BAB 1
PENDAHULUAN
Salah
satu cara untuk menentukan kadar asam basa dalam suatu larutan adalah dengan
volumetri. Metode volumetric secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam 4
kategori, yaitu sebagai berikut.
•
Titrasi asam basa yang meliputi reaksi asam
basa baik kuat maupun lemah.
•
Titrasi redoks adalah titrasi yang
meliputi hampir semua reaksi oksidasi reduksi
•
Titrasi pengendapan adalah titrasi yang
meliputi pembentukan endapan, seperti Ag.
•
Titrasi kompleksometri; meliputi titrasi
EDTA seperti titrasi spesifik dan juga dapat digunakan untuk melihat perbedaan
pH pada pengompleksan.
Pada
makalah ini akan dibahas tentang titrasi pengendapan. Berikut penjelasan
terperinci metode volumetri dengan titrasi pengendapan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI ARGENTOMETRI
Argentometri
merupakan titrasi pengendapan sample yang dianalisis dengan menggunakan ion
perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah ion halida
(Cl-, Br-, I-). (Khopkar, 1990)
Hasil
kali konsentrasi ion-ion yang terkandung suatu larutan jenuh dari garam yang
sukar larut pada suhu tertentu adalah konstan. Misalnya suatu garam yang sukar
larut AmBn dalam larutan akan terdisosiasi menjadi m kation dan n anion.
AmBn
→ mA++ nB-
Hasil
kali kelarutan = (CA+)M × (CB-)N
Titrasi
argentometri adalah titrasi dengan menggunakan perak
nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam perak yang sukar larut. Jika
larutan perak nitrat ditambahkan pada larutan kalium sianida maka mula-mula
akan terbentuk endapan putih yang pada pengadukan akan larut membentuk larutan
kompleks yang stabil .
AgNO3
+ 2KCN → K[Ag(CN)2] +KNO3
Ag+
+ 2CN- → Ag(CN)2
Jika
reaksi telah sempurna maka reaksi akan berlangsung lebih lanjut membentuk
senyawa kompleks yang tak larut .
Ag+
+ (Ag(CN)2)- → Ag[Ag(CN)2]
Titik
akhir ditandai dengan terbentuknya endapan putih yang permanent. salah satu
kesulitan dalam menentukan titik akhir ini terletak pada fakta dimana perak
sianida yang diendapkan oleh adanya kelebihan ion perak yang agak lebih awal
dari titik ekuivalen, sangat lambat larut kembali dan titrasi ini makan waktu
yang lama.
2.2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KELARUTAN
Pengendapan
merupakan metode yang paling baik pada analisis gravimetri. Kita akan
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan. Parameter-parameter
yang penting adalah temperatur, sifat pelarut, adanya ion-ion pengotor, pH,
hidrolisis, pengaruh kompleks, dan lain-lain (Khopkar, 1990).
Kelarutan
bertambah dengan naiknya temperatur. Kadangkala endapan yang baik terbentuk
pada larutan panas, tetapi jangan dilakukan penyaringan terhadap larutan panas
karena pengendapan dipengaruhi oleh faktor temperatur. Garam-garam anorganik
lebih larut dalam air. Berkurangnya kelarutan di dalam pelarut organik dapat
digunakan sebagai dasar pemisahan dua zat. Kelarutan endapan dalam air
berkurang jika lanitan tersebut mengandung satu dari ion-ion penyusun endapan,
sebab pembatasan Ksp (konstanta hasil kali kelarutan). Baik kation atau anion
yang ditambahkan, mengurangi konsentrasi ion penyusun endapan sehingga endapan
garam bertambah. Pada analisis kuantitatif, ion sejenis ini digunakan untuk
mencuci larutan selama penyaringan (Svehla, 1990).
Beberapa
endapan bertambah kelarutannya bila dalam larutan terdapat garam-garam yang
berbeda dengan endapan. Hal ini disebut sebagai efek garam netral atau efek
aktivitas. Semakin kecil koefesien aktivitas dari dua buah ion, semakin besar
hasil kali konsentrasi molar ion-ion yang dihasilkan. Kelarutan garam dari asam
lemah tergantung pada pH larutan. Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam
air, akan menghasilkan perubahan H+. Kation dari spesies garam
mengalami hidrolisis sehingga menambah kelarutannya (Svehla, 1990).
Kelarutan
garam yang sedikit larut merupakan fungsi konsentrasi zat lain yang membentuk
kompleks dengan kation garam tersebut. Beberapa endapan membentuk kompleks yang
larut dengan ion pengendap itu sendiri. Mula-mula kelarutan berkurang
(disebabkan ion sejenis) sampai melalui minuman. Kemudian bertambah akibat
adanya reaksi kompleksasi (Svehla, 1990).
Reaksi
yang menghasilkan endapan dapat dimanfaatkan untuk analisis secara titrasi jika
reaksinya berlangsung cepat, dan kuantitatif serta titik akhir dapat dideteksi.
Beberapa reaksi pengendapan berlangsung lambat dan mengalami keadaan lewat
jenuh. Tidak seperti gravimetri, titrasi pengendapan tidak dapat menunggu
sampai pengendapan berlangsung sempurna. Hal yang penting juga adalah hasil
kali kelarutan (Ksp) harus cukup kecil sehingga pengendapan bersifat
kuantitatif dalam batas kesalahan eksperimen. Reaksi samping tidak boleh
terjadi, demikian juga kopresipitasi. Keterbatasan utama pemakaian cara ini
disebabkan sedikit sekali indikator yang sesuai. Semua jenis reaksi
diklasifikasi berdasarkan tipe indikator yang digunakan untuk melihat titik
akhir (Khopkar, 1990).
Pada
kebanyakan garam anorganik, kelarutan meningkat jika suhu naik. Sebaiknya
proses pengendapan, penyaringan dan pencucian endapan dilakukan dalam keadaan
larutan panas kecuali untuk endapan yang dalam larutan panas memiliki kelarutan
kecil (misalnya Hg2Cl2, Mg[NH4PO4])
cukup disaring setelah terlebih dahulu didinginkan di lemari es. Kebanyakan
garam anorganik larut dalam air dan tidak arut dalam pelarut organik. Air
memiliki momen dipol yang besar dan tertarik oleh kation dan anion membentuk ion
hidrat. Sebagaimana ion hidrogen yang membentuk H3O+. Energi
yang dibebaskan pada saat interaksi ion dengan pelarut akan membantu
meningkatkan gaya tarik ion terhadap kerangka padat endapan. Ion-ion dalam
kristal tidak memiliki gaya tarik terhadap pelarut organik, sehingga
kelarutannya lebih kecil daripada kelarutan dalam air. Pada analisis kimia,
perbedaan kelarutan menjadi dasar untuk pemisahan senyawa.
Contoh
:
Campuran
kering Ca(NO3)2 + Sr(NO3)2
dipisahkan dalam campuran alkohol + eter, hasilnya adalah Ca(NO3)2
larut, sedangkan Sr(NO3)2 tidak larut. Endapan lebih
mudah larut dalam air daripada dalam larutan yang mengandung ion sejenis.
Misalnya pada AgCl, [Ag+][Cl-] tidak lebih besar dari
tetapan (Ksp AgCl = 1x10-10) di dalam air murni di mana [Ag+]
= [Cl-] = 1x10-5 M.
Jika
ditambahkan AgNO3 hingga [Ag+] = 1x10-4 M,
maka [Cl-] turun menjadi 1x10-6 M, sesuai reaksi: Ag+
+ Cl- → AgCl
Ke
dalam endapan terjadi penambahan garam, sedangkan jumlah Cl- dalam
larutan menurun.
Adapun
teknik penambahan ion sejenis bertujuan untuk:
1)
Menyempurnakan pengendapan
2)
Pencucian endapan dengan larutan yang mengandung ion sejenis dengan endapan
Untuk
larutan yang mengandung Ag, jika ditambahkan NaCI maka mula-mula terbentuk
suspensi yang kemudian terkoagulasi (membeku). Laju terjadinya koagulasi
menyatakan mendekamya titik ekivalen. Penambahan NaCI dilakukan sampai titik
akhir tercapai. Perubahan ini dilihat dengan tidak terbentuknya endapan AgCl.
Akan tetapi sedikit NaCI harus ditambahkan untuk menyempurnakan titik akhir.
Penentuan Ag sebagai AgCI dapat dilakukan dengan pengukuran turbidimetri yaitu
dengan pembauran sinar (Day, 1986).
Jika
AgNO3 ditambahkan ke NaCI yang mengandung zat berpendar fluor, titik
akhir ditentukan dengan berubahnya warna dari kuning menjadi merah jingga. Jika
didiamkan, tampak endapan berwarna, sedangkan larutan tidak berwarna disebabkan
adanya adsorpsi indikator pada endapan AgCI. Warna zat yang terbentuk dapat
berubah akibat adsorpsi pada permukaan (Khopkar, 1990).
Semua
indikator adsorpsi bersifat ionik. Selain indikator adsorpsi tersebut terdapat
pula indikator-indikator adsorpsi yang digunakan dalam titrasi pengendapan,
yaitu turunan krisodin. Indikator tersebut merupakan indikator asam basa dan
indikator reduksi oksidasi dan memberikan perubahan warna yang reversibel
dengan brom. Indikator ini berwarna merah pada suasana asam clan kuning pada
suasana basa. Indikator ini juga digunakan untuk titrasi ion I-
dengan ion Ag+. Kongo merah adalah indikator asam basa lainnya
(Khopkar, 1990).
Selain
kelemahan, indikator adsorpsi mempunyai beberapa keunggulan. Indikator ini
memberikan kesalahan yang kecil pada penentuan titik akhir titrasi. Perubahan
warna yang disebabkan adsorpsi indikator biasanya tajam. Adsorpsi pada permukaan
berjalan baik jika endapan mempunyai luas permukaan yang besar. Warna adsorpsi
tidak begitu jelas jika endapan terkoagulasi. Kita tidak dapat menggunakan
indikator tersebut karena koagulasi. Koloid pelindung dapat mengurangi masalah
tersebut. Indikator-indikator tersebut bekerja pada batasan daerah-daerah pH
tertentu juga pada konsentrasi tertentu saja, yaitu pada keadaan yang sesuai
dengan peristiwa adsorpsi dan desorpsi saja (Vogel, 1990).
2.3 METODE-METODE TITRASI ARGENTOMETRI
Ada
beberapa metode dalam titrasi argentometri yang dibedakan berdasarkan indikator
yang digunakan pada penentuan titik akhir titrasi, antara lain:
a.
Metode Mohr
Metode
Mohr biasanya digunakan untuk menitrasi ion halida seperti NaCl, dengan AgNO3
sebagai titran dan K2CrO4- sebagai indikator.
Titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna suspensi dari kuning
menjadi kuning coklat. Perubahan warna tersebut terjadi karena timbulnya Ag2CrO4,
saat hampIr mencapai titik ekivalen, semua ion Cl- hampIr berikatan
menjadi AgCl. Larutan standar yang digunakan dalam metode ini, yaitu AgNO3,
memiliki normalitas 0,1 N atau 0,05 N. (Alexeyev,V,1969)
Indikator
menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran, sehingga terbentuk
endapan yang berwarna merah bata, yang menunjukkan titik akhir karena warnanya
berbeda dari warna endapan analat dengan Ag+.
Pada
analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi:
Ag+(aq)
+ Cl-(aq) ↔ AgCl(s)↓
Sedang
pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi:
2Ag+(aq)
+ CrO4(aq) ↔ Ag2CrO4(s)↓
Pengaturan
pH sangat perlu, agar tidak terlalu rendah ataupun tinggi. Bila terlalu tinggi,
dapat terbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O
sehingga titran terlalu banyak terpakai.
2Ag+(aq)
+ 2OH-(aq) ↔ 2AgOH(s)↓ ↔ Ag2O(s)↓
+ H2O(l)
Bila
pH terlalu rendah, ion CrO4- sebagian akan berubah
menjadi Cr2O72- karena reaksi
2H+(aq)
+ 2CrO42-(aq) ↔ Cr2O72-
+ H2O(l)
yang
akan mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbul endapannya
atau sangat terlambat. Selama titrasi Mohr, larutan harus diaduk dengan baik.
Bila tidak, maka secara lokal akan terjadi kelebihan titran yang menyebabkan
indikator mengendap sebelum titik ekivalen tercapai, dan dioklusi oleh endapan
AgCl yang terbentuk kemudian; akibatnya ialah, bahwa titik akhir menjadi tidak
tajam.
b.
Metode Volhard
Metode
Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titran, dan larutan Fe3+
sebagai indikator. Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antara
titrant dan Ag, membentuk endapan putih.
Ag+(aq)
+ SCN-(aq) ↔ AgSCN(s)↓ (putih)
Sedikit
kelebihan titrant kemudian bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleks
yang sangat kuat warnanya (merah).
SCN-(aq)
+ Fe3+(aq) ↔ FeSCN2+(aq)
yang
akan larut dan mewarnai larutan yang semula tidak berwarna. Karena titrantnya
SCN- dan reaksinya berlangsung dengan Ag+, maka dengan cara Volhard,
titrasi langsung hanya dapat digunakan untuk penentuan Ag+ dan SCN-
sedang untuk anion-anion lain harus ditempuh cara titrasi kembali.
Misalnya
pada larutan X- ditambahkan Ag+ berlebih yang diketahui
pasti jumlah seluruhnya, lalu dititrasi untuk menentukan kelebihan Ag+.
Maka titran selain bereaksi dengan Ag+ tersebut, mungkin bereaksi
pula dengan endapan AgX:
Ag+(aq)
(berlebih) + X- (aq) ↔ AgX(s) ↓
Ag+(aq)
(berlebih) + SCN- (aq) (titran) ↔ AgSCN(s) ↓
SCN-(aq)
+ AgX (s) ↔ X-(aq) + AgSCN(s) ↓
Bila
hal ini terjadi, tentu saja terdapat kelebihan titran yang bereaksi dan juga titik
akhirnya melemah (warna berkurang).
Konsentrasi
indikator dalam titrasi Volhard juga tidak boleh sembarang, karena titran dapat
bereaksi dengan titrat maupun dengan indikator, sehingga kedua reaksi itu
saling mempengaruhi.
Penerapan
terpenting cara Volhard ialah untuk penentuan secara tidak langsung ion-ion
halogenida: perak nitrat standar berlebih yang diketahui jumlahnya ditambahkan
sebagai contoh, dan kelebihannya ditentukan dengan titrasi kembali dengan
tiosianat baku. Keadaan larutan yang harus asam sebagai syarat titrasi Volhard
merupakan keuntungan dibandingkan dengan cara-cara lain penentuan ion
halogenida karena ion-ion karbonat, oksalat, dan arsenat tidak mengganggu sebab
garamnya larut dalam keadaan asam.
c.
Metode Fajans
Dalam
titrasi Fajans digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi ialah
zat yang dapat diserap pada permukaan endapan (diadsorpsi) dan menyebabkan
timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekivalen,
antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH.
Cara
kerja indikator adsorpsi ialah sebagai berikut:
Indikator
ini ialah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan
dengan ion perak. Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida.
Dalam larutan, fluoresein akan mengion (untuk mudahnya ditulis HFl
saja).
HFl(aq)
↔ H+(aq) +Fl-(aq)
Ion
Fl- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan
endapan berwarna merah muda. Karena penyerapan terjadi pada permukaan, dalam
titrasi ini diusahakan agar permukaan endapan itu seluas mungkin supaya
perubahan warna yang tampak sejelas mungkin, maka endapan harus berukuran
koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif,
dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titran (ion Ag+).
Pada
tahap-tahap pertama dalam titrasi, endapan terdapat dalam lingkungan dimana
masih ada kelebihan ion X- dibanding dengan Ag+; maka
endapan menyerap ion-ion X- sehingga butiran-butiran koloid menjadi
bermuatan negatif. Karena muatan Fl- juga negatif, maka Fl-
tidak dapat ditarik atau diserap oleh butiran-butiran koloid tersebut. Makin
lanjut titrasi dilakukan, makin kurang kelebihan ion X-; menjelang
titik ekivalen, ion X- yang terserap endapan akan lepas kembali
karena bereaksi dengan titran yang ditambah saat itu, sehingga muatan koloid
makin berkurang negatif. Pada titik ekivalen tidak ada kelebihan X-
maupun Ag+; jadi koloid menjadi netral. Setetes titran kemudian
menyebabkan kelebihan Ag+. Ion-ion Ag+ ini diserap oleh
koloid yang menjadi positif dan selanjutnya dapat menarik ion Fl-
dan menyebabkan warna endapan berubah mendadak menjadi merah muda. Pada waktu
bersamaan sering juga terjadi penggumpalan koloid, maka larutan yang tadinya
berwarna keruh juga menjadi jernih atau lebih jernih. Fluoresein sendiri dalam
larutan berwarna hijau kuning, sehingga titik akhir dalam titrasi ini diketahui
berdasar ketiga macam perubahan diatas, yakni:
(i)
Endapan yang semula putih menjadi merah muda dan endapan kelihatan menggumpal
(ii) Larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih
(ii) Larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih
(iii)
Larutan yang semula kuning hijau hampir-hampir tidak berwarna lagi.
Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya (fotosensifitasi) dan menyebabkan endapan terurai.
Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya (fotosensifitasi) dan menyebabkan endapan terurai.
Titrasi
menggunakan indikator adsorpsi biasanya cepat, akurat dan terpercaya.
Sebaliknya penerapannya agak terbatas karena memerlukan endapan berbentuk
koloid yang juga harus dengan cepat. (Harjadi,W, 1990)
2.4 PEMBENTUKAN ENDAPAN BERWARNA
Seperti
sistem asam, basa dapat digunakan sebagai suatu indikator untuk titrasi
asam-basa. Pembentukan suatu endapan lain dapat digunakan untuk menyatakan
lengkapnya suatu titrasi pengendapan. Dalam hal ini terjadi pula pada titrasi
Mohr, dari klorida dengan ion perak dalam mana digunakan ion kromat sebagai
indikator. Pemunculan yang permanen dan dini dari endapan perak kromat yang
kemerahan itu diambil sebagai titik akhir (TE).
Titrasi
Mohr terbatas untuk larutan dengan perak dengan pH antara 6,0 – 10,0. Dalam
larutan asam konsentrasi ion kromat akan sangat dikurangi karena HCrO4-
hanya terionisasi sedikit sekali. Selain itu, hidrogen kromat berada dalam
kesetimbangan dengan dikromat terjadi reaksi :
2H+
+ 2CrO4- ↔ 2HCrO4 ↔ Cr2O72-
+ 2H2O
Mengecilnya
konsentrasi ion kromat akan menyebabkan perlunya menambah ion perak dengan
sangat berlebih untuk mengendapkan ion kromat dan karenanya menimbulkan galat
yang besar. Pada umumnya garam dikromat cukup dapat larut. Proses argentometri
termasuk dalam titrasi yang menghasilkan endapan dan pembentukan ion kompleks.
Proses argentometri menggunakan AgNO3 sebagai larutan standar.
Proses ini biasanya digunakan untuk menentukan garam-garam dari halogen dan
sianida. Karena kedua jenis garam ini dapat membentuk endapan atau senyawa
kompleks dengan ion Ag+ sesuai dengan persamaan reaksi sebagai
berikut :
NaCl
+ Ag+ → AgCl(s) ↓ + Na+
KCN
+ Ag+ → AgCl(s) ↓ + K+
KCN
+ AgCN(s) ↓ → K [Ag(CN)2]
Karena
AgNO3 mempunyai kemurnian yang tinggi maka garam tersebut dapat
digunakan sebagai larutan standar primer. Dalam titrasi argentometri terhadap
ion CN- tercapai untuk garam kompleks K [Ag(CN)2] karena
proses tersebut dikemukakan pertama kali oleh Lieberg, cara ini tidak dapat dilakukan dalam suasana amoniatial
karena garam kompleks dalam larutan akan larut menjadi ion komplek diamilum.
(Harizul, Rivai. 1995)
2.5 Contoh perhitungan
a. Standarisasi AgNO3
dengan NaCl (indikator K2CrO4)
Dik: V. AgNO3 = (27,9 + 27,5 +
27,5)/3 = 27,67 ml
N
NaCl =0,1 N
V
NaCl = 25 ml
Dit: N AgNO3… ?
Penyelesaian:
N
AgNO3 . V AgNO3 = N NaCl . V ̅NaCl
N
AgNO3 = (N NaCl. V NaCl) / (V AgNO3)
= (0,1. 25) / (27,67)
= 0,09 N
b. Standarisasi AgNO3
dengan NaCl indikator adsorbsi
Dik:
V AgNO3 = (26,7 + 26,3 + 26,2) / 3 = 26,4 ml
N
NaCl =0,1 N
V
NaCl = 25 ml
Dit: N AgNO3… ?
Penyelesaian:
N
AgNO3 . V AgNO3 = N NaCl . V ̅NaCl
N
AgNO3 = (N NaCl. V NaCl) / (V AgNO3)
= (0,1. 25) / 26,4
= 0,095 N
c. Standarisasi NH4CNS
dengan AgNO3 0,1 N
Dik: V. NH4CNS = (25,2 + 24,8+
24,8)/3 = 24,93 ml
N
NaCl =0,095 N
V
NaCl = 25 ml
Dit: N NH4CNS … ?
Penyelesaian:
N
NH4CNS . V NH4CNS = N NaCl . V NaCl
N
NH4CNS = (N NaCl. V NaCl) / (V NH4CNS)
= (0,095. 25) / (24,93)
= 0,095 N
d. Penentuan Klorida dalam Garam
Dapur Kasar
Dik: V AgNO3 = (7,1+ 6,9 + 7,0) /
3 = 7,0 ml
V NaCl = 10 ml
N AgNO3 = 0,095 N
Dit: kadar NaCl…?
Penyelesaian:
Berat
NaCl = N AgNO3 x Mr NaCl x 3 V AgNO3
= 0,095 . 58,5 . 7,0
= 38,902 mg
Kadar
NaCl = (38,902 mg) / (450 mg) x 100% = 8,64%
BAB 3
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Titrasi
AgNO3 dan NaCl merupakan titrasi dengan Metode Mohr dan Titrasi
sampel termasuk dalam Metode Fajans karena sampel mengandung ion I-.
Argentometri adalah titrasi pengendapan dengan larutan standar AgNO3.
Ada 4 metode argentometri yaitu metode Mohr, Volhard, dan Fajans.
Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3).
Argentometri adalah titrasi pengendapan dengan larutan standar AgNO3.
Ada 4 metode argentometri yaitu metode Mohr, Volhard, dan Fajans.
Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3).
Dengan
mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+
dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan.
3.2
Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
yang diharapkan.
Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dan bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Alexeyev, V. 1969. Quantitative Analysis. Moscow: MIR Publishers
Day R.A. Jr dan A.L Underwood.1986. Analisis Kimia Kuantitatif: Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Harizul,
Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta:
UI Press
Harjadi
W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar.
Jakarta: PT Gramedia
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Ilmu Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia
Svehla, G. 1990. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi
Kelima. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar