Powered By Blogger

Jumat, 29 Januari 2016

INI DIA, GURU “SUPER” YANG MENGINSPIRASI

Oleh : Merri Asiska

            Buku adalah jendela dunia. Buku adalah gudang ilmu.” Untaian kata-kata sarat makna ini sedikit banyak menekankan betapa pentingnya buku bagi setiap orang. Buku buku dan sekali buku. Terlintas pertanyaan, mengapa buku dianggap penting?
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku adalah lembar kertas berjilid, berisi tulisan atau kosong. Buku ada beberapa macam, ada buku teks, buku bergambar, bahkan buku elektronik.
Sekilas tentang buku teks, Tarigan (1986) menyatakan bahwa buku teks adalah  buku pelajaran dalam bidang studi tertentu, yang merupakan  buku standar, yang disusun oleh para pakar dalam bidang itu untuk maksud-maksud dan tujuan instruksional dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang sesuatu program pengajaran. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 menjelaskan bahwa buku teks adalah buku acuan  wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan  penguasaan  ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, serta potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.
            Adapun buku bergambar adalah buku yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang dapat mendukung isi teks secara keseluruhan. Ada banyak contoh buku bergambar seperti atlas, buku cerita anak-anak, komik, dan lain-lain.
            Buku adalah benda yang paling penting. Mengapa demikian? Ilmu jawabannya. Buku adalah gudang ilmu. Dalam buku tersedia berbagai ilmu yang tak kita ketahui sebelumnya. Buku menyediakan berbagai macam informasi yang dapat membuka wawasan kita tentang bebagai hal seperti ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Dengan bukulah kita bisa menjelajah dunia. Menjelajah dunia? Maksudnya? Arti menjelajah dunia bukan berarti kita harus mengelilingi dunia dari satu tempat ke tempat lain seperti yang pernah dilakukan oleh Christopher Columbus. Menjelajah dunia yang dimaksud adalah kita dapat memperoleh semua informasi yang terdapat di seluruh dunia tanpa harus ke tempat tersebut.
Buku juga merupakan jendela dunia. Bagaimana kita bisa mengetahui keadaan di luar jika kita menutup jendela? Kita harus membuka jendela untuk bisa melihat pemandangan yang berbeda dari dalam rumah bukan? Benar sekali, inilah yang dimaksud dengan membuka buku. Kuncinya hanya membuka buku. Dengan membuka buku berarti kita telah membuka dunia. Tak sekedar membuka, namun juga membaca. Dengan membaca kita bisa mengetahui apa isi dari buku tersebut. Dengan membaca buku secara tidak langsung kita telah membuka jendela, mengetahui lebih tentang dunia yang tak kita ketahui sebelumnya. Milan Kundera, salah satu penulis asal Ceko pernah berkata, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka, pastilah bangsa itu akan hancur dan musnah.” Inilah salah satu bukti betapa besarnya manfaat buku terhadap kemajuan peradaban suatu bangsa.
Manfaat buku akan terasa jika kita membaca. Manfaat membaca buku antara lain:
1.        Dapat menstimulasi mental
2.        Dapat mengurangi stres
3.        Menambah wawasan dan pengetahuan
4.        Menambah kosakata
5.        Meningkatkan kualitas memori
6.        Melatih keterampilan berpikir dan menganalisis
7.        Meningkatkan fokus dan konsentrasi
8.        Melatih untuk dapat menulis dengan baik
9.        Dapat memperluas pemikiran seseorang
10.    Dapat meningkatkan hubungan sosial
11.    Membantu mencegah penurunan fungsi kognitif
12.    Dapat meningkatkan empati seseorang
13.    Termotivasi untuk mencapai cita-cita
14.    Sebagai sarana menghibur
Info medis dari Lauren Gelman dan Jessica Cassity (2013) menyatakan bahwa ada 9 poin yang menyangkut manfaat membaca buku dengan kesehatan, antara lain:
1.        Memberi kekuatan bagi memori
Membaca memberikan jenis latihan yang berbeda bagi otak dibandingkan menonton TV atau mendengarkan radio. Baik ketika kita memahami halaman per halaman atau hanya sekedar memindai instruksi manual mesin pembuat kopi, bagian otak yang telah mengembangkan fungsi-fungsi lain (kemampuan imajinasi, bahasa dan pembelajaran asosiatif)  terhubung dalam sirkuit saraf tertentu untuk membaca. Ini merupakan hal yang sangat menantang, Ken Pugh, PhD, presiden dan direktur penelitian Haskins Laboratories kepada majalah Oprah mengatakan bahwa kebiasaan membaca memacu otak kita berpikir dan berkonsentrasi.
2.        Membuat latihan fisik bertahan lebih lama
Layaknya single terbaru Lady Gaga atau episode serial TV Real Housewives, buku juga teman yang baik untuk menemani kita saat latihan fisik. Menenggelamkan diri pada alur buku bisa membuat kita bertahan lebih lama di atas mesin latihan demi menyelesaikan bab yang begitu memikat. Hal itu diungkapkan majalah Weight Watchers. Michele Olson, PhD, profesor fisiologi olahraga di Auburn University yang mengatakan bahwa untuk mencegah timbulnya sakit pada leher atau bahu, pembaca harus menggunakan tempat menaruh buku di mesin dan berusaha tidak memutar bahu mereka selama latihan berlangsung.
3.        Menjaga keremajaan otak
Menurut studi terbaru dari Rush University Medical Cente, membenamkan diri dalam buku yang bagus benar-benar dapat memperpanjang umur pikiran kita. Orang dewasa yang menghabiskan waktu luang mereka dengan melakukan kegiatan kreatif atau intelektual (seperti membaca) memiliki kemungkinan 32 persen lebih lambat mengalami penurunan kognitif di kemudian hari daripada mereka yang tidak. Robert S. Wilson, PhD, profesor neuropsikologi di Rush University Medical Center mengatakan bahwa aktivitas yang melibatkan latihan otak membuat otak lebih efisien mengubah struktur untuk terus berfungsi dengan baik, terlepas dari hal-hal neuropatologi yang berkaitan dengan usia. Studi lain baru-baru ini juga menemukan bahwa manula yang secara teratur membaca atau bermain game yang menantang daya pikir, seperti catur atau puzzle, memiliki risiko dua setengah kali lebih rendah untuk terserang penyakit Alzheimer.
4.        Menghilangkan stress
Meringkuk saat membaca buku yang cukup bagus untuk menurunkan tingkat hormon stres yang tidak sehat, seperti kortisol. Pada sebuah penelitian di Inggris, peserta dilibatkan dalam kegiatan yang merangsang kecemasan, dan kemudian diberikan waktu selama beberapa menit untuk melakukan sejumlah aktivitas. Ada yang membaca, mendengarkan musik, atau bermain video game. Tingkat stres mereka yang melakukan aktivitas membaca turun 67 persen. Itu merupakan angka yang cukup signifikan dibandingkan dengan kelompok yang melakukan kegiatan selain membaca.
5.        Meningkatkan kosakata
Kita bisa menggunakan buku untuk memperluas perbendaharaan kata di kamus otak. Bahkan, para peneliti memperkirakan bahwa kita belajar sebanyak lima sampai 15 persen dari semua kata yang kita tahu melalui membaca. Hal itu sangat penting untuk anak-anak karena kosakata yang mereka miliki secara langsung dan dramatis berkaitan dengan buku yang mereka baca.
6.        Meningkatkan empati
Peneliti Universitas York mengatakan bahwa buku menghadirkan perspektif yang mengubah hidup kita. Menyelami kehidupan karakter memperkuat kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.
7.        Mendorong tujuan hidup
Menurut peneliti dari Ohio State University, membaca kisah seseorang yang berhasil mengatasi hambatan hidup dapat memotivasi kita untuk memenuhi tujuan. Jika Anda ingin kenaikan gaji, mengikuti  karakter di buku saat menghadap bos di kantor mungkin bisa memberi keberanian untuk membuat permintaan yang sama. Semakin banyak Anda mengidentifikasi karakter dan peristiwa menjadi seakan benar-benar sedang terjadi kepada Anda, semakin besar kemungkinan Anda melakukan aksi nyata.
8.        Membantu kita merasa lebih terhubung
Seorang psikolog dari University og Buffalo mengatakan bahwa ketika kita mengidentifikasi karakter dalam sebuah buku, kita mengalami semacam hubungan dengan kehidupan nyata yang dapat meningkatkan rasa inklusi.
Dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, akses buku kian mudah dengan tersedianya buku elektronik atau lebih dikenal e-book yang dapat diunduh secara gratis dengan koneksi internet. E-book, dengan tampilan menarik, lebih mudah diiperoleh dan diakses menjadikannya menjadi buku favorit bagi seluruh orang, bahkan di belahan dunia manapun. Saya misalnya. Bagi saya buku adalah sosok guru “super”. Guru? Tahukah anda apa alasan saya?
Berbicara tentang inspirasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia inspirasi merupakan ilham. Ilham adalah sesuatu yang menggerakkan hati untuk menciptakan. Inspirasi adalah akibat atau hasil dari proses pengembangan diri. Inspirasi adalah jawaban untuk semua pertanyaan. Inspirasi adalah ide yang menghasilkan sebuah karya. Inspirasi adalah akal untuk menyelesaikan setiap masalah. Inspirasi adalah ilham untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Guru, mungkin bagi sebagian orang mendefinisikan kata guru sebagai seseorang yang pekerjaannya mengajar, memiliki murid, dan ada interaksi antara guru dan murid sehingga proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar menjadi efektif. Namun, bukan itu maksud saya. Guru yang saya maksud adalah buku. Paparan diatas sudah cukup menjelaskan berbagai macam manfaat buku bagi setiap orang. Buku membuka wawasan setiap pembacanya. Buku menginspirasi dan memotivasi setiap orang. Dan bagi saya, buku adalah guru “super” yang menginspirasi. Guru yang memberi banyak manfaat. Guru yang secara tak langsung telah mengajarkan saya banyak hal. Alur pengajarannya yang sistematis lewat tulisan membuat saya lebih mudah memahami maksud yang disampaikan. Lalu, tahukah anda siapa guru yang saya banggakan itu?
Menggeluti dunia kepenulisan adalah pekerjaan yang sering habiskan selain mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Ada dua buku yang cukup menginspirasi pencapaian cita-cita saya. “Menjadi Jagoan Fiksi dalam Satu Hari,” karangan Brili Agung, penulis 6 buku, co-writer  7 buku artis, pengusaha, dan trainer, serta “Menjadi Penulis”, karangan Jasmadi. Kedua buku ini berbentuk e-book dan sama-sama mengulas tentang rahasia dan tips-tips yang memotivasi saya untuk terus menulis. Mungkin anda bertanya-tanya apa saja keistimewaan buku ini sehingga begitu menginspirasi saya. Penggunaan kata-katanya yang sederhana dan begitu menggugah menjadi satu-satunya alasan yang membuat saya tertarik dengan kedua buku ini.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang membedakan kedua buku tersebut? Jika e-book “Menjadi Jagoan Fiksi dalam Satu Hari” mengulas bagaimana caranya menjadi seorang penulis yang mampu membuat cerpen dalam satu jam, maka e-book “Menjadi Penulis” lebih memotivasi pembaca bagaimana menjadi seorang penulis. Secara logika, mungkinkah setiap orang dapat membuat cerpen dalam satu jam? Mungkin saja. E-book “Menjadi Jagoan Fiksi dalam Satu Hari” ini telah menjawab semuanya.
Dokumentasikan ilmu pengetahuna yang sedang dipelajari maupun yang telah dikuasai, keahlian dan keterampilan dan keterampilan yang dimiliki, pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain dalam bentuk buku. Siapa saja dapat menjadi penulis.” Ini adalah sebuah potongan kalimat yang saya kutip dari e-book “Menjadi Penulis.” Bagi saya, kedua buku ini telah cukup menginspirasi saya untuk tetap termotivasi dalam hal menulis. Menulis, menulis, dan terus menulis hingga inilah hasil tulisan saya. Ini dia, guru “super” saya yang menginspirasi. Bagaimana dengan anda?


***






MENYOROT PILKADA ACEH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT


            Siapa yang tak tahu pemilihan umum, ajang yang katanya “pesta demokrasi” di negeri ini. Ada yang memilih, ada yang dipilih, itulah konsep bakunya. Memilih, merupakan hal yang paling utama dari sebuah partisipasi dan sosialisasi politik terhadap masyarakat yang mengikuti prinsip demokrasi liberal.
            Konsep pemungutan suara dapat ditelusuri dalam sejarah dunia semenjak 508 SM di masa Yunani Kuno. Setiap tahun Yunani memiliki pemilihan yang bertujuan untuk pengasingan politisi selama lebih dari sepuluh tahun berdasarkan suara negatif terbanyak. Setiap laki-laki dan tuan tanah memberikan hak pilihnya, kemudian diletakkan didalam sebuah tempat untuk politisi mereka. Jika salah satu politisi mendapat suara lebih dari 600 orang yang memilihnya maka ia akan dikucilkan.
            Berbicara tentang demokrasi, indikator dari kemajuan sistem demokrasi pada suatu negara adalah diadakannya pemilihan umum. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Indonesia telah melakukan pemilihan umum sebanyak sebelas kali, yaitu yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955, kemudian yang kedua dilaksanakan pada tahun 1971, selanjutnya tahun 1977, tahun 1982, tahun 1987, tahun 1992, tahun 1997, tahun 1999, tahun 2004, tahun 2009, dan tahun 2014 lalu.
            Selama 32 tahun bangsa Indonesia mengalami stagnansi dalam kehidupan politik. Hal ini dapat dilihat dengan ketidakbebasan yang dialami oleh masyarakat terutama dalam proses pemiliham umum, dimana dalam setiap pemilihan umum rakyat sebagai pemegang kedaulatan tidak diberikan kesempatan untuk memilih siapa pemimpin mereka. Kondisi ini terjadi pada masa orde baru, dimana partisipasi politik warga negara terutama dalam hal menentukan pilihan dalam pemilihan umum sangat terbatas dan bahkan dibatasi. Lantas, apakah kondisi ini pernah terjadi kembali di luar orde baru?
Desas-Desus Pilkada di Aceh dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat
            Membahas Pilkada, kajian Undang-Undang Pemilu Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Pilkada menunjukkan bahwa pemerintah sangat berkeinginan dalam menciptakan negara demokrasi sebagai sebuah sistem yang dapat mengakomodir aspirasi masyarakat. Pilkada merupakan sebuah gambaran dari bentuk dan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan demokrasi di segala tingkatan pemerintahan.
            Adapun pelaksanaan Pilkada bertujuan untuk menyelenggarakan sistem demokrasi di tingkat lokal untuk menghasilkan penyelenggara pemerintahan di daerah. Dalam hal ini, eksekutif yang benar-benar merupakan hasil kesepakatan bersama melalui Pilkada dalam menentukan pemimpinnya didasarkan pada asas Pancasila dan berdasar pada konstitusi.
            Pemilu, alat uji yang paling ampuh untuk menilai apakah sebuah negara tergolong demokratis ataupun tidak. Barometer inilah yang selalu menjadi dilema manakala berlangsungnya Pemilu di Aceh. Pemilu pada tahun 2006 dan 2009 misalnya, walaupun terjadi gesekan politik di kalangan eks kombatan, namun masih dikategorikan berlangsung aman. Namun, beranjak pada tahun 2012, justru kita dikejutkan dengan berbagai kejadian seperti intimidasi, perusakan, penculikan, dan pembunuhan menjelang Pilkada 2012. Kondisi ini kian memanas manakala partai lokal eks kombatan terpecah menjadi dua kelompok dan berlanjut menjelang Pemilu legislatif 2014. Pada Pemilu tersebut, tercatat setidaknya 45 kasus pelanggaran Pemilu dan 20 kasus pelanggaran pidana terkait Pemilu. Melihat kondisi ini, apakah berpengaruh terhadap sosial budaya masyarakat Aceh?
            Kondisi “gawat” pra Pilkada Aceh memang sangat rentan pengaruhnya terhadap sosial budaya masyarakat Aceh. Betapa tidak, kehidupan sosial masyarakat terganggu saat oknum-oknum tertentu memaksakan kehendak kepada lapisan masyarakat bawah. Iming-iming yang menggiurkan berhasil “menangkap” orang-orang yang tak tahu politik. Berbagai cara dilakukan hingga mencapai lini anti demokrasi demi memenangkan Pemilu. Sebut saja pada masa DOM, ketika Aceh masih berada dalam kondisi tak kondusif, partai-partai politik bukannya memberikan pendidikan politik terhadap rakyat, namun malah mengintimidasi rakyat dengan cara pemaksaan untuk memilih salah satu partai dengan tekanan apabila tidak memilih maka dianggap separatis. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah harus memilih sesuai kehendak “mereka” ketika nyawa menjadi ancaman? Mungkin inilah salah satu faktor dampak pra Pilkada terhadap sosial budaya masyarakat Aceh.
            Partai politik lokal, seharusnya menjadi wadah baru bagi kemajuan politik dan demokratisasi Aceh pasca konflik dan bencana tsunami. Partai politik lokal seharusnya mampu menopang demokrasi serta sebagai alat politik bagi perjuangan kesejahteraan rakyat Aceh. Akankah hal ini akan terwujud? Semoga saja. Belajar dari pengalaman, manakala selalu terselip unsur-unsur kekerasan saat Pilkada Aceh berlangsung. Penyebabnya antara lain:
1.        Fungsi partai politik belum terimplementasi dengan baik. Minimnya sosialisasi dan pendidikan politik, bahkan nyaris tidak ada. Selain itu, partai politik lokal juga masih berparadigma konvensional sehingga menempatkan kampanye sebagai ajang “unjuk kekuatan” daripada wahana penyampaian wacana politik dalam rangka pendidikan politik bagi masyarakat. Partai politik yang seharusnya berfungsi sebagai peredam dan pengatur konflik malah terlibat langsung dalam konflik dalam masyarakat
2.        Konflik di kalangan elit merupakan poin penting tidak demokratisnya Pilkada di Aceh, bahkan melahirkan konflik panas. Konflik ini akhirnya berujung pada pada pembunuhan, pembohongan publik, dan lain-lain
3.        Ketidakberanian pemerintah pusat untuk bersikap. Pemerintah pusat yang tidak tegas terhadap penetapan jadwal Pilkada 2012 turut memicu konflik dan kekerasan menjelang Pilkada Aceh tahun 2012. Sikap tersebut menyebabkan jadwal Pilkada Aceh tertunda beberapa kali. Akibatnya, suhu politik di Aceh sempat memanas yang menyebabkan terjadinya kasus penembakan di Aceh
4.        Proses rekrutmen pelaksanaan Pemilu yang tidak baik menjadi penyebab cacatnya proses Pemilu di Aceh. Adanya “kontrak politik” menjadi dugaan kuat dalam lembaga-lembaga yang melaksanakan Pemilu.
Beranjak dari permasalahan diatas, kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh cukup berpengaruh dalam ajang Pilkada ini. Diawali oleh timbulnya rasa tidak aman pada masyarakat yang dipaksa untuk memilih partai politik yang dikehendaki suatu oknum; timbulnya rasa kesenjangan sosial  antara satu pihak yang mendukung partai A dengan pihak lain yang mendukung partai B; ter-mindset pemikiran dalam di kalangan elit untuk berbuat curang demi kepentingan golongan tertentu tanpa memperhatikan kondisi dan dampak yang akan terjadi; Pilkada menjadi ajang pamer kekuasaan dan beranggapan bahwa menduduki kursi legislatif adalah hal “paling hebat” yang pernah dilakukan, tanpa mengetahui atau mengindahkan konsekuensi dari Tuhan jika menjadi pemimpin yang sekedar “hisap jempol” (tidak amanah) dalam mengemban tugasnya; munculnya sikap apatisme masyarakat terhadap pemilihan umum akibat kekecewaan terhadap pemimpin terdahulu; dan terbentuk pola pikir yang cenderung pesimistis terhadap pemerintah karena menilik kondisi Aceh yang belum sesuai dengan harapan pada saat pemimpin sebelumnya menjabat. Pesimistis ini muncul akibat kekecewaan terhadap kinerja para politikus, sehingga memunculkan sikap apatisme di kalangan pemilih. Mereka cenderung enggan terlibat dalam partisipasi politik konvensional dan lebih memilih berpartisipasi secara konvensional seperti demonstrasi.
Berkenaan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, Gronlud dan Setala (2007) menemukan bahwa ada hubungan yang positif antara kepercayaan dengan keputusan memilih dalam pemilihan umum. Dermody dan dan Scullion (2001) menyatakan bahwa kepercayaan mempengaruhi 51% perilaku pemilih dan mengidentifikasi sikap politik sebagai tingkat kepercayaan pada pemerintah dan tokoh politik, efikasi politik para pemilih, serta tingkat sinisme masyarakat.
Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Mungkin semboyan ini belum meresap kedalam hati elit poltik yang cenderung ingin berkuasa. Pilkada adalah wahana menyatukan bangsa. Multikulturalisme merupakan pengikat dan jembatan yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan suku bangsa serta etnis dalam masyarakat. Perbedaan itu harus dipahami dalam wadah-wadah yang transparan sehingga diketahui oleh umum, sehingga dalam ruang publik yang diketahui banyak orang tidak kelihatan adanya budaya yang dominan. Berdasarkan hal tersebut, ada baiknya dalam rangka merajut integritas suatu bangsa dalam kondisi bangsa Indonesia yang multikulturalisme harus dikedepankan sikap nasionalisme sehingga tidak terjadi perpecahan diantara etnis yang ada. Jika hal ini sampai terjadi maka harmonisasi antar etnis yang berwujud konflik pun dapat dihindari. Hal inilah yang disebut proses sosial yang bersifat menceraikan yang mengarah kepada terciptanya nilai-nilai negatif atau asosial, seperti kebencian, permusuhan, egoisme, kesombongan, pertentangan, perpecahan, hingga berwujud pada persaingan. Mengenai Pilkada Aceh, dengan realitas-realitas yang ada kita bisa berharap Pilkada di Aceh  dapat berlangsung tanpa adanya kekerasan dan anarkisme? Jawabannya adalah tentu saja bisa. Seperti yang telah dikemukakan diatas, mari kita tanamkan jiwa nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia yang multikultural sehingga perpecahan dapat dihindari. Sejatinya, tujuan Pilkada adalah mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk mengemban amanah rakyat secara keseluruhan, bukan untuk memuaskan hasrat pribadi dengan mengeruk hak rakyat. Dengan menyadari apa yang menjadi tujuan pelaksanaan Pilkada tersebut, maka dapat diredam sifat-sifat agresif yang muncul bagi yang tidak terpilih dan unjuk rasa yang disertai anarkisme juga dapat dicegah.
Seyogyanya masyarakat tidak terlalu bersikap fanatik pada calon kepala atau wakil kepala daerah, karena justru sikap inilah yang akan menghambat proses demokratisasi dalam penyelenggaraan Pilkada. Elit politik juga harus jeli memperkirakan dampak dari persaingan politik yang mereka perankan terhadap masa depan perdamaian dan pemulihan Aceh pasca konflik dan tsunami. Pemahaman politik juga perlu disosialisasikan pada masyarakat. Mengapa demikian? Pelaksanaan demokrasi pada dasarnya ditentukan oleh kedewasaan masyarakat, dalam artian demokrasi itu akan terlaksana apabila masyarakatnya memiliki kultur politik atau budaya politik yang tinggi, budaya politik sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pemahaman masyarakat, dan ketaatan pada regulasi pelaksanaan Pilkada tersebut. Dengan kata lain, pelaksanaan Pilkada dapat terwujud dengan baik apabila masyarakat memiliki kesadaran politik.budaya politik masyarakat akan meningkat apabila partai politik benar-benar melaksanakan fungsinya dalam memberikan sosialisasi politik dengan baik.
Pada akhirnya, wajar saja jika semua pihak diharapkan arif dan bijaksana dalam menyikapi persoalan maupun kisruh dalam Pilkada. Apapun alasannya, penyelenggaraab Pilkada merupakan representasi dari sistem pemerintahan demokrasi yang menjadi cita-cita kita bersama. Kalaupun dalam pelaksanaannya banyak yang muncul, itulah akses pembelajaran menuju demokrasi atau yang lebih dikenal masih dalam tahap demokratisasi (pembelajaran demokrasi). Pilkada, pesta demokrasi bangsa diharapkan dapat membawa pengaruh positif terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh. Semoga.

Oleh: Merri Asiska
*Penulis adalah mahasiswi aktif jurusan kimia, Universitas Negeri Medan,
asal Bireuen-Aceh)