Powered By Blogger

Sabtu, 31 Mei 2014

goresan pena inspirasi

Suatu Senja Kelabu di Langit Bumi Serambi Mekah


            Pagi tersenyum riang. Terik matahari di langit kota Banda Aceh mulai menampakkan dirinya tanpa malu-malu dengan ronanya yang merah. Ayam yang entah darimana asalnya berkokok bersahut-sahutan seolah sedang mengikuti kontes bernyanyi. Pagi ini memang cukup cerah. Di sudut sana, hiruk pikuk penduduk kota mulai memadati jalan, seolah sedang berpawai memenuhi sesaknya pundi-pundi udara yang ikut tercemar karena keegoan si logam berjalan.
              Masih di tempat yang sama, disana rumah kecil beratap rumbia berdiri dengan kokoh disudut keramaian kota. Rumah mungil sederhana dengan dindingnya yang mulai keropos dimakan usia. Ya, disinilah aku tinggal. Menghabiskan hari di rumah mungil dengan sejuta kenangan didalamnya.
Di sudut dapur, tampak ibu sedang memotong sayur bayam untuk persiapan menu makan siang. Wajahnya begitu serius dengan bibir yang berkomat-kamit mengucap zikir,  sembari menikmati helai demi helai daun bayam yang masih segar.
            “Udah mau berangkat ya yah?” tanyaku.
            “Iya nak. Hari ini ada pembagian rapor di sekolah ayah. Jadi ayah selaku wali kelas harus datang lebih cepat ke sekolah,” jelas seorang pria paruh baya sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Beliau adalah ayahku, kepala keluarga di rumah ini. Satu-satunya orang yang bertanggung jawab menghidupi kami berenam, aku, ibuku, dan keempat saudaraku.
            “Bunda, Tika berangkat dulu ya. Ti, nanti kalo bang Imam udah pulang, tolong bilangin bang Imam suruh jemput dek Mei ya. Hari ini kakak pulang terlambat karena lembur di apotik.”
“Iya kak,” jawabku sembari menata bekal Memei dalam tasnya.
            “Bunda, Memei berangkat dulu ya. Kak Siti, nanti kalo udah pulang kita main game lagi ya. Assalamu’alaikum,” ucap Memei sambil mencium tanganku dengan polos.
            “Wa’alaikum salam,” jawabku dan ibu bersamaan.
            Aku mencium tangan ayah dan kak Tika dengan takzim. Mereka pun berangkat. Dengan sepeda motor yang sudah sedikit usang, ayah berangkat melewati jalan setapak  menuju sebuah Sekolah Dasar di perkampungan kumuh di pinggir hiruk-pikuk kota Banda Aceh. Sedangkan kak Tika mengantar Memei menuju Taman Kanak-Kanak dengan mengendarai sepeda sebelum menuju ke apotik dimana dia bekerja.
Kegiatan seperti ini memang telah menjadi kebiasaan bagi keluargaku. Mengarungi kerasnya kehidupan di kota Banda Aceh tanpa sedikitpun menyurutkan langkah mereka. Inilah kota kelahiranku. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk aktifitas penduduknya.

***
 Jam dinding berdetak memecah kesunyian pagi yang menjelang siang. Ibu sedang berada di rumah tetangga mengantarkan baju yang telah disetrikanya tadi malam. Adik perempuanku yang paling kecil juga ikut dibawanya. Ibuku adalah seorang tukang cuci dan tukang setrika. Dengan upah yang tidak seberapa itu, beliau telah turut membantu menopang nafkah keluarga selain ayah dan kakak tertuaku.
Terik matahari terasa semakin panas saat kurebahkan tubuhku diatas dipan panjang didekat jendela kamar tamu. Tanpa kupinta peluh ini keluar hingga membasahi baju kaus biru yang kukenakan. Pandanganku menerawang pada langit-langit rumah. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah lukisan kecil yang tergantung di atas dinding. Lukisan yang telah sedikit kusam karena usianya yang tidak lagi muda. Namun, lukisan itu adalah satu-satunya potret kebahagiaanku saat pertama kali aku memenangkan lomba menari tingkat Nasional mewakili sekolahku di Jakarta. Ya, aku sangat ingat saat itu.
Rekaman lima tahun silam masih erat melekat dalam ingatanku. Pikiranku kian membuncah sangat teringat wajah ayah dan ibu yang berbalut haru memelukku bahagia. Saat itu, aku dan teman-temanku berhasil meraih juara pertama dalam lomba menari tari tradisional Saman dari tanah kelahiranku. Aku tersenyum kecil membayangkan kenangan itu. Tapi sekarang aku harus terbangun dari kenangan indah di masa silam. Kekurangan ini membuatku harus mengubur rapat-rapat mimpiku.
Peristiwa naas itu masih terasa, saat aku menjadi korban tabrak lari sepeda motor lima tahun yang lalu. Hingga meninggalkan bekas berupa pergeseran pada tulang belakang punggungku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sampai saat ini ayah belum mampu mengobatiku karena uang yang tidak mencukupi. Beliau hanya bisa memberiku obat-obatan alami yang harus kuminum kala rasa sakitku kambuh kembali. Aku mengerti bagaimana penderitaan ayah. Beliau harus menanggung biaya hidup kami dengan gaji yang diterimanya yang hampir tidak cukup bila dibandingkan dengan kebutuhan kami. Tak terasa, hembusan angin sepoi-sepoi membelai lembut rambutku. Seolah ikut merasakan apa yang sedang  kurasakan di tengah terik matahari yang membakar kulit.
Selang beberapa menit kemudian, pikiranku buyar karena  bunyi derit pintu depan yang terbuka. Bang Imam masuk sembari mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam bang,”
“Mana bunda Ti?” tanya bang Imam.
“Oh, bunda lagi ke rumah tetangga sebelah bang nganterin baju yang baru selesai disetrika. Gimana penelitian abang tadi malam di kampung sebelah?” tanyaku dengan sedikit penasaran.
“Mm, nanti malam abang harus survei lagi, Ti. Belum selesai soalnya. Tadi malam ada kasus pencurian sapi di kampung sebelah. Untuk saja malingnya berhasil di tangkap oleh warga yang sedang berjaga malam. Jadi karena heboh dengan kasus itu, terpaksa penelitian yang abang rencanakan bersama teman-teman abang di sawah dibatalkan,” jelas bang Imam panjang lebar seraya mengambil tempat  diatas kursi kayu di depan TV.
            Aku hanya mengangguk mengerti. Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar. Ternyata ibu dan dek Ina pulang. Ina adalah adik bungsuku yang baru berumur dua tahun. Aku pun segera mencim tangan ibu dan membantu membawa bungkusan pakaian kotor dari tetangga sebelah.
            “Kamu udah pulang Mam. Gimana tadi malam, berhasil bang?” tanya ibuku dengan sapaan sayangnya pada bang Imam.
            Bang Imam kemudian menjelaskan dengan jawaban yang sama. Tampak raut kecewa jelas terpancar di wajahnya. Bang Imam adalah kakakku yang kedua. Beliau sedang berada di bangku kuliah menempuh studi di bidang pertanian. Sekarang beliau sedang berjuang mendapatkan gelar sarjana dengan melakukan penelitian di sawah kampung sebelah. Beliau melakukan penelitian tentang hama tikus yang sedang melanda kampung tersebut. Oleh sebab itu penelitiannya harus dilakukan pada malam hari.
            “Oh iya bang, kata kak Tika abang disuruh jemput dek Mei. Kakak pulang terlambat hari ini.” Bang Imam pun langsung mengerti dan meminta pamit pada ibu.

***
Cakrawala di ufuk barat telah melukis senja indahnya, pertanda malam telah datang menjelma. Burung-burung hilir mudik kembali ke sarangnya. Hanya pohon-pohon yang tetap berdiri dengan tegak, kokoh melawan alur angin dan lika-liku kehidupan. Kini Sang Pemilik Malam bersinar dengan gagahnya, menyapa setiap insan dunia dengan ronanya yang cerah dan bulat sempurna. Samar-samar terdengar alunan kalam syahdu Illahi di sebuah balai pengajian di seberang jalan. Alunan asma-Nya begitu merdu hingga mengalir ke dalam urat-urat nadi dan pembuluh darah. Kalam Illahi yang merajut asa mampu menggetarkan sanubari bagi siapa saja yang mendengarnya.
Aku terpaku dalam kebisuan di sudut kamar. Memandang langit kelam yang begitu terasa kehangatannya. Seolah ada sebuah lukisan indah di atas sana. Ocehan adik-adikku yang bermain dengan riangnya menjadi tanpa arti bagiku yang larut dalam lukisan duniaku sendiri.
Di ruang keluarga, tampak ayah dan ibu sedang berbincang-bincang sementara kak Tika juga duduk disamping mereka mendengarkan. Bang Imam begitu tampak serius di depan meja belajarnya. Menyusun rencana untuk penelitian yang akan dilakukan sebentar lagi di kampung sebelah. Sementara itu, Memei dan Ina tampak begitu bersemangat bermain bersama. Sesekali ocehan Ina mampu membuat penghuni rumah tertawa karena tingkahnya yang lucu.
 “Gimana yah? Jadi Pak Mail beli tanah kita yang 10 hektar itu?”
“Sebenarnya jadi bunda. Tapi setelah ayah pikir kembali, sebaiknya kita tidak menjual tanah itu. Tanah itu adalah satu-satunya warisan yang kita punya untuk anak-anak kita kelak. Ayah tidak mau menjualnya sekarang. Biarkan tanah itu menjadi warisan untuk anak-anak kita. Ayah akan memikirkan cara lain untuk membayar hutang-hutang kita,” ujar ayah dengan nada pasrah.
Seketika keadaan menjadi hening. Adik-adikku yang sedari tadi mengoceh ikut terdiam menatap ayah.
“Apanya yang dijual yah? Memei gak mau mainan Memei dan dek Ina dijual,” lontar Memei dengan nada polos dan cemberut.
“Hehehe, enggak kok nak,” jawab ayah sambil tersenyum.
Aku mengerti bagaimana kondisi keluargaku. Aku hanya bisa pasrah menerima kekuranganku. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin melanjutkan studiku hingga jenjang perkuliahan. Namun aku harus membuang mimpiku itu karena kondisiku yang seperti ini ditambah biaya yang tidak mendukung. Ingin rasanya aku turut membantu meringankan beban keluargaku. Namun kondisi yang serba terbatas ini telah menyurutkan langkahku. Tanpa sadar tetes demi tetes butiran bening jatuh dari sepasang bola mataku. Aku pun terhanyut dalam keharuan yang telah lama kupendam.

***
            Malam telah merayap berganti pagi yang datang menyapa. Samar-samar kumandang azan Shubuh terdengar dari sebuah surau. Namun, suara jangkrik masih terdengar jelas di pagi buta ini, bak tak ingin malam beranjak pergi. Aku terbangun. Lalu bergegas menuju sumur untuk berwudhu, bersimpuh pada-Nya. Air yang begitu dingin hingga merasuk kedalam tulang tidak mampu menghentikanku untuk bersujud pada Sang Pemilik Alam Semesta. Di kamar sebelah, terdengar suara ibu melantunkan ayat suci Al-Quran dengan merdunya. Pertanda ibu telah lebih dulu terbangun menghadap Illahi.
            Waktu kian berlalu. Suara hiruk pikuk kendaraan yang hilir mudik sudah semakin terdengar. Pagi kembali datang. Namun pagi ini tidak secerah kemarin. Matahari seolah sedang malas menerangi insan di bumi, hingga langit yang kelabu tampak jelas di atas sana.
            Seperti biasa aku membantu ibu membereskan perlengkapan adikku ke sekolah sementara beliau sedang memasak. Di waktu yang bersamaan, Ayah dan kak Tika sedang bersiap-siap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Sedangkan bang Imam terlambat pulang karena penelitiannya yang harus tertunda kemarin malam. Di sudut kamar, tampak Ina masih tertidur pulas.
Setelah semua berangkat, keadaan rumah kembali hening. Hanya ada suara detak jam dinding dan meongan kucing yang mengincar ikan yang sedang dibersihkan oleh ibu. Aku sedang membantu ibu memasak kuah lemak, masakan khas Aceh kesukaan keluargaku. Aku pun membuka pembicaraanku pada ibu.
“Bunda, bagaimana dengan hutang-hutang keluarga kita?” tanyaku dengan suara lirih.
Ibu tertegun dan menjawab, “tidak apa-apa nak. Ayahmu bukanlah orang yang suka menyerah. Pasti akan ada jalan untuk itu. Yang penting Siti tenang aja ya,” ujar ibu meyakinkanku.
“Bunda, jangan terlalu dipikirkan masalah kekurangan Siti. Siti gak papa kok bunda,” sahutku spontan dan berusaha tersenyum.
Siti sayang, kan sudah beberapa kali bunda bilang. Yang kita butuhkan tidak langsung datang begitu saja. Dia akan datang saat Allah telah menetapkannya. Makanya kita harus bersabar menjalankan itu dan tetap berpikir positif terhadap-Nya,” jelas ibuku dengan bijak.
Aku terdiam seribu bahasa. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa kulontarkan. Aku benar-benar takjub dengan jawaban ibu. Beliau begitu tegar dan mampu membawa suasana menjadi tenang dibalik kesabaran menghadapi masalah yang sedang melanda keluarganya.

***
            Senja mulai turun menggantikan siang yang kelabu. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru. Awan kelabu berarak ceria mengantarkan sang Raja Merah keperaduannya. Menumpahkan butiran hujan yang telah lama tersimpan di ujung sana. Burung-burung melintas cepat meghadang gerimis hujan yang menghalau.  Di dapur, ibu dan kak Tika sedang membuat pisang goreng untuk keluarga. Suasananya benar-benar mendukung dengan cuaca hujan berselimut dingin.
            Di teras depan rumah, ayah dan bang Imam sedang menyeruput teh jahe yang masih hangat. Aku duduk disamping ayah. Ikut mendengarkan pembicaraan mereka sembari memijat pundak ayah yang terlihat letih. Sementara Ina dan Memei sedang menonton TV sambil memakan pisang goreng buatan ibu dan kak Tika. Tak tampak kesedihan terpancar di mata mereka. Mereka tertawa dan bercanda dengan riang gembira.
            “Ti, minggu depan kita ke rumah sakit ya,” ajak ayah membuka pembicaraaan.
            “Untuk apa yah?” tanyaku heran.
            “Lho, kok untuk apa nak? Ayah kan udah janji mau bawa kamu ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi  tulang punggungmu,” jelas ayah sambil tersenyum.
            Aku terkejut. Sontak jemariku yang sedang meremas-remas pundak ayah bergetar dan berhenti memijat. Dadaku sesak. Seolah ada sesuatu yang menembus pembuluh darah dan urat-urat nadiku hingga aku terdiam tak berkutik. Kerongkonganku seperti tercekat hingga tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Aku pun memeluk ayah dengan seerat yang kubisa. Keharuan menyergap dalam batinku. Tak terasa airmata ini menetes bersamaan dengan butiran air hujan. Susana rumah menjadi haru. Ibu dan kak Tika yang sedari tadi berdiri di depan pintu ikut menitikkan airmata. Suatu senja kelabu yang telah menggurat sebuah kebahagiaan. Terima kasih ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar