PEREMPUAN
PENGULUM SIRIH
Jemarinya lihai, merajut
asa
Tersingkap harap, sesuap
nasi nanti malam
Senyum terlambai, olehku
Untuknya, perempuan
pengulum sirih
Lagi, tangan-tangannya
menari
Netra pudar bukanlah
alasan
Senja pada sepasang bola
mata, memang demikian
Tak lagi muda, katanya
Cairan merah kental dari
mulutnya, aroma tajam
Lusuh, bajunya kusam tak
terawat
Kilau keperakan hampir menutup
kepalanya
Namun, dia tetap disana
Menyusun rapi pilah-pilah
nyiur, tatapan tajam
Dari negeri ribuan budaya,
aku belajar
Menginspirasi, potret
Indonesia yang tak terjamah
Menyesakkan pundi nurani,
dibalik retorika pemimpin negeri
Pada sosok pekerja keras,
terpenjara kemiskinan
Lihatlah dia, terlingkup
asa bahagia
Tak ada masa depan,
pikirnya
Tuk dirinya yang hanya
selangkah kaki menuju kubur
Adalah dia, penapak rezeki
hingga penghujung malam
Lihatlah dia, pada
perempuan pengulum sirih...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar