DAKWAH ILMI UNTUK
MAHASISWA, KAUM PEMUDA BERPERADABAN
“Beri aku seribu pemuda, niscaya akan
kuguncangkan dunia.” Ungkapan Soekarno ini sudah cukup menggambarkan betapa
pentingnya peran pemuda. Lagi-lagi pemuda. Pemuda selalu menjadi topik menarik
untuk dibahas. Bagaimana tidak, generasi penerus bangsa adalah pemuda. Pemuda
adalah garda terdepan maju mundurnya suatu negara. Kelak
mereka yang akan menakhodai negara ini untuk mewujudkan cita-cita bangsa.
Dewasa ini, begitu banyak permasalahan
yang melibatkan pemuda. Di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara misalnya. Sudah
cukup banyak kasus kenakalan remaja yang terjadi disana. Untuk kasus
pemerkosaan, dilaporkan dari Detik News (2014), seorang remaja di Deli Serdang
berani menyetubuhi ibu dan adik kandungnya. Bahkan, sejak tahun 2001, hubungan
seks bebas sudah merajalela. Menurut Medan Bisnis (2013), hubungan seks bebas telah mendorong peningkatan penyakit HIV/AIDS
di Kabupaten Deliserdang yang terus meningkat sejak tahun 2001 yakni hanya satu
kasus dan 2011 mencapai 151 penderita penyakit maut itu. Untuk
kasus akses video porno, hasil penelitian dari Armiyati, dkk (2014) diperoleh
bahwa di daerah Kabupaten Deli Serdang, tepatnya di Desa Bangun Rejo Kecamatan
Tanjung Morawa dari 114 responden, sebanyak 52 orang (46,6%) pernah menonton video
porno. Dilaporkan dari Republika Nasional (2017), di daerah Sukabumi, Jawa Barat,
Seorang pemuda akhirnya
meninggal setelah dibakar rekannya sendiri akibat permasalahan utang piutang. Melihat kondisi tersebut, alangkah mirisnya moral pemuda di
Indonesia. degradasi moral dan agama pemuda telah meruntuhkan jiwa patriotisme.
Permasalahan yang kerap terjadi di
kalangan pemuda merupakan sebuah tantangan bagi pemuda. Ditambah lagi dengan
semakin berkembangnya arus globalisasi. Globalisasi merupakan salah satu era
modern yang ditandai dengan berkembang pesatnya teknologi, sehingga semakin membantu
manusia dalam segala bidang. Belum lagi adanya transformasi budaya yang sudah
barang tentu tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Realitas yang tidak dapat
dipungkiri adalah, apa yang akan terjadi dengan pemuda jika hanya mengikuti
perubahan zaman?
Sejatinya, globalisasi dapat berdampak
positif dan negatif. Akibat negatif ini dapat melahirkan berbagai ancaman, dari
ancaman yang paling kecil hingga paling besar yang berkaitan dengan negara.
Adanya globalisasi dapat menyebabkan jiwa patriotisme bangsa semakin kokoh,
atau bahkan semakin pudar hingga akhirnya hancur seiring waktu. Lalu, apa yang seharusnya
dilakukan pemuda? Apakah hanya menjadi penonton atau penggerak perubahan?
Selain ancaman akibat pengaruh
globalisasi, ada juga ancaman terhadap kepribadian pemuda itu sendiri, ancaman
bisa datang dari dalam maupun dari luar pemuda itu sendiri, bahkan tanpa
disadari keberadaannya. Adapun jenis ancaman tersebut antara lain:
1.
Kemungkinan masuknya ideologi asing yang bertentangan
dengan Pancasila dan UUD 1945 yang akan menimbulkan pandangan yang berbeda
terhadap keberadaan Pancasila dan UUD 1945
2.
Pengaruh pola pemikiran liberalisme dan kapitalisme yang
didasari oleh kehidupan individualisme yang akan merusak semboyan hidup
bekerjasama dan bergotong royong serta jiwa kekeluargaan yang menjadi ciri khas
dari bangsa Indonesia
3.
Menurunnya semangat patriotisme terhadap bangsa dan
negara sehingga menjadikan sikap apatis terhadap pembangunan nasional.
Mahasiswa adalah pemuda yang sedang
menuntut ilmu. Namun, sangat disayangkan jika masih ada mahasiswa
yang cenderung apatis dan pasif terhadap kondisi sekitarnya. Integritas
mahasiswa yang semakin merosot, hingga hampir semua paradigma yang
dibangun sebagian besar mahasiswa sekarang ialah mencari nilai akademik yang
tinggi atau sekedar “kuliah-pulang.” Yang lebih memprihatinkan lagi adalah
harapan mahasiswa sebagai “agent of change” seakan telah luntur seiring
perkembangan zaman. Tidak sedikit mahasiswa yang bersikap arogan dan tidak
mempunyai pola pikir yang kritis. Padahal, banyak hal yang bisa dilakukan
mahasiswa selaku pemuda.
Semua perihal yang berhubungan dengan
hukum dan ketatanegaraan sudah dijelaskan dalam Islam. Islam juga menganjurkan
agar manusia menjadi orang-orang yang benar-benar menegakkan kebenaran dan
keadilan. Jiwa patriotisme kebangsaan harus dimiliki oleh pemuda. Secara
religius, antara Islam dan jiwa patriotisme kebangsaan berjalan beriringan.
Seseorang tak bisa dikatakan berjiwa patriotisme namun masih menghalalkan
berbagai cara untuk membela bangsa dan negara, tanpa dilandasi dengan ajaran
agama Islam. Menurut Maftuhah (2012), dalam konsep
Islam terdapat jihad sebagai bentuk patriotisme yang berfungsi membela agama
Islam secara universal, tanpa sekat teritorial. Konsep ini menempatkan agama
Islam, bukan bangsa, sebagai prioritas pembelaan. Begitu pula dengan sistem
pengaturan harta rampasan perang yang terdapat dasar hukumnya dalam fikih
meniscayakan ketidakseimbangan antara patriotisme bangsa dengan patriotisme
Islam (jihad). Kondisi ini membutuhkan pengajaran konsep jihad dalam sudut
pandang fikih kontemporer. Keseimbangan terjadi tatkala konsep jihad ini
dilihat dalam kerangka perlawanan terhadap kolonialisme sebagai bentuk
ketidakadilan, perampasan tanah air, dan ancaman terhadap eksistensi
keberagamaan (Islam). Dalam hal ini apabila patriotisme kebangsaan dinilai dari
sudut pandang jihad, bukan sebaliknya, maka pembelaan terhadap nation-state Indonesia
merupakan bagian dari jihad Islam.
Patriotisme pada dasarnya adalah sikap yang berani,
pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Patriotisme berasal
dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa
pahlawan, atau “heroism” dan “patriotism” dalam bahasa Inggris (Salim,
2016). Patriotisme adalah semangat cinta tanah air atau sikap seseorang yang
sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.
Menurut Bung Karno, patriot bangsa diidentikkan dengan pendekar/kampiun bangsa
yang didalamnya terdapat Tri Sakti, yaitu: (1) berdaulat di bidang politik; (2)
berdikari di bidang ekonomi; dan (3) berkepribadian budaya Indonesia. Jiwa
patriotisme tidak cukup hanya diucapkan dan diketahui saja, namun perlu
dilaksanakan.
Pada abad ke-20 (1990-1939 M), organisasi dengan
semangat patriotisme kebangsaan telah hadir, diantaranya Djamiatoel Choir, Al
Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjerikatan Moehammadijah,
Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdhatoel Oelama, Nahdhatoel Wathan,
Persatoean Moeslimin Indonesia dan Persatoean Islam. Perjuangan rakyat Bali
yang dipimpin oleh Patih Jelantik, Yogyakarta dan Jawa Tengah yang dipimpin
oleh Pangeran Diponegoro, Sumatera Barat yang dipimpin oleh Imam Bonjol, dan
Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar merupakan salah satu contoh perjuangan
rakyat Indonesia. Walau hanya dengan senjata yang sangat sederhana, karena
perjuangan mereka dilandasi api semangat patriotisme dan nasionalisme yang
menyala-nyal, mereka mampu berulangkali menghancurkan serdadu Belanda yang
dilengkapi dengan senjata modern. Lalu, bagaimana membuktikan patriotisme
kepada bangsa dan negara di ranah di kalangan mahasiswa sekarang ini?
Semangat patriotisme pemuda ini masih diperlukan
kendati kemerdekaan Republik Indonesia telah memasuki usia yang ke 71 tahun. Namun,
semangat patriotisme pemuda kini bukanlah harus bertempur di medan perang
seperti pahlawan zaman dulu, Namun, banyak cara yang bisa dilakukan para mahasiswa
untuk menunjukkan rasa patriotismenya, misalnya dengan mengisi kegiatan
sehari-harinya dengan hal-hal yang positif dan berguna bagi dirinya sendiri,
masyarakat dan bangsa. Dakwah ilmi adalah saran yang ditawarkan untuk
membuktikan jiwa patriotisme kebangsaan.
Dalam Surah Al-Ashr ayat 1-3 Allah swt. bersabda: “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam
kerugian. Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta
saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” Dakwah berasal
dari Bahasa Arab yang berarti menyampaikan atau menyiarkan, sedangkan ilmi berarti ilmu. Dakwah ilmi berarti
menyampaikan ilmu. Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa Allah telah
memerintahkan umatnya untuk saling menyampaikan ilmu (dakwah ilmi) dalam hal
kebajikan.
Adanya dakwah ilmi atau
organisasi keilmuan dalam ruang lingkup kampus ini merupakan salah satu cara
untuk memantikkan semangat patriotisme kebangsaan di kalangan mahasiswa sebagai
pemuda. Mahasiswa melakukan belajar, menulis, meneliti, maupun membahas segala
sesuatu yang berhubungan dengan keilmuan. Tujuannya tak lain adalah untuk
meningkatkan kapasitas diri mereka, mengisi kegiatan pemuda dengan hal-hal
positif, serta memajukan bangsa dengan
pengetahuan yang mereka punya. Dakwah ilmi inilah wadah untuk mencetak kaum
pemuda intelektual, dengan menyelaraskan antara nilai-nilai Islam dan semangat
patriotisme. Pemuda harus
terus belajar meningkatkan kualitas dirinya, sehingga kelak dapat menjadi
pemimpin yang baik, karena pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk
jiwa patriotisme pemuda.
Pemuda yang anti patriotisme adalah mereka-mereka yang
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, norma sosial
dan agama serta yang dapat merugikan dirinya sendiri. Seperti mengkonsumsi
narkotika dan obat-obatan terlarang, gemar minum minuman keras, pergaulan bebas
dan sejenisnya adalah bentuk dari sikap anti patriotisme.
Secara tak langsung dakwah ilmi merupakan
sarana untuk membela negara di bidang intelektual, ditengah-tengah persoalan
pemuda. Sudah barang tentu globalisasi menjadi sebuah tantangan bagi pemuda
untuk berjiwa patriotisme yang diiringi dengan nilai-nilai Islam. Alhasil, perspektif mahasiswa
sebagai generasi muda bangsa harus dirubah. Bukan dengan hanya mengejar IPK
tinggi atau sekedar “kuliah pulang”, namun mampu menjadi mahasiswa yang pro
aktif dalam dakwah ilmi di lembaga
keilmuan, menjadi mahasiswa sebagai kaum berperadaban. Apapun alasannya, dakwah
ilmu merupakan sebuah bentuk penyampaiaan ilmu sesuai dengan anjuran Islam,
sekaligus wadah untuk mencetak para mahasiswa berperadaban yang siap membela
bangsa dengan kecerdasan intelektual. Semoga.
Referensi:
Aini, Nur. 2017. Pemuda Sukabumi Tewas
Dibakar Temannya karena Masalah Utang. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/01/15/ojtfhn382-pemuda-sukabumi-tewas-dibakar-temannya-karena-masalah-utang.
Diakses pada 28 Februari 2017
Armiyati, D.W., Asfriyati, dan Arma, A.,
J.A. 2014. Pengaruh pola asuh orang tua dan konformitas teman sebaya terhadap
perilaku seksual pada remaja di desa bangun rejo kecamatan tanjung morawa
kabupaten deli serdang tahun 2014. Jurnal
Gizi, Kesehatan, Reproduksi, dan Epidemiologi, 1(3): 1-8
Detik News.com. 2014. Remaja di Deli
Serdang Setubuhi Ibu dan Adik Kandung. http://news.detik.com/berita/2611585/remaja-di-deli-. Diakses pada 25 November 2016.
Maftuhah. 2012. Pendidikan politik
kebangsaan dan politik Islam dalam kurikulum madrasah aliyah masa orde baru. Jurnal Miqot, XXXVI(2): 364-387
Medan Bisnis Daily,com. KPA: 99% Akibat
Seks Bebas, HIV/AIDS Meningkat di Deli Serdang. http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/03/16/18170/kpa-99persen-akibat-seks-bebas/#.WA8dH_SpXIU.
Diakses pada 25
Oktober 2016
Salim, A. 2016. Islam dan Patriotisme
Kebangsaan. http://www.pelajarhariini.com/2016/12/islam-dan-patriotisme
kebangsaan.html. Diakses pada 28 Februari 2017.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar