Powered By Blogger

Kamis, 31 Juli 2014

TAK PUDAR PESONA SENJA




            Aku menatap senja sore ini. Sama seperti kemarin. Cakrawala masih setia melukis senja berwarna jingga di ufuk barat. Dengan paduan gradasi warna yang begitu indah, menenteramkan sepasang mata setiap insan yang memandangnya. Awan berarak ceria mengantarkan sang mentari ke peraduan dan menjemput sang dewi malam. Burung-burung hilir mudik kembali ke sarang. Hanya pohon-pohon yang tetap berdiri dengan tegak. Kokoh melawan alur angin dan lika-liku kehidupan.  
            Kuseruput secangkir kopi yang nyaris dingin. Menikmati pemandangan senja di sebuah balai-balai beratap rumbia kecil depan rumah. Kuselonjorkan kaki dengan badan bersandar pada dinding balai-balai. Mataku terasa berat. Pemesanan yang cukup banyak hari ini membuatku kelelahan karena harus segera menyelesaikan semua kerajinan berupa anyaman tikar pesanan mereka.

***
            Seseorang membangunkanku. “Mas, ayo bangun. Tidak bagus tidur sore-sore. Pamalik lho mas.” Sayup-sayup  sebuah suara merasuk hingga ke saraf pendengaranku. Aku membuka mata perlahan. Seseorang wanita tepat duduk disampingku seraya menepuk lembut pundakku. Samar-samar wajahnya semakin jelas.
            “Iya Fat. Maaf mas ketiduran tadi. Hufft, sungguh melelahkan hari ini,”ujarku segera bangkit sembari meremas bahuku. Wanita itu tersenyum menatapku. Dia berkata, “Tidak baik mas mengeluh. Semua rezeki sudah diatur sama Allah. Tetap semangat ya mas,” ujar wanita itu seraya memapahku untuk berdiri. Sayup suara azan berkumandang. Kubuka kedua mataku. Ternyata hanya mimpi.
Malam kembali merayap. Samar-samar terdengar alunan kalam syahdu Illahi di sebuah pondok pengajian di seberang jalan. Alunan asma-Nya begitu merdu hingga mengalir ke dalam urat-urat nadi dan pembuluh darah. Mampu menggetarkan sanubari bagi siapa saja yang mendengarnya. Setelah selesai mengadu pada Zat Pemilik Semesta, aku  menenangkan diri lewat lantunan ayat penyejuk jiwa. Ya, kebiasaan ini selalu kulakukan setiap senja menjelang malam. Bersyukur atas semua nikmat dan karunia-Nya, setelah menyelesaikan kewajibanku sebagai hamba yakni menunaikan shalat Maghrib.
            Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Rumah yang terletak di pedesaan dan di pinggir sawah ini tampak semakin hening kala malam tiba. Rumah sederhana berdinding papan dan beratap rumbia ini adalah saksi bisu kisah perjalanan hidupku bersama orang yang kucintai. Rumah ini menyimpan berjuta kenangan yang takkan pudar dimakan waktu.
            “Pak, saya izin pulang. Makan malamnya sudah saya siapkan di meja makan,” suara Arsih mengagetkanku dari lamunan. Aku segera mengiyakan dan mengucapkan terimakasih padanya. Gadis itu telah lama membantuku mengurusi rumah tangga, semenjak wanita yang kucintai pergi ke dunia yang berbeda. Bagaimanapun, dia telah kuanggap seperti anakku sendiri.
            Langkahku tertatih. Penyakit diabetes ini semakin merajalela hingga menggerogoti sebelah kakiku. Kurogoh sebuah botol berisi obat dalam kantong plastik. Rumah tampak semakin sepi. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian malam. Malam semakin larut.

***
“Fat, maukah kau menikah denganku?” ucapku gugup. Kutunjukkan sebuah cincin emas padanya. Matanya berbinar. Tersenyum amat lebarnya. Tanpa ragu gadis itu mengangguk. Sumringah menatapku. Kami pun menikah. Menjalin hubungan sebagai sepasang suami istri. Akhirnya perjalanan kisah cintaku berlabuh pada seorang wanita yang sekarang menjadi pendamping hidupku, Fatma. Aku merasa bahagia saat itu. Kami telah berjanji akan selalu bersama hingga ajal menjemput. Kami membesarkan anak-anak kami dengan penuh kehangatan.
            Keluarga kami tergolong sederhana. Profesiku yang hanya sebagai tukang penganyam tikar memang tidak terlalu menguntungkan bagi keluargaku. Walaupun demikian, kami tetap tidak merasa kekurangan. Aku tetap bersyukur. Istriku, wanita yang telah menganugerahkanku tiga orang anak adalah hadiah paling membahagiakan dalam hidupku. Wanita yang selalu kucintai, memdampingiku dalam mengarungi bahtera rumah tangga baik suka dan duka.
            Waktu kian berlalu. Pendapatanku yang tidak terlalu mencukupi memaksaku untuk tetap bekerja keras menghidupi anak-anak kami tercinta. Aku memulai usaha menganyam tikar sudah cukup lama. Aku berdagang berkeliling, menitipkan pada toko-toko, agar dapat memperkenalkan buah tanganku demi menggapai sedikit penghasilan. Usahaku membuahkan hasil. Banyak orang-orang yang berdatangan ke rumah kami untuk memesan tikar anyamanku. Istriku juga turut membantu. Tiap malam dia selalu menemaniku membuat anyaman tikar, walau kutahu penat yang sangat jelas terpancar disana. “Kau benar-benar istri terbaik Fatma.”
Suatu malam di ruang keluarga. Jam menunujukkan pukul 21.00 WIB.       
“Fat, kau baik-baik saja?” tanyaku ketika melihat Fatma terbaring lemas dan pucat.
            “Tidak apa-apa mas, mungkin hanya sedikit kelelahan,” ujar Fatma berusaha tersenyum sembari menghidangkan secangkir kopi.
            “Bagaimana dengan usaha kita mas? Apakah banyak pesanan dalam bulan ini?” sambungnya.
            “Alhamdulillah Fat, akhir-akhir ini banyak yang memesan anyaman tikar kita,” ujarku semangat. Fatma tersenyum. Senang mendengar ucapanku. “Mas, tetap lakukan yang terbaik ya untuk putra-putri kita kelak. Aku selalu mendukungmu.” Aku memandang Fatma lekat-lekat. Tak percaya bahwa aku telah mendapatkan seorang istri yang begitu sempurna di mataku. Suara jangkrik bersahut-sahutan terdengar memekakkan telinga. Malam semakin larut. Hening. Aku mengangguk mengiyakan, mengecup kening istriku.
            Tiga puluh lima tahun telah berlalu. Kini aku telah mampu membangun sebuah rumah yang lebih besar untuk keluargaku. Kami tidak lagi kekurangan. Usaha kerajinan anyaman tikar yang telah lama kutekuni terbilang sukses hingga telah memiliki beberapa cabang di kota-kota besar. Namun, aku tidak terlalu banyak mengandalkan orang lain untuk membantu usahaku. Hanya sanak famili yang turut membantu dan tak lepas dari tanganku sendiri.
Disisi lain, kami semakin menua dimakan usia. Anak-anak kami pun telah tumbuh besar dan sudah menikah. Kini tinggal aku dan istri tercinta yang setia menemani kala usia renta datang menyapa. Fatma, wanita pendamping hidupku kini tak lagi sama. Guratan-guratan pembentuk kerutan telah menghiasi paras cantiknya. Badannya semakin kurus dan rambut beruban. Namun, bagiku dia tetap cantik seperti tiga puluh lima tahun yang lalu. Wanita itu tetap bugar merawatku, hingga penyakit Diabetes Mellitus bersarang dalam tubuh rentaku.

***
            “Mas,” panggil Fatma. Wanita itu tersenyum, datang mendekatiku. Suara debur ombak menghantam cadas terdengar jelas dan berirama. Fatma terlihat cantik dengan kebaya putih yang dikenakannya. Tak ada garis-garis kerutan di wajahnya. Badannya ramping, sungguh menawan dengan sanggul yang dipakainya. Aku masih menatapnya. Kaku. Aku yang pincang dan semakin renta kini berhadapan dengan seorang wanita muda. Ya, dia Fatma.
            “Kaukah itu Fatma?” aku terpaku menatapnya. Suara hantaman debur ombak semakin keras. Malam terasa dingin. Merasuk hingga tulang-tulang persendian. Fatma mengangguk. Kembali tersenyum.
            “Kau sangat muda Fat. Sungguh berbeda saat terakhir sebelum kita berpisah. Lihatlah aku. Aku malu padamu karena diriku yang sudah semakin renta.”
Fatma hanya tersenyum. Jemari lentiknya menggenggam erat tanganku, lalu berkata, “Jaga kesehatannya ya mas. Aku tak bisa menjagamu lagi. Aku harus pergi mas.”
            “Ta.., tapi…”
Aku terdiam. Berusaha menahan kepergian Fatma. Aku terus mencarinya. “Mengapa kau meninggalkanku?”
Tak ada jawaban.       
            “Ayah… ayah….”
Aku menangkap sebuah suara yang tak asing. Kubuka mataku perlahan. Samar-samar kulihat beberapa orang sedang mengerumuniku. Mereka menatapku cemas. Suara menggemaskan terdengar dari bocah-bocah kecil yang berdiri disampingku. Wajahnya begitu lugu dan ceria. Kuperhatikan mereka satu persatu. Ya, mereka anak-anak dan cucu-cucuku.
            “Ayah sudah sadar? Tadi malam ayah terjatuh saat sedang berusaha menyimpan kembali obat diabetes milik ayah,”
“Iya yah. Kepala ayah terluka karena terkena pecahan lantai semen yang retak. Untungnya Arsih yang belum sempat pulang menemukan ayah pingsan,”
Aku tersenyum mendengar penjelasan anak-anakku. Mereka sungguh khawatir terhadapku. “Ayah tidak apa-apa kok nak. Sekarang ayah sudah sehat. Iya kan cucu-cucu kakek?” ujarku sembari tersenyum. Berusaha menghibur mereka.
            Disisi lain, aku kembali memutar kaset rekaman masa silam. Tak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Fatma, wanita yang kucintai kini telah berada di dunia berbeda. Tiga bulan yang lalu Malaikat maut telah menjemputnya karena penyakit mag yang dideritanya. Penyakit yang telah lama dideritanya semenjak masih muda akhirnya kambuh kembali. Ya, semua mungkin disebabkan karena dirinya yang selalu membantuku, menemaniku, dan melayaniku. saat penyakit diabetes mulai menyerangku, hingga tak memikirkan kesehatannya. Aku menghela napas.
            Fatma, wanita yang paling kusayangi. Aku akan bertahan disini. Walau sekarang aku mampu membeli rumah yang lebih besar, namun aku takkan melakukan itu. Aku tidak akan menjual kenangan indah kita begitu saja. Biarlah rumah ini menjadi saksi kisah perjalanan lika-liku kehidupan kita. Aku takkan melupakanmu Fatma. Pesonamu tak akan pudar dalam memoriku. Guratan kerutan di wajahmu karena menua tak akan membuatku menjauh. Kau tetap ayu dan hatimu tetap bersinar bak mutiara di lautan. Pesonamu tak akan pudar walau senja menyapamu. Bagiku, kau akan tetap sama seperti tiga puluh lima tahun yang lalu. Aku tetap mencintaimu Fatma.
Aku memejamkan mata. Suasana mendadak berubah. Kini aku berada di suatu tempat yang asing. Di ujung sana, Fatma tersenyum menatapku. Menjemputku bersamanya.