Aku
menatap senja sore ini. Sama seperti kemarin. Cakrawala masih setia melukis
senja berwarna jingga di ufuk barat. Dengan paduan gradasi warna yang begitu
indah, menenteramkan sepasang mata setiap insan yang memandangnya. Awan berarak
ceria mengantarkan sang mentari ke peraduan dan menjemput sang dewi malam.
Burung-burung hilir mudik kembali ke sarang. Hanya pohon-pohon yang tetap
berdiri dengan tegak. Kokoh melawan alur angin dan lika-liku kehidupan.
Kuseruput secangkir kopi yang nyaris
dingin. Menikmati pemandangan senja di sebuah balai-balai beratap rumbia kecil
depan rumah. Kuselonjorkan kaki dengan badan bersandar pada dinding
balai-balai. Mataku terasa berat. Pemesanan yang cukup banyak hari ini
membuatku kelelahan karena harus segera menyelesaikan semua kerajinan berupa
anyaman tikar pesanan mereka.
***
Seseorang membangunkanku. “Mas, ayo
bangun. Tidak bagus tidur sore-sore. Pamalik lho mas.” Sayup-sayup sebuah suara merasuk hingga ke saraf
pendengaranku. Aku membuka mata perlahan. Seseorang wanita tepat duduk disampingku
seraya menepuk lembut pundakku. Samar-samar wajahnya semakin jelas.
“Iya Fat. Maaf mas ketiduran tadi.
Hufft, sungguh melelahkan hari ini,”ujarku segera bangkit sembari meremas bahuku.
Wanita itu tersenyum menatapku. Dia berkata, “Tidak baik mas mengeluh. Semua
rezeki sudah diatur sama Allah. Tetap semangat
ya mas,” ujar wanita itu seraya memapahku untuk berdiri. Sayup suara azan
berkumandang. Kubuka kedua mataku. Ternyata hanya mimpi.
Malam
kembali merayap. Samar-samar terdengar alunan kalam syahdu Illahi di sebuah pondok
pengajian di seberang jalan. Alunan
asma-Nya begitu merdu hingga mengalir ke dalam urat-urat nadi dan pembuluh
darah. Mampu menggetarkan sanubari bagi siapa saja yang mendengarnya. Setelah
selesai mengadu pada Zat Pemilik Semesta, aku
menenangkan diri lewat lantunan ayat penyejuk jiwa. Ya, kebiasaan ini
selalu kulakukan setiap senja menjelang malam. Bersyukur atas semua nikmat dan
karunia-Nya, setelah menyelesaikan kewajibanku sebagai hamba yakni menunaikan
shalat Maghrib.
Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB.
Rumah yang terletak di pedesaan dan di pinggir sawah ini tampak semakin hening
kala malam tiba. Rumah sederhana berdinding papan dan beratap rumbia ini adalah
saksi bisu kisah perjalanan hidupku bersama orang yang kucintai. Rumah ini
menyimpan berjuta kenangan yang takkan pudar dimakan waktu.
“Pak, saya izin pulang. Makan malamnya
sudah saya siapkan di meja makan,” suara Arsih mengagetkanku dari lamunan. Aku
segera mengiyakan dan mengucapkan terimakasih padanya. Gadis itu telah lama membantuku
mengurusi rumah tangga, semenjak wanita yang kucintai pergi ke dunia yang
berbeda. Bagaimanapun, dia telah kuanggap seperti anakku sendiri.
Langkahku tertatih. Penyakit diabetes
ini semakin merajalela hingga menggerogoti sebelah kakiku. Kurogoh sebuah botol
berisi obat dalam kantong plastik. Rumah tampak semakin sepi. Hanya suara
jangkrik yang memecah kesunyian malam. Malam semakin larut.
***
“Fat,
maukah kau menikah denganku?” ucapku gugup. Kutunjukkan sebuah cincin emas
padanya. Matanya berbinar. Tersenyum amat lebarnya. Tanpa ragu gadis itu
mengangguk. Sumringah menatapku. Kami pun menikah. Menjalin hubungan sebagai
sepasang suami istri. Akhirnya perjalanan kisah cintaku berlabuh pada seorang
wanita yang sekarang menjadi pendamping hidupku, Fatma. Aku merasa bahagia saat
itu. Kami telah berjanji akan selalu bersama hingga ajal menjemput. Kami
membesarkan anak-anak kami dengan penuh kehangatan.
Keluarga kami tergolong sederhana.
Profesiku yang hanya sebagai tukang penganyam tikar memang tidak terlalu
menguntungkan bagi keluargaku. Walaupun demikian, kami tetap tidak merasa
kekurangan. Aku tetap bersyukur. Istriku, wanita yang telah menganugerahkanku
tiga orang anak adalah hadiah paling membahagiakan dalam hidupku. Wanita yang
selalu kucintai, memdampingiku dalam mengarungi bahtera rumah tangga baik suka
dan duka.
Waktu kian berlalu. Pendapatanku
yang tidak terlalu mencukupi memaksaku untuk tetap bekerja keras menghidupi anak-anak
kami tercinta. Aku memulai usaha menganyam tikar sudah cukup lama. Aku
berdagang berkeliling, menitipkan pada toko-toko, agar dapat memperkenalkan
buah tanganku demi menggapai sedikit penghasilan. Usahaku membuahkan hasil.
Banyak orang-orang yang berdatangan ke rumah kami untuk memesan tikar
anyamanku. Istriku juga turut membantu. Tiap malam dia selalu menemaniku
membuat anyaman tikar, walau kutahu penat yang sangat jelas terpancar disana.
“Kau benar-benar istri terbaik Fatma.”
Suatu
malam di ruang keluarga. Jam menunujukkan pukul 21.00 WIB.
“Fat,
kau baik-baik saja?” tanyaku ketika melihat Fatma terbaring lemas dan pucat.
“Tidak apa-apa mas, mungkin hanya
sedikit kelelahan,” ujar Fatma berusaha tersenyum sembari menghidangkan
secangkir kopi.
“Bagaimana dengan usaha kita mas?
Apakah banyak pesanan dalam bulan ini?” sambungnya.
“Alhamdulillah Fat, akhir-akhir ini
banyak yang memesan anyaman tikar kita,” ujarku semangat. Fatma tersenyum.
Senang mendengar ucapanku. “Mas, tetap lakukan yang terbaik ya untuk
putra-putri kita kelak. Aku selalu mendukungmu.” Aku memandang Fatma
lekat-lekat. Tak percaya bahwa aku telah mendapatkan seorang istri yang begitu
sempurna di mataku. Suara jangkrik bersahut-sahutan terdengar memekakkan
telinga. Malam semakin larut. Hening. Aku mengangguk mengiyakan, mengecup
kening istriku.
Tiga puluh lima tahun telah berlalu.
Kini aku telah mampu membangun sebuah rumah yang lebih besar untuk keluargaku.
Kami tidak lagi kekurangan. Usaha kerajinan anyaman tikar yang telah lama
kutekuni terbilang sukses hingga telah memiliki beberapa cabang di kota-kota
besar. Namun, aku tidak terlalu banyak mengandalkan orang lain untuk membantu
usahaku. Hanya sanak famili yang turut membantu dan tak lepas dari tanganku
sendiri.
Disisi
lain, kami semakin menua dimakan usia. Anak-anak kami pun telah tumbuh besar
dan sudah menikah. Kini tinggal aku dan istri tercinta yang setia menemani kala
usia renta datang menyapa. Fatma, wanita pendamping hidupku kini tak lagi sama.
Guratan-guratan pembentuk kerutan telah menghiasi paras cantiknya. Badannya
semakin kurus dan rambut beruban. Namun, bagiku dia tetap cantik seperti tiga
puluh lima tahun yang lalu. Wanita itu tetap bugar merawatku, hingga penyakit Diabetes Mellitus bersarang dalam tubuh
rentaku.
***
“Mas,” panggil Fatma. Wanita itu
tersenyum, datang mendekatiku. Suara debur ombak menghantam cadas terdengar
jelas dan berirama. Fatma terlihat cantik dengan kebaya putih yang
dikenakannya. Tak ada garis-garis kerutan di wajahnya. Badannya ramping,
sungguh menawan dengan sanggul yang dipakainya. Aku masih menatapnya. Kaku. Aku
yang pincang dan semakin renta kini berhadapan dengan seorang wanita muda. Ya,
dia Fatma.
“Kaukah itu Fatma?” aku terpaku
menatapnya. Suara hantaman debur ombak semakin keras. Malam terasa dingin.
Merasuk hingga tulang-tulang persendian. Fatma mengangguk. Kembali tersenyum.
“Kau sangat muda Fat. Sungguh
berbeda saat terakhir sebelum kita berpisah. Lihatlah aku. Aku malu padamu
karena diriku yang sudah semakin renta.”
Fatma
hanya tersenyum. Jemari lentiknya menggenggam erat tanganku, lalu berkata, “Jaga
kesehatannya ya mas. Aku tak bisa menjagamu lagi. Aku harus pergi mas.”
“Ta.., tapi…”
Aku
terdiam. Berusaha menahan kepergian Fatma. Aku terus mencarinya. “Mengapa kau
meninggalkanku?”
Tak
ada jawaban.
“Ayah… ayah….”
Aku
menangkap sebuah suara yang tak asing. Kubuka mataku perlahan. Samar-samar
kulihat beberapa orang sedang mengerumuniku. Mereka menatapku cemas. Suara
menggemaskan terdengar dari bocah-bocah kecil yang berdiri disampingku.
Wajahnya begitu lugu dan ceria. Kuperhatikan mereka satu persatu. Ya, mereka
anak-anak dan cucu-cucuku.
“Ayah sudah sadar? Tadi malam ayah
terjatuh saat sedang berusaha menyimpan kembali obat diabetes milik ayah,”
“Iya
yah. Kepala ayah terluka karena terkena pecahan lantai semen yang retak.
Untungnya Arsih yang belum sempat pulang menemukan ayah pingsan,”
Aku
tersenyum mendengar penjelasan anak-anakku. Mereka sungguh khawatir terhadapku.
“Ayah tidak apa-apa kok nak. Sekarang ayah sudah sehat. Iya kan cucu-cucu
kakek?” ujarku sembari tersenyum. Berusaha menghibur mereka.
Disisi lain, aku kembali memutar
kaset rekaman masa silam. Tak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Fatma,
wanita yang kucintai kini telah berada di dunia berbeda. Tiga bulan yang lalu Malaikat
maut telah menjemputnya karena penyakit mag yang dideritanya. Penyakit yang telah
lama dideritanya semenjak masih muda akhirnya kambuh kembali. Ya, semua mungkin
disebabkan karena dirinya yang selalu membantuku, menemaniku, dan melayaniku. saat
penyakit diabetes mulai menyerangku, hingga tak memikirkan kesehatannya. Aku
menghela napas.
Fatma,
wanita yang paling kusayangi. Aku akan bertahan disini. Walau sekarang aku
mampu membeli rumah yang lebih besar, namun aku takkan melakukan itu. Aku tidak
akan menjual kenangan indah kita begitu saja. Biarlah rumah ini menjadi saksi
kisah perjalanan lika-liku kehidupan kita. Aku takkan melupakanmu Fatma.
Pesonamu tak akan pudar dalam memoriku. Guratan kerutan di wajahmu karena menua
tak akan membuatku menjauh. Kau tetap ayu dan hatimu tetap bersinar bak mutiara
di lautan. Pesonamu tak akan pudar walau senja menyapamu. Bagiku, kau akan
tetap sama seperti tiga puluh lima tahun yang lalu. Aku tetap mencintaimu
Fatma.
Aku
memejamkan mata. Suasana mendadak berubah. Kini aku berada di suatu tempat yang
asing. Di ujung sana, Fatma tersenyum menatapku. Menjemputku bersamanya.
