Powered By Blogger

Minggu, 17 Februari 2019


SENJA DI BROOKLYN BRIDGE
            Langit senja di kota New York tak pernah sepi. Walau cakrawala sudah mulai turun, hilir mudik kendaraan tetap saja ramai memadati sepanjang jalan kota. Sebagian penduduk kota lebih memilih berjalan kaki sepulang beraktifitas seharian sembari menikmati pemandangan salju. Ya, salah satu kota metropolitan di Amerika ini sedang berada di musim salju. Ruas jalan raya dan bangunan-bangunan tampak berselimut salju. Kelap-kelip cahaya lampu yang menerangi kota New York tersusun bak paduan gradasi warna yang semakin memarakkan sepasang mata yang memandang.
Aku merebahkan tubuhku di atas sofa. Mantel berbahan dasar kulit harimau yang baru saja kukenakan kulepas begitu saja diatas sofa yang berwarna keemasan itu. Aku berusaha memejamkan mata. Dingin yang mendera membuatku tak bisa menutup pelupuk mataku. Aku pun bangkit dan melangkah ke dapur. Secangkir kopi susu sudah siap. Aku bukanlah seorang pecinta kopi high class. Namun suasana dingin sore ini telah merangsang otot-otot indera perasaku untuk menikmati secangkir minuman panas. Kepulan asapnya mampu memanjakan penciuman sekaligus menghangatkan tubuh. Bukankah begitu?
Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah percakapan antara aku dan seorang sahabatku.
“Bagaimana bisa kita memiliki banyak kesamaan tanpa terduga?” ucapnya suatu pagi sambil memainkan jari-jarinya pada laptop hitam bermerek Apple miliknya.
“Bukankah memiliki banyak kesamaan itu bagus? Kita semakin dekat dan kompak,” jawabku santai.
Really?”
Yeah, alright. karena itu kita bersahabat kan,” jawabku tersenyum. Aku masih tetap serius menyalin catatan Biologi tanpa memerhatikan wajahnya. Farrel terlihat memandangku dan tertawa lepas. Memang benar kan. Kami punya banyak kesamaan. Sama-sama menyukai hujan. Sama-sama tidak menyukai rasa asam. Sama-sama menyukai hal-hal yang simpel. Sama-sama menyukai warna merah. Sama-sama keturunan indo. Aku mempunyai darah campuran Thailand dan Arab dari ayahku.  Sedangkan Farrel keturunan Perancis kendati darah Indonesia dari neneknya masih tetap melekat dalam dirinya.  Selain itu, kami juga sama-sama berprestasi di sekolah. Farrel termasuk siswa yang berprestasi. Juara satu selalu disabetnya dengan mudah. Sedangkan aku selalu meraih juara dua, di kelas yang sama dengannya. Maklum saja, sangat susah bersaing dengannya, si otak jenius penggila fisika dan matematika itu. Walaupun begitu, dia bukanlah seorang kutu buku dan pemakai kacamata hitam tebal seperti yang diyakini kebanyakan orang. Dia adalah sosok siswa yang selalu tampak cool dan keren. Meski demikian, aku tak pernah melihat aura keangkuhan disana. Perhatian dan keramahannya padaku, mungkin karena kesempurnaan itulah alasan awal tumbuh rasaku padanya.
***
 Aku melirik jam tanganku. Pukul 17.00. Namun Farrel tak kunjung datang. Aku mulai tak sabar. Kuaduk hot choco milk yang masih mengepul sambil menikmati pemandangan kota Jakarta lewat jendela restoran seafood khas Japanese ini. Seorang lelaki berjaket biru tampak berlari kearahku dengan terengah-engah. Kaos yang dikenakannya tampak basah oleh keringat yang bercucuran. Aku mendongak. Dengan ekspresi kesal, kulempar pandanganku ke luar jendela. Pura-pura tak mendengarkan. “I’m sorry Mey. Aku terlambat karena tadi harus ngantar mama ke rumah temannya,” jelasnya sambil merapat ke kursi di depanku. Aku masih bergeming. “Ayolah Mey. Come on. Jangan marah ya,” Farrel mencubit pipiku dan menebarkan senyum manisnya. Farrel berhasil meluluhkan hatiku.
“Mey, tahun ini kan tahun kelulusan, udah ada rencana belum masuk perguruan tinggi mana?”
“Belum. Masih bingung nih,” jawabku santai sambil memainkan garpu pada sepiring mie goreng seafood di depanku. “How about you?        
“Kalo aku sih….” Farrel menahan ucapannya.
“Apaan sih Rel??” tanyaku penasaran. Memandang wajah Farrel yang sedang serius.
“Aku dapat beasiswa di salah satu universitas terkenal di Perancis….,” ucapnya tersenyum sambil beranjak dari kursinya dan memelukku erat-erat.
What..??”
“Iya Mey. I’m serious. Akhirnya aku bisa tinggal bersama orangtuaku disana. Do you know Mey? I am very happy,” ucap Farrel bersemangat. Aku masih menatap Farrel. Melihat ekspresi bahagianya. Aku terdiam. Setengah tak percaya. Bukankah seharusnya aku senang melihat sahabatku yang telah sembilan tahun mengarungi suka duka bersama kini berbahagia karena cita-citanya untuk melanjutkan studi di Perancis menjadi kenyataan? Ah benar. Bagaimana bisa rasa itu kembali menganga setelah kusimpan rapat-rapat? Entahlah. Apakah mungkin aku takut kehilangan dia?
***
            Enam tahun yang lalu. Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Setelah itu, kami hanya berhubungan jarak jauh melalui e-mail dan telepon. Namun hal itu berlangsung hanya beberapa bulan di awal kami berpisah. Untuk selanjutnya, kami terlihat semakin jauh. Dia semakin jarang mengirimiku e-mail, SMS, atau sekedar menelepon. Begitu pula denganku.
Aku memutuskan untuk melanjutkan studi di New York dan memulai sebuah bisnis restoran disana. Ya, setelah lulus dengan predikat memuaskan di jurusan tata boga, aku yang hobi memasak tertarik untuk berbisnis kuliner sembari melanjutkan program magister disana. Kesibukanku berbisnis dan menempuh pendidikan S2 sepertinya membuat hubungan kami semakin renggang. Aku sadar ternyata memendam rasa suka pada seseorang yang amat dekat dengan kita selama bertahun-tahun tak membuat kita terbiasa. Justru rasa itu semakin dalam dan kian menyiksa. Semenjak saat itulah aku sengaja menyibukkan diri agar perlahan-lahan, waktu demi waktu, rasa cinta itu hilang dengan sendirinya. 
            Bagaimana dengan Farrel? Aku tak tahu bagaimana kondisinya saat ini. Terakhir kali dia mengirimiku e-mail dan mengatakan bahwa dia telah lulus program magisternya dengan nilai cumlaude di sebuah universitas ternama di Perancis.
***
            Perapian di ruang tengah apartemen ini masih tetap bersahaja dengan pancaran api berwarna jingga kemerahan yang menghangatkan ruangan. Gorden biru berenda abu-abu mewah yang kemarin baru saja kupasang terlihat diterpa angin walau daun jendela sudah kututup rapat-rapat. Koran yang kubaca tadi pagi ternyata benar tentang prediksi akan adanya badai salju hari ini. Untung saja aku cepat pulang.
Hari semakin gelap. Aku masih menyeruput kopi susu yang mulai dingin. Aku segera menjamah sebuah tablet putih yang tergeletak dalam tas yang sejak tadi kubawa.  Ini dia. Inbox e-mail ku hari ini. Degg! Tiga pesan masuk. “Ah, pasti client restoranku,” pikirku. Pesan dengan nama pengirim yang sama. SANG PENAKLUK AWAN.
From: Sang Penakluk Awan@xxxxxx
To: MemeySilviaLin@xxxxx
Hello my soulmate, IBU EMBER.
Masih ingat kan? Sorry Mey. Aku terlalu sibuk, so I don’t have time to send you  messages.  Oya Mey, aku punya berita kejutan nih. Do you know, aku akan segera menikah dengan seorang gadis asal Indonesia. Hanya saja dia meneruskan kuliah di perguruan tinggi yang sama denganku di Perancis. Aku telah lama mengenalnya. Dia sangat cantik Mey. J
 Mey, aku bermaksud mengundangmu ke pesta pernikahanku dua minggu lagi.  Nanti kukabari lagi ya. See you..
Aku terkejut. Deg..!! Jantungku berdegup keras. Ibu ember adalah panggilan akrabnya padaku karena aku yang terkenal cerewet.  “Bukankah ini Farrel?”
***
            Liburan musim semi membuat ruas jalan dan taman kota tampak begitu ramai. Anak-anak berkejaran kesana kemari. Teriakan mereka timbul tenggelam. Sementara di tepi jalan taman kota terlihat para pemilik anjing dan kucing yang sedang berjalan-jalan santai dengan celana pendek mereka yang hanya sebatas lutut. Barangkali mereka adalah pet walkers yang sedang menghabiskan musim panasnya dengan hewan peliharaan mereka. Sesekali tampak olehku para remaja yang sedang berolahraga jogging. Lengkap dengan kostum olahraga mereka. Ros-ros yang bermekaran tampak cantik di tengah-tengah taman kota. Panorama alamnya sangat indah walau dibatasi oleh gedung-gedung pencakar langit. Semua tampak jelas dari atas jembatan tersohor di kota ini, jembatan Brooklyn.
            Sudah sepuluh menit aku menunggu di tepi jembatan ini. Dia, Farrel, sosok yang sangat kurindukan selama bertahun-tahun tak juga datang. Aku hanya berharap ini adalah mimpi. Namun ternyata tidak. Menurutku tujuan Farrel menemuiku karena ingin memberiku surat undangan pernikahannya dan mengucapkan salam perpisahan sebelum dia menikah. Mungkin.
            “Sombong banget Mey, kemana aja gak ada kabar?” Suara yang tak asing dari balik handphone langsung merambat ke saraf pendengaranku.
            “Fa.. Farrel..??”
            “Iya ini aku Farrel. Ibu Ember ini sombong banget. Udah lupa sama sahabatnya sendiri. E-mail ku juga tidak dibalas,” cerocos Farrel.
            “He…he...he…, sorry Farrel, aku terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahku. Really, please believe me.” Aku tertawa kecil dan berusaha meyakinkan. Aku merasa bersalah karena telah berbohong padanya. Namun, itulah salah satu caraku agar bisa dengan cepat mengubur cintaku padanya. Dia yang telah kucintai bertahun-tahun.
            I’m so sorry Mey, aku juga terkadang sama sibuknya denganmu,” Farrel mulai berbicara pelan. Aku mengerti. “Dan oh ya, aku ingin bertemu denganmu di New York. Kebetulan aku juga hendak magang di sana selama tiga hari,”
            Itulah terakhir kali dia meneleponku. Dua hari yang lalu. Lima hari setelah aku membaca e-mail yang dikirimkannya padaku. Dan tepat disini, di atas Brooklyn Bridge seperti yang dia janjikan. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya hari ini.
            Tiga puluh menit telah berlalu. Sore perlahan turun berganti senja. Namun, tak kutemukan sosok dirinya disana. Aku mulai pasrah. “Ah, mungkin dia tak akan datang,” pikirku. Aku pun berniat pulang. Saat kubalikkan badanku, ternyata seorang laki-laki telah berdiri disitu. Ya, itu Farrel. Dengan bersetelan jas hitam, dia tampak gagah berdiri di hadapanku. Jantungku berdegup keras. Tanganku gemetar. Aku berusaha menguasai diri.
            “Lama tak bertemu Mey. Aku merindukanmu,” Farrel tersenyum manis menatapku. Tatapan matanya masih sama seperti dulu. Tatapan yang selalu membuatku merasa gugup. Aku membalas senyumannya. Tanganku semakin gemetar.
            “Bagaimana dengan rencana pernikahanmu minggu depan? Kamu benar-benar mengundangku kan? By the way, mana surat undangannya, aku sudah menunggumu dari tadi demi sebuah surat undangan pernikahan darimu,” celotehku sambil menyodorkan tanganku padanya. Berusaha menyembunyikan kegugupanku padanya. Farrel kembali tersenyum. Sama sekali tak menolak permintaanku. Ia lalu memberikanku sebuah surat undangan berwarna merah, sama seperti warna kesukaan kami. Kami pun berbincang cukup lama. Sambil menikmati Sang Raja Siang masuk ke peraduannya. Langit-langit merah sungguh terlihat indah jika dilihat dari atas jembatan besar ini.
            Sejenak kami mematung. “Mey,” Farrel memanggilku. Deg! Aku tertegun. Kedua tangannya berhasil mendekapku dari belakang. “Tolong jangan siksa dirimu. Please, jangan berkorban lebih banyak lagi untukku,” desahnya. Mendadak hatiku menjadi tak karuan. Kepalaku terasa pusing. Kerongkonganku serasa tercekik. Tak sepatah kata pun keluar dari sana. Kukira aku telah berhasil menghapus bayangannya dari benakku. Ternyata aku salah. Sekuat apapun aku menyangkalnya namun ternyata aku sadar bahwa aku belum benar-benar menguburnya dalam hatiku. Farrel mendekapku makin erat. “Maafkan aku Mey. Aku mencintaimu.”

The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar