Powered By Blogger

Minggu, 17 Februari 2019


PEREMPUAN PENGULUM SIRIH

Jemarinya lihai, merajut asa
Tersingkap harap, sesuap nasi nanti malam
Senyum terlambai, olehku
Untuknya, perempuan pengulum sirih

Lagi, tangan-tangannya menari
Netra pudar bukanlah alasan
Senja pada sepasang bola mata, memang demikian
Tak lagi muda, katanya

Cairan merah kental dari mulutnya, aroma tajam
Lusuh, bajunya kusam tak terawat
Kilau keperakan hampir menutup kepalanya
Namun, dia tetap disana
Menyusun rapi pilah-pilah nyiur, tatapan tajam

Dari negeri ribuan budaya, aku belajar
Menginspirasi, potret Indonesia yang tak terjamah
Menyesakkan pundi nurani, dibalik retorika pemimpin negeri
Pada sosok pekerja keras, terpenjara kemiskinan

Lihatlah dia, terlingkup asa bahagia
Tak ada masa depan, pikirnya
Tuk dirinya yang hanya selangkah kaki menuju kubur
Adalah dia, penapak rezeki hingga penghujung malam
Lihatlah dia, pada perempuan pengulum sirih...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar