Powered By Blogger

Sabtu, 30 Juli 2016

CINTAI BUMI, SELAMATKAN BUMI

CINTAI BUMI, SELAMATKAN BUMI


Jika menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain, maka menurut saya lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Lingkungan adalah kita, dan kita adalah bagian dari lingkungan. Kota Medan, salah satu kota terpadat dan terbesar setelah Jakarta dan Surabaya di Indonesia ini ternyata tak luput dari isu permasalahan lingkungan. Kota metropolitan ini yang katanya pernah mendapat gelar kota terbersih ternyata sekarang sungguh berbeda dari gelar tersebut. Di sepanjang Jalan Pancing Simpang Universitas Negeri Medan dan Jalan Suka Ramai misalnya. Tak ada yang menyangka, siapapun yang baru menginjakkan kaki di Kota Medan pasti akan terkejut dengan pemandangan sampah yang menumpuk di sepanjang jalan. Belum lagi jika kita melangkah lebih dalam lagi ke daerah Bagan Deli Belawan. Sungguh miris, sampah-sampah yang berserak di ruas-ruas jalan dan dalan selokan serta sungai seolah sudah menjadi pemandangan tersendiri. Warga bahkan membangun rumah diatas sungai dan berjualan makanan. Sampah, barang yang akrab dengan kehidupan kita merajalela di linkungan. Akankah kita peduli? Sempat terbersit dalam benak saya untuk mengajak, beramai-ramai menanamkan jiwa peduli lingkungan di dalam hati para penghuni bumi, yang terdekat khususnya masyarakat Kota Medan. Bukankah kota Medan adalah kota kita bersama? Remaja SMP dan SMA, sebagai penggerak bangsa seharusnya juga punya andil dalam mengatasi masalah lingkungan. Tak hanya pemerintah, saya, anda, dan mereka. Semuanya bertanggungjawab atas kerusakan di muka bumi. Walaupun permasalahan sampah disebabkan oleh masih terbatasnya infrastruktur pengelolaan persampahan di Kota Medan dan masih banyak permukiman yang tidak terlayani dinas kebersihan sehingga masyarakat membuang sampah ke sungai, selokan, parit, pinggir jalan serta pantai, namun tak ada salahnya kita bergerak terlebih dahulu. Mulai dengan penanaman karakter peduli lingkungan. Di sekolah-sekolah kita dapat menerapkannya dalam bentuk mata pelajaran peduli lingkungan dan diterapkan pada siswa SMP dan SMA. Mengapa harus mereka? Karena merekalah generasi yang masih labil, terombang-ambing dalam budaya Barat dan Timur, sibuk dengan dunianya sendiri, serta tak sedikit dari mereka yang melakukan hal-hal negatif hingga merugikan Tanah Air. Seperti yang dilaporkan dari Metrosiantar.com (10 Februari 2016) bahwa sebanyak 40 persen siswa SMP dan SMA di Medan ternyata tidak perawan lagi akibat pergaulan bebas yang dijalankan dalam gaya hidup mereka dan 80 persen pelajar SMP dan SMA mengaku pernah menonton adegan film dewasa. Sungguh rusak bukan moral generasi bangsa saat ini? Inilah salah satu upaya untuk menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Mari sama-sama kita bergerak. Mari kurangi penggunaan plastik yang tak bisa diurai hingga 100 tahun lamanya. Bila perlu kita tiru seperti negara-negara Barat yang tak menggunakn kantong plastik. Kita jual kantong plastik dengan harga yang sangat mahal agar penggunaannya semakin sedikit. Ide yang rumit, tapi tak ada salahnya untuk dicoba bukan? Ayo sama-sama kita cintai bumi. Cintai bumi, selamatkan bumi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar