CINTAI BUMI, SELAMATKAN BUMI
Jika menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 lingkungan
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain, maka menurut saya lingkungan adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar kita. Lingkungan adalah kita, dan kita adalah
bagian dari lingkungan. Kota Medan, salah satu kota terpadat dan terbesar
setelah Jakarta dan Surabaya di Indonesia ini ternyata tak luput dari isu
permasalahan lingkungan. Kota metropolitan ini yang katanya pernah mendapat
gelar kota terbersih ternyata sekarang sungguh berbeda dari gelar tersebut. Di
sepanjang Jalan Pancing Simpang Universitas Negeri Medan dan Jalan Suka Ramai
misalnya. Tak ada yang menyangka, siapapun yang baru menginjakkan kaki di Kota
Medan pasti akan terkejut dengan pemandangan sampah yang menumpuk di sepanjang
jalan. Belum lagi jika kita melangkah lebih dalam lagi ke daerah Bagan Deli
Belawan. Sungguh miris, sampah-sampah yang berserak di ruas-ruas jalan dan
dalan selokan serta sungai seolah sudah menjadi pemandangan tersendiri. Warga
bahkan membangun rumah diatas sungai dan berjualan makanan. Sampah, barang yang
akrab dengan kehidupan kita merajalela di linkungan. Akankah kita peduli?
Sempat terbersit dalam benak saya untuk mengajak, beramai-ramai menanamkan jiwa
peduli lingkungan di dalam hati para penghuni bumi, yang terdekat khususnya
masyarakat Kota Medan. Bukankah kota Medan adalah kota kita bersama? Remaja SMP
dan SMA, sebagai penggerak bangsa seharusnya juga punya andil dalam mengatasi
masalah lingkungan. Tak hanya pemerintah, saya, anda, dan mereka. Semuanya
bertanggungjawab atas kerusakan di muka bumi. Walaupun permasalahan sampah disebabkan oleh masih terbatasnya
infrastruktur pengelolaan persampahan di Kota Medan dan masih banyak permukiman
yang tidak terlayani dinas kebersihan sehingga masyarakat membuang sampah ke
sungai, selokan, parit, pinggir jalan serta pantai, namun tak ada salahnya kita bergerak terlebih dahulu. Mulai dengan
penanaman karakter peduli lingkungan. Di sekolah-sekolah kita dapat
menerapkannya dalam bentuk mata pelajaran peduli lingkungan dan diterapkan pada
siswa SMP dan SMA. Mengapa harus mereka? Karena merekalah generasi yang masih
labil, terombang-ambing dalam budaya Barat dan Timur, sibuk dengan dunianya
sendiri, serta tak sedikit dari mereka yang melakukan hal-hal negatif hingga
merugikan Tanah Air. Seperti yang dilaporkan dari Metrosiantar.com (10
Februari 2016) bahwa sebanyak
40 persen siswa SMP dan SMA di Medan ternyata tidak perawan lagi akibat
pergaulan bebas yang dijalankan dalam gaya hidup mereka dan 80 persen pelajar SMP
dan SMA mengaku pernah menonton adegan film dewasa. Sungguh rusak bukan moral generasi bangsa saat ini?
Inilah salah satu upaya untuk menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Mari
sama-sama kita bergerak. Mari kurangi penggunaan plastik yang tak bisa diurai
hingga 100 tahun lamanya. Bila perlu kita tiru seperti negara-negara Barat yang
tak menggunakn kantong plastik. Kita jual kantong plastik dengan harga yang
sangat mahal agar penggunaannya semakin sedikit. Ide yang rumit, tapi tak ada
salahnya untuk dicoba bukan? Ayo sama-sama kita cintai bumi. Cintai bumi,
selamatkan bumi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar