam dalam kurikulum madrasah aliyah masa orde baru. Jurnal Miqot, XXXVI(2): 364-387
Medan Bisnis Daily,com. KPA: 99% Akibat Seks Bebas, HIV/AIDS Meningkat di Deli Serdang. http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/03/16/18170/kpa-99persen-akibat-seks-bebas/#.WA8dH_SpXIU. Diakses pada 25 Oktober 2016
Salim, A. 2016. Islam dan Patriotisme Kebangsaan. http://www.pelajarhariini.com/2016/12/islam-dan-patriotisme kebangsaan.html. Diakses pada 28 Februari 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar